Nuh dan air bah global: Pengantar (1)

Untuk menggali kisah Nuh, kita akan mulai terlebih dahulu dengan konteks geografis yang lebih luas dari kisah ini, yaitu sungai Eufrat dan Tigris di peradaban Mesopotamia kuno.

Apa yang dinamai dengan Revolusi Neolitik, yaitu ketika sebagian umat manusia beralih dari kehidupan pemburu-pengumpul (hunter-gatherer) ke masyarakat berbasis agraria, dimulai sekitar 10 ribu tahun yang lalu di daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent), yaitu daerah yang meliputi Mesopotamia (sekitar sungai Eufrat dan Tigris; Irak saat ini), Levant (Siria/Israel/Palestina/Lebanon/Yordan saat ini), dan delta sungai Nil (Mesir saat ini). Karena itu daerah ini juga sering disebut tempat lahir peradaban (cradle of civilization).

Di sini domestikasi tanaman pertama kali terjadi, yang memungkinkan untuk manusia menetap di satu tempat tanpa berpindah-pindah, memulai proses spesialisasi pekerjaan (division of labor; tidak perlu semua orang untuk mengusahakan tanah, sebagian bisa mengerjakan hal yang lain; walau hal ini tidak berarti kualitas hidup masyarakat agraria serta-merta lebih baik daripada masyarakat pemburu-pengumpul), pembedaan kelas sosial, dan akhirnya membentuk kerajaan-kerajaan (dan agama-agama non-animistik/dinamistik). The rest, *literally*, is history (berhubung dari peradaban-peradaban kuno ini jugalah mulai muncul sistem tulisan, yang awalnya pada dasarnya bertujuan untuk administrasi persediaan makanan).

Peradaban-peradaban perdana ini (yang kemudian muncul bukan di daerah Bulan Sabit Subur saja, namun juga di tempat-tempat lain seperti di Cina, Amerika Tengah/Selatan, dst.) pada umumnya terletak di dekat sungai, untuk alasan yang sederhana yaitu tanah yang subur dan irigasi/pengairan tanaman. Namun, di sisi lain, tinggal di dekat sungai juga memiliki resiko, yaitu banjir.

Peradaban di Mesopotamia kuno (Sumeria) sendiri ditunjang oleh sungai Eufrat dan Tigris, dan, berbeda dengan pola banjir sungai Nil yang rutin dan lebih dapat diprediksi, pola banjir di sungai Eufrat dan Tigris lebih acak dan tidak dapat diprediksi. Pengalaman-pengalaman banjir di Sumeria seperti inilah yang mungkin menjadi dasar munculnya kisah Utnapisytim dalam Epik Gilgamesh, yaitu kisah yang menceritakan seseorang yang bernama Utnapisytim yang ditugaskan oleh ilah Enki/Ea untuk membuat sebuah bahtera besar supaya ia dan keluarganya dapat selamat dari air bah besar yang sebentar lagi akan melanda seluruh bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s