Lebih dari sekedar tidak melanggar

Pertanyaan “boleh nggak boleh” mungkin termasuk pertanyaan yang cukup umum kita dengar. Entah mengapa, pertanyaan ini sangatlah populer dalam memandu hidup beretika kita. Sesungguhnya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan satu-satunya yang perlu kita tanyakan. Bahkan, mungkin pula sebenarnya pertanyaan ini telah menempati posisi yang lebih tinggi dari semestinya.

Saya sendiri suka menjawab demikian jika saya dihadapkan dengan pertanyaan ini: bahwa selain “boleh nggak boleh”, kita juga perlu menanyakan pertanyaan-pertanyaan lain seperti “tepat tidak tepat”, “perlu tidak perlu”, “berguna tidak berguna”, “membangun tidak membangun”, etc. Pada dasarnya, etika kristiani itu multi-faset dan karena itu tidak dapat direduksi menjadi sekedar “boleh tidak boleh.”

Misalnya, salah satu bentuk etika yang paling saya suka adalah etika relasional à la Paulus yang mengutamakan kepentingan orang lain di atas diri sendiri. Hal ini mungkin terkesan klise dan seperti yang diajarkan oleh pelajaran PPKN, namun sesungguhnya kita banyak menemukan bagaimana rasul Paulus rela mengorbankan berbagai privilese yang ia miliki demi kepentingan orang lain. Bersedia merugi, agar yang lain dapat untung. Dalam menentukan keputusan etikanya, manusia bukanlah makhluk atomistik yang independen dari yang lain dan dengan demikian hanya berurusan dengan tuhannya, namun juga betapa tiap tutur tatanya dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain.

Atau, bentuk etika lainnya, yang boleh kita sebut sebagai etika ciptaan baru. Hidup yang bukan sekedar asal tidak melanggar hukum, namun juga berupaya untuk hidup sesuai dengan natur kita sebagai manusia di dalam Kristus — manusia yang telah mengenakan Kristus (Gal 3.27). Contohnya, misalnya, di Ef 4.28, dimana “orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Di sini kita tidak berhenti dari mencuri menjadi sekedar tidak mencuri lagi, namun lebih dari itu. Baiklah kita juga bekerja keras, dan bahkan juga berbagi kepada yang berkekurangan. Di sini kita melihat transformasi dari mencuri, yang notabene berarti mengambil, menjadi memberi.

Atau ayat selanjutnya, dimana “janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Ef 4.29) Transformasi yang serupa juga nampak di sini. Dari ada perkataan kotor, bukan sampai menjadi tidak ada perkataan kotor lagi saja, namun juga lebih dari itu, yaitu sampai menjadi perkataan yang baik, yang bahkan orang-orang yang mendengar pun beroleh kasih karunia.

Seorang akademisi Perjanjian Baru, Tom Wright, memberikan ilustrasi yang sangat baik dan berkesan buat saya mengenai hal ini. Ia mengumpamakan hidup kita ibarat seseorang yang sedang mengemudi di jalan raya. Dan berbagai macam peraturan dan rambu jalan itu adalah berbagai macam hukum dan peraturan yang mengatur hidup kita, baik itu hukum sosial, negara, maupun agama. Tujuan kita mengemudi bukanlah untuk sekedar tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, namun untuk mengemudi dengan baik. Kita menyetir bukan sekedar untuk tidak ditangkap oleh polisi, namun agar kita berkontribusi pada lalu lintas yang aman dan nyaman untuk ditempuh (walau, tentunya, di Indonesia kita bisa ditangkap tanpa alasan yang valid). Pengetahuan mengenai rambu-rambu ini tetap perlu, namun rambu-rambu ini tidak mengontrol dan mengekang bagaimana kita menyetir. Lagipula, sekiranya kita menyetir dengan baik, adakah hukum yang melawan hal tersebut (bdk. Gal 5.23)?

Berbagai macam pendekatan etika alternatif ini mungkin dapat menolong kita untuk mencoba mengkritisi pendekatan-pendekatan etika kita selama ini, dengan pendekatan “boleh tidak boleh” termasuk di dalamnya. Pertanyaan “boleh tidak boleh” itu mungkin sederhana dan mudah ditanyakan. Namun pertanyaan ini juga cenderung simplistik, dan tidak akan membawa kita kemana-mana.

3 thoughts on “Lebih dari sekedar tidak melanggar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s