Nuh dan air bah global: Kisah Utnapisytim (2)

Utnapisytim adalah seorang karakter di Epik Gilgames, yaitu puisi epik dari Mesopotamia kuno dan salah satu karya literatur paling tua yang kita miliki saat ini. Epik ini ditulis kira-kira pada akhir milenium ke-3 SM pada masa dinasti Ur III (Sumeria) yang bercerita tentang seorang pahlawan, Gilgames, raja Uruk (kota yang dekat dengan Ur-Kasdim, asal Abraham).

Epik ini menceritakan petualangan Gilgames, raja Uruk yang tidak terlalu disukai oleh rakyatnya. Mereka mengeluh kepada ilah Anu, yang meresponi keluhan ini dengan menciptakan Enkidu, dengan tujuan agar Enkidu dapat menjadi musuh bebuyutan Gilgames dan mengalihkan perhatiannya agar Gilgames tidak menindas rakyatnya.

Namun, yang terjadi setelah Enkidu bertarung dengan Gilgames adalah sebaliknya. Mereka berdua malah menjadi sahabat dan bertualang bersama-sama. Dalam petualangan mereka, kegagahan Gilgames menarik perhatian ilah Ishtar, yang mencoba melamarnya. Gilgames menolaknya, dan Ishtar pun mengadu kepada ayahnya, yaitu Anu (!), supaya Anu balas dendam. Anu tidak ingin membunuh Gilgames, karena itu ia menghukumnya dengan membunuh Enkidu (yang diciptakannya).

Gilgames pun sangat terpukul dengan kematian Enkidu. Ia bukan saja kehilangan sahabatnya, namun sekarang ia juga menyadari bahwa ia pun bisa mati seperti Enkidu. Karena itu Gilgames memulai perjalanannya untuk menemukan rahasia hidup kekal, dan salah satu orang yang ditemuinya adalah Utnapisytim, satu-satunya orang yang tidak pernah merasakan kematian, yaitu karena ia pernah selamat dari air bah yang besar. Begini kisahnya.

Pada jaman dahulu kala, ilah-ilah memutuskan untuk mengirimkan air bah untuk memusnahkan manusia. Namun, ada satu ilah, yaitu Enki/Ea, yang membocorkan rencana ini kepada Utnapisytim. Ea menyuruh Utnapisytim untuk membangun sebuah bahtera yang berbentuk kubus yang besar untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya dan hewan-hewan di bumi.

Setelah menyelesaikan bahtera ini dalam 7 hari, Utnapisytim beserta keluarganya dan hewan-hewan ini masuk ke dalam bahtera, dan hujan lebat pun mulai turun. Hujan dan badai ini berlangsung selama 7 hari, dan bahtera ini sampai ke gunung Nimush.

Utnapisytim kemudian melepaskan beberapa ekor burung untuk mengecek apakah sudah ada tanah kering di bumi. Pertama, burung merpati, kembali. Kedua, burung layang-layang, kembali. Ketiga, burung gagak, tidak kembali, yang menunjukkan bahwa sudah ada tanah kering.

Utnapisytim turun dari bahtera, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mendirikan mezbah dan memberikan persembahan kepada ilah-ilah, yang menyenangkan hati ilah-ilah yang sudah lapar oleh karena sudah lama tidak menerima persembahan dari manusia (yang disebabkan oleh perbuatan ilah-ilah itu sendiri).

Di sisi lain, awalnya Ea dihukum oleh ilah Enlil karena telah membocorkan rencana ini ke Utnapisytim, tapi pada akhirnya Ea berhasil menenangkan Enlil, dan bahkan Enlil pada akhirnya mengaruniakan keabadian kepada Utnapisytim.

Dari sini, cukup jelas bahwa kisah ini memiliki berbagai kemiripan bahkan sampai level yang detil dengan kisah Nuh (walau tentunya ada berbagai perbedaan juga), dan selanjutnya kita akan mengulas bagaimana sepatutnya kita membandingkan dan membaca kedua kisah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s