Kejadian 1-11 dan Mitos Purbakala

Kata ‘mitos’ saat ini seringkali lebih diartikan sebagai keyakinan yang dipegang oleh sebagian orang namun sebenarnya tidak ada dasarnya atau salah. Contoh penggunaan mitos dalam arti ini, misalnya, ‘bahwa bentuk perut ibu hamil menandai jenis kelamin bayi itu adalah mitos.’ (ya, ini mitos) Padahal kata ‘mitos’ memiliki arti yang lain, yaitu kisah-kisah tradisional yang biasanya menyangkut asal muasal suatu peradaban tertentu, dimana mitos-mitos ini berusaha untuk menjelaskan fenomena-fenomena alam atau sosial yang fundamental soal peradaban tersebut, dan biasanya melibatkan ilah-ilah.

Mitos-mitos bisa saja (namun tidak mesti) didasari oleh kejadian yang historis atau fenomena alam yang nyata, namun biasanya diceritakan ulang lewat kejadian-kejadian yang supranatural dan hiperbolik. Dan, yang paling penting untuk kita catat adalah, kebenaran dari mitos-mitos ini tidak tergantung dari apakah ia didasari oleh kejadian yang historis atau bukan, secara sederhana karena mitos-mitos ini memang tidak dimaksudkan untuk dibaca sebagai sejarah sebagaimana yang kita pahami saat ini.

Mitos/legenda Sangkuriang (yang, interestingly, mirip dengan kisah Oedipus di mitologi Yunani), misalnya, bertujuan untuk menjelaskan asal muasal gunung Tangkuban Perahu, gunung Burangrang dan gunung Bukit Tunggul (i.e., mitos penciptaan lokal). Tidak relevan untuk bertanya apakah kisah Sangkuriang terjadi atau tidak (walau kemungkinan besar tidak). Bukan itu poinnya. Selain berfungsi sebagai mitos penciptaan lokal, mitos ini juga bertujuan untuk menjelaskan filosofi hidup orang Sunda lewat simbolisme-simbolisme yang diwakili oleh karakter-karakter mitos tersebut (salah satu pesan moralnya, mungkin: jangan kesiangan!).

Yang juga menarik dari mitos ini adalah referensi ke sebuah danau (yang mesti dibuat oleh Sangkuriang dengan membangun tanggul di sungai Citarum) dalam kisah tersebut. Dahulu kala, apa yang menjadi kota Bandung dan sekitarnya sekarang memang adalah sebuah danau yang terbentuk sekitar 100-125 ribu tahun yang lalu. Namun danau tersebut mengering sekitar 12-20 ribu tahun yang lalu. Karena itu, jika danau dalam kisah Sangkuriang ini memang merujuk kepada danau Bandung purba, hal ini berarti bahwa mitos ini mengandung memori yang sangat kuno dari orang Sunda purba, yang diwariskan secara turun-temurun lewat lisan sampai baru dituliskan di abad ke-15 Masehi. Tentunya, ketika kisah itu ditulis untuk pertama kali (dan seterusnya), kisah tersebut telah (dan akan) mengalami perubahan di sana sini dari versi awal kisah ini (yang entah apa itu), dan akan ada elemen-elemen yang anakronistik (tidak sesuai dengan masanya), misalnya, di beberapa versi kisah ini, settingnya adalah kerajaan, padahal kerajaan belum ada saat itu.

Setiap peradaban memiliki mitologi yang menjadi dasar dari peradaban mereka. Dan, dalam peradaban bangsa Israel kuno, mitos purbakala (primordial myth) ini kita temukan di Kejadian 1-11. Dalam kitab Kejadian, ada semacam pivot antara Kejadian 11 dan 12. Jika sebelumnya Allah berurusan dengan ciptaanNya dalam skala global (termasuk dalam kisah Nuh), setelahnya Allah berelasi dengan ciptaanNya dalam skala lokal, yaitu dimulai dengan Abraham dan keluarganya. Serupa dengan di atas, pertanyaan yang lebih tepat ketika kita membaca kisah-kisah ini bukan ‘apakah kisah-kisah ini sungguh-sungguh terjadi?’ namun lebih ke ‘pesan apa yang ingin disampaikan lewat mitos-mitos ini tentang Tuhan, manusia dan alam semesta?’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s