Mengenai kitab Daniel (2)

Di sisi lain, implikasinya adalah kita bisa lebih leluasa dalam menghubungkan berbagai hal yang terjadi di kitab Daniel dengan kejadian sejarah di era penulisan kitab ini. Misalnya, sekitar abad ke-2 SM. Dengan mencoba menghubungkan berbagai hal yang tertulis di kitab Daniel dengan kejadian sejarah di era penulisan kitab ini, kita akan dapat lebih menghargai berbagai macam nuansa di kitab ini.

Misalnya mengenai beberapa kejadian di Daniel 1 yang sebenarnya dapat disandingkan dengan berbagai hal yang dialami oleh bangsa Israel di bawah penjajahan kerajaan Yunani. Daniel dan ketiga kawannya bekerja dalam istana raja dan karena itu makanan bagi mereka pun ditetapkan oleh raja. Masalahnya adalah makanan ini tidak sesuai dengan ketentuan makanan umat Israel dan karena itu Daniel dan ketiga temannya menolak untuk makan dengan santapan raja ini agar mereka tidak menajiskan diri mereka.

Di sisi lain, Daniel dan ketiga temannya diberi nama lain dan juga belajar tulisan dan bahasa orang Kasdim. Nama mereka sekarang mengandung nama-nama dewa Babel dan, seperti yang telah ditulis oleh berbagai akademisi, belajar tulisan dan bahasa orang Kasdim tidak sepenuhnya ‘sekuler’, namun pasti mengandung pula berbagai macam spiritualitas orang Kasdim, karena saat itu yang ‘sekuler’ tidak bisa dipisahkan dengan yang ‘spiritual.’

Karena itu di sini kita menemukan sebuah dilema: di satu sisi Daniel dapat mengakomodasi berbagai elemen budaya Babel dan di sisi lain ada beberapa yang ia tolak. Apa batasannya?

Dan dilema semacam inilah yang dihadapi oleh bangsa Israel di sekitar abad ke-2 SM. Mereka berada di bawah jajahan kerajaan Yunani dan seorang rajanya memaksakan asimilasi budaya Yunani sepenuhnya terhadap bangsa Israel. Celaka, tentunya. Hal-hal apa sajakah yang bangsa Israel dapat akomodasikan dan mana yang tidak? Dalam kelanjutannya, ada beberapa hal yang mengkristal dan menjadi ciri khas bangsa Israel jika dibandingkan dengan bangsa lain: sunat, perayaan hari Sabat, dan makanan. Ya, makanan, satu hal yang menjadi isu di kitab Daniel.

Di sisi lain, kita juga menemukan beberapa hal yang dapat diakomodasi oleh bangsa Israel. Mengenai nama, misalnya, kita menemukan banyak orang Yahudi yang bersedia untuk memiliki nama alias Yunani, misalnya Paulus (versi Ibrani: Saul), Silvanus (versi Ibrani: Silas), Yohanes (versi Ibrani: Yohanan), Yesus (versi Ibrani: Yosua), dsb. Atau, mengenai pembelajaran, dimana kita juga menemukan banyak orang Yahudi yang bersedia untuk belajar tradisi filosofi Yunani-Romawi. Contohnya lagi-lagi Paulus (Kis 17, misalnya). Dan disini kita menemukan potret yang konsisten dengan kitab Daniel: tidak ada masalah dengan nama maupun ilmu.

Ini merupakan sedikit contoh bagaimana kitab Daniel mempengaruhi bagaimana umat Israel mengkonstruksikan identitasnya sebagai umat pilihan Allah jika ditinjau dari sudut latar belakang sejarah kitab ini ditulis. Kitab Daniel ini membantu umat Israel dalam menjawab pertanyaan, ‘Apa artinya untuk menjadi umat Allah yang setia terhadap perjanjian dengan Allahnya di tengah pengaruh budaya asing yang mungkin mengancam eksistensi umat Allah ini?’

Dan, jika memang kitab Daniel baru ditulis pada abad ke-2 SM, mengapa sang penulis perlu menggunakan seorang tokoh historis yang bernama Daniel untuk menyampaikan pesannya? Tentunya, karena metode seperti ini lebih powerful ketimbang ia menggunakan dirinya sendiri yang mungkin tidak dikenal. Tradisi mengenai figur Daniel sebagai orang Israel yang benar, berhikmat, dan setia sudah kuat dan karena itu lebih mudah untuk menggunakan figur Daniel ini untuk menguatkan orang Israel saat itu agar mengikut teladan yang serupa.

Hal ini serupa pula dengan bagaimana penulis berbagai macam literatur kristiani di abad ke-2 atau ke-3 Masehi yang berisikan kisah-kisah mengenai Yesus dan rasul-rasul yang cukup imajinatif. Hal ini juga tidak serta-merta harus dianggap negatif, karena tujuan dari penulis-penulis ini adalah untuk pembinaan jemaat pula sebenarnya. Mereka ingin mengajar pokok-pokok pengajaran tertentu dan medium yang dipilih adalah menggunakan figur Yesus dan rasul-rasul, karena figur-figur ini memang sudah inspiratif dan karena itu patut ditiru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s