Alkitab: Inspirasi, Akomodasi dan Inkarnasi

Sebagian ‘ketegangan’ antara sains dan iman, jika dirunutkan ke akarnya, sebenarnya disebabkan oleh cara pandang yang keliru mengenai natur Alkitab itu sendiri. Kita mengakui Alkitab sebagai Firman Allah yang ditulis oleh manusia. Namun, secara praktis, seringkali natur Alkitab sebagai ‘Firman Allah’ saja yang ditekankan, sementara naturnya sebagai teks ‘yang ditulis oleh manusia’ dikesampingkan.

Alkitab sebagai Kitab Suci bukan berarti Alkitab adalah kitab yang turun dari langit, dimana setiap kita menerima begitu saja teks Alkitab langsung dari Allah. Proses penulisan kitab-kitab di Alkitab secara keseluruhan setidaknya membutuhkan waktu ratusan tahun dengan puluhan atau lebih penulis dan redaktur. Ketika kita berkata bahwa Alkitab “diilhamkan Allah” (2 Tim 3:16, theopneustos, lit. God-breathed), hal ini tidak berarti penulis-penulis ataupun redaktur-redaktur Alkitab dirasuki oleh roh Allah dan kehilangan kontrol atas diri mereka. Hal ini juga tidak berarti penulis-penulis Alkitab hanya mendiktekan apa yang mereka dengar dari Allah. Sebaliknya, penulis-penulis Alkitab sepenuhnya menyadari apa yang mereka tulis dan terlibat sepenuhnya dalam proses penulisan tersebut.

Hal ini berarti bahwa Alkitab ditulis dengan segala konteks cara pandang penulisnya saat itu. Alkitab bukanlah kitab yang asing bagi para pembacanya mula-mula, justru Alkitab adalah kitab yang akan familiar (namun subversif!) dengan jamannya. Calvin menyebut ini sebagai akomodasi ilahi, dimana Allah, yang tidak dapat dimengerti, berkomunikasi dengan manusia dengan cara yang manusia dapat mengerti. Sementara Enns menyebut ini sebagai Alkitab yang inkarnasional, seperti Yesus yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Yesus lahir dan hidup sebagai manusia keturunan Yahudi yang tinggal di tanah Palestina abad pertama. Ia tidak datang sebagai manusia dari Amerika Serikat abad ke-21 yang masuk ke abad pertama. Serupa dengan itu, Alkitab bukanlah buku dengan cara pandang abad ke-21. Kitab-kitab di Alkitab ditulis dengan konteks cara pandang setiap jaman kitab itu ditulis. Justru menjadi aneh jika kita, misalnya, menemukan adanya tenaga listrik di Alkitab, secara sederhana karena tenaga listrik belum ditemukan saat berbagai kitab itu ditulis. Karena itu, jika kita menemukan bahwa kosmologi yang digunakan dalam Perjanjian Lama adalah bumi yang datar dan menjadi pusat tata surya, hal ini tidak berarti bahwa Alkitab itu salah (atau sebaliknya, bahwa kita mesti membela mati-matian bahwa bumi itu datar). Hal ini hanya berarti bahwa Alkitab memang produk jamannya dan menggunakan asumsi-asumsi saintifik pada jaman tersebut.

Alkitab dihormati justru jika kita menempatkan berbagai kitab di dalamnya sesuai dengan jamannya masing-masing. Sebagai pembaca modern, kita tidak bisa menghindari membaca Alkitab seturut kacamata kita dari abad ke-21. Namun, sebisa mungkin kita harus berusaha untuk membaca setiap kitab dalamnya sesuai dengan konteks jaman kitab itu ditulis, dimana hal ini termasuk teks-teks peradaban lain yang ditulis pada kurun waktu yang serupa. Selanjutnya, kita akan melihat bagaimana pola pandangan seperti ini memengaruhi bagaimana kita memaknai apa yang boleh kita sebut sebagai narasi-narasi purbakala dalam kitab Kejadian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s