Mengenai kitab Daniel (1)

Sebelumnya aku pernah menulis bahwa sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika kitab Daniel baru ditulis pada abad ke-2 SM setelah Israel dijajah oleh bangsa Yunani dan dihelenisasi di bawah Antiokhus Epifanes IV (mungkin berguna untuk membaca post yang bersangkutan sebelum membaca post ini).

Satu sanggahan yang cukup umum terhadap penanggalan yang telat terhadap kitab Daniel ini adalah bahwa ketiadaan nabi lagi di Israel setelah Zakharia-Maleakhi. Mengenai hal ini kita dapat mengetahuinya dari penulis 1 Makabe (yang ditulis kurang lebih tahun 100 SM), yang melukiskan ketiadaan nabi di jamannya: “Maka terjadilah keimpitan besar di Israel sebagaimana belum pernah terjadi sejak tiada nabi lagi tampak oleh mereka.” (1 Mak 9.27) Hal ini dihubungkan dengan asumsi bahwa yang menulis kitab adalah nabi-nabi dan karena itu tidak mungkin kitab Daniel ditulis jauh setelah Daniel sendiri meninggal dunia.

Namun asumsi seperti ini tidak sepenuhnya akurat. Ketika penulis-penulis di Perjanjian Baru berbicara mengenai ‘nabi-nabi’, hal ini tidak mengindikasikan bahwa yang menulis kitab-kitab di Perjanjian Lama pastilah nabi-nabi, namun sekedar ingin menyampaikan bagaimana berbagai kitab ini menyuarakan suara dan mewarisi tradisi kenabian dari nabi-nabi ini. Di Perjanjian Lama sendiri kita menemukan bagaimana Barukh menjadi juru tulis bagi nabi Yeremia (Yer 36).

Yang serupa dengan berbagai kitab di Perjanjian Baru, dimana salah satu kriteria kanonitasnya adalah kerasulannya (apostolisitas). Namun hal ini bukan berarti berbagai kitab di Perjanjian Baru harus ditulis oleh rasul itu sendiri, namun juga bisa berarti kitab-kitab ini mewarisi tradisi kerasulan yang sejati dari rasul tersebut.

Kitab Daniel sendiri tidak dimasukkan ke dalam golongan kitab nabi-nabi dalam kitab suci Ibrani. Kitab Daniel digolongkan serupa dengan ‘tulisan-tulisan lain’, seperti Mazmur, Amsal, Ayub, dst. Hal inilah yang membuat berbagai macam isi di kitab Daniel menjadi tidak sederhana untuk dimengerti. Banyak pertanyaan yang muncul dan dapat kita tanyakan.

Apakah berbagai ‘nubuat’ di dalam kitab Daniel harus dimengerti sebagai nubuat atau bukan? Mengapa berbagai ‘nubuat’ ini dikisahkan dengan genre literatur apokaliptik (berkaitan dengan akhir jaman/jaman yang baru) di bagian-bagian kitab ini? Bagaimanakah genre apokaliptik sendiri sepatutnya mempengaruhi kita di dalam membaca berbagai nubuat ini? Dalam relasinya dengan Perjanjian Baru, bagaimana kitab Daniel dapat membantu kita di dalam membaca kitab Wahyu? Dan, jika konten nubuat tidak mesti dibaca sebagai nubuat, bagaimana dengan konten sejarah di dalam kitab Daniel?

Bagaimanapun juga, tradisi mengenai figur Daniel sendiri sudah ada at least sejak era pembuangan ke Babel, karena Yehezkiel mencatat beberapa kali mengenai Daniel (Yeh 14.13-20, 28.3). Dan di 1 Makabe sendiri dicatat bagaimana Daniel dilepaskan dari moncong singa oleh karena kelurusan hatinya. Dan, for what matters, tiga kawannya diselamatkan dari nyala api oleh karena percaya (1 Mak 2.59-60). Karena itu tradisi mengenai figur Daniel sudah sangat kuat di abad ke-2 SM. Dan, mengingat jarak antara figur Daniel dan Yehezkiel yang tidak terlalu jauh dalam sejarah, mungkin cukup aman untuk meyakini bahwa Daniel adalah seorang tokoh yang historis. Namun, lanjutan dari berbagai pertanyaan sebelumnya, sejauh mana konten yang ‘sejarah’ di dalam kitab ini benar-benar ‘sejarah’?

(dilanjutkan di tulisan selanjutnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s