Babel dan Penyebaran Manusia

Pertanyaan yang lebih sesuai ketika kita membaca sebuah mitos adalah ‘fenomena-fenomena alam atau sosial apakah yang berusaha untuk dijelaskan oleh mitos ini?’, atau yang biasa disebut dengan pendekatan etiologi (aitia = sebab). Contoh yang kita sempat bahas sebelumnya adalah mitos Sangkuriang, yang bertujuan untuk menjelaskan asal mula dari gunung Tangkuban Perahu. Kita akan menggunakan pendekatan yang sama untuk mengulas mitos-mitos purbakala dalam Kejadian 1-11, yang kita akan mulai dengan kisah Babel (Kej 11:1-9).

Kisah Babel cukup familiar bagi kebanyakan umat Kristiani. Umat manusia, satu bahasa dan satu logatnya, menetap di satu tempat dan membangun menara yang tinggi, dan Tuhan menyerakkan mereka ke seluruh bumi dan mengacaubalaukan bahasa mereka.

Cukup jelas fenomena apa yang menjadi dasar dari kisah ini, yaitu kenyataan bahwa manusia memang hidup tersebar-sebar di bumi dan memiliki bahasa yang berbeda-beda. Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologi yang kita miliki sekarang, hipotesa yang paling umum diterima (yang tentunya masih bisa berubah detilnya jika ada penemuan-penemuan yang baru) untuk proses penyebaran Homo Sapiens (salah satu kecenderungan hubristik kita sebagai Homo Sapiens: menyebut dirinya dengan Homo Sapiens, manusia yang bijak) adalah kira-kira sebagai berikut. Homo Sapiens berasal dari Afrika Timur dan menyebar ke seluruh Afrika sekitar 150-200 ribu tahun yang lalu, kemudian keluar dari Afrika sekitar 70-100 ribu tahun yang lalu, mencapai berbagai belahan bumi yang lain (Eropa: 40-50 ribu tahun yang lalu, Australasia: 50-65 ribu tahun yang lalu, Amerika: 15-30 ribu tahun yang lalu, dengan Selandia Baru menjadi salah satu daerah yang paling akhir dihuni oleh manusia, yaitu sekitar 800 tahun yang lalu saja) dan kemudian membentuk bahasa yang berbeda-beda. Ada beberapa detil yang berbeda dan variasi penanggalan dalam hipotesa ini, namun secara umum gambaran besarnya seperti itu. Tentunya, penulis-penulis dan redaktur-redaktur kitab Kejadian tidak memiliki segala pengetahuan ini, dan karena itu *salah kaprah* jika kita berusaha untuk membandingkan kisah Babel ini dengan hipotesa penyebaran manusia berdasarkan penemuan arkeologi modern.

Maksud kisah Babel lebih untuk menjelaskan secara *teologis* mengapa manusia tersebar di seluruh bumi dan memiliki bahasa yang berbeda-beda. Yang menarik adalah, ketika turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta memutarbalikkan apa yang terjadi pada kisah Babel (Kis 2:1-11), kita tidak menemukan kembalinya manusia kepada satu bahasa yang sama. Yang kita temukan adalah setiap orang mendengarkan rasul-rasul itu berkata dalam bahasa mereka masing-masing. Keberagaman bahasa dirayakan. Yang membedakan adalah adanya pengertian terhadap bahasa-bahasa tersebut. Pentakosta menjadi cicipan realita yang akan datang di langit dan bumi yang baru, dimana umat manusia dari segala suku bangsa dan bahasa akan menyembah Allah. Karena itu, yang dikritik di kisah Babel ini bukan ketersebaran manusia dan keberagaman bahasa itu sendiri, namun lebih ke usaha manusia untuk menjadi seragam dan tidak terserak ke seluruh bumi (yang melawan kodratnya untuk memenuhi seluruh bumi seperti yang diperintahkan Allah di Kejadian 1). Keberagaman pada dasarnya bukan masalah, yang menjadi masalah adalah ketika manusia berusaha untuk menyeragamkan segala keberagaman yang ada dengan mengatasnamakan ke-‘satu’-an.

Kritik teologis-sosial-politik ini mungkin mengisyaratkan bahwa kisah ini sebenarnya berfungsi untuk mengkritik hegemoni kerajaan *Babel*, kerajaan yang menguasai daerah Mesopotamia pada abad 6-7 SM dan yang meruntuhkan kerajaan Yehuda dan membuang sebagian penduduknya ke Babel. Menara Babel yang dimaksud di sini kemungkinan merujuk kepada zigurat yang terdapat di kota Babel. Dengan demikian, salah satu pesan kisah ini adalah walaupun sekarang ini tampaknya kerajaan Babel yang berkuasa sementara kerajaan Yehuda porak-poranda, pada akhirnya kerajaan tersebut akan runtuh juga. Penulis bahkan berani meledek kerajaan Babel, dimana namanya diplesetkan/dikacaubalaukan dari Babel menjadi balal yang berarti campur aduk/kacau balau (Kej 11:9). Kisah ini akan memberikan pengharapan bagi bangsa Yehuda yang berada di pembuangan, yang mungkin merasa bahwa Allah telah meninggalkan mereka saat itu. Kisah yang sama juga menjadi peringatan bagi proyek-proyek Babel modern sampai sekarang. Proyek-proyek hubristik dimana manusia berusaha untuk meninggikan dirinya menjadi tuhan (termasuk di gereja!) pada akhirnya akan runtuh.

Terakhir, konteks kerajaan Babel ini menunjukkan anakronisme – lainmasa – dari kisah ini. Kisah ini memiliki setting purbakala, sebelum manusia tersebar ke seluruh bumi, namun juga mengikutsertakan elemen-elemen yang baru ada di jaman kerajaan Babel. Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini, terlepas dari settingnya pada jaman purbakala, kemungkinan besar baru mencapai bentuk akhirnya pada atau setelah masa pembuangan Babel. Anakronisme seperti ini cukup umum dan tidak perlu dikhawatirkan. Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini memang tidak bertujuan untuk dibaca sebagai sejarah sebagaimana yang kita mengerti saat ini. Pada dasarnya yang terjadi adalah penulis/redaktur kisah tersebut menggunakan setting jaman purbakala tersebut sebagai konteks peristiwa jamannya. Kita akan melihat anakronisme yang serupa pada kisah Nuh dalam wujud hewan yang haram dan tidak haram (klasifikasi yang baru ada pada jaman Musa!), yaitu kisah yang akan kita kupas di tulisan selanjutnya: Nuh dan air bah global.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s