The cleansing of the Temple

Jika nats khotbah minggu lalu adalah kisah Yesus mengutuk pohon ara, maka minggu ini adalah kisah komplemennya, yaitu kisah Yesus menyucikan Bait Allah. Pak Ayub sudah menyebutkan bahwa kisah ini adalah salah satu dari sedikit kisah yang ditampilkan di semua Injil (Mat 21.12-13//Mrk 11.15-18//Luk 19.45-48//Yoh 2.13-16), yang melukiskan signifikansi kisah ini bagi jemaat mula-mula.

Dan, jika minggu lalu kita dapat menggali banyak hal dari membandingkan dua versi kisah Yesus mengutuk pohon ara di Matius dan Markus, mungkin kita dapat membayangkan kompleksitas perbandingan yang dapat kita lakukan untuk kisah ini. Oleh karena itu, kali ini kita tidak akan menggali kisah ini secara menyeluruh.

Pertama, mengenai tempat kisah ini di Injil menurut Yohanes, yang bertolak belakang dengan tempatnya di ketiga Injil yang lain. Perbedaan ini tidak mesti berarti Yesus menyucikan Bait Allah dua kali, namun menunjukkan betapa urutan kisah-kisah di Injil tidak mesti kronologis, namun dapat diurutkan oleh kebebasan sang penulis di dalam menyusun teksnya.

Kedua, mengenai maksud kisah ini sendiri. Aku pikir memulai dengan Markus adalah pilihan yang baik untuk melakukannya, karena penulis-penulis lainnya mengambil dan mengedit dari Markus dan karena itu sudah ada nuansa-nuansa lain di dalam versi kisah ini yang mereka ceritakan. Di Markus sendiri, kisah ini dikaitkan dengan kisah Yesus mengutuk pohon ara, yang ditandai oleh struktur kedua kisah ini yang dibuat sandwich oleh Markus. Untuk mengerti yang satu adalah untuk memahami yang lain. Yesus mengutuk pohon ara menyimbolkan Yesus menyucikan Bait Allah, dan Yesus menyucikan Bait Allah menjelaskan Yesus mengutuk pohon ara. Kedua insiden ini setali tiga uang. Dan jika Yesus mengutuk pohon ara menyimbolkan Yesus yang menyucikan Bait Allah, maka bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah itu sendiri juga merupakan suatu hal yang simbolik. Yaitu, menyimbolkan penghakiman atas Israel (mengikuti Tom Wright).

Bait Allah adalah raison d’être keberadaan bangsa Israel saat itu. Bait Allah adalah pusat kegiatan keagamaan, politik, ekonomi, dan sosial bangsa Israel. Dan yang menggerakkan berbagai macam kegiatan ini adalah sistem persembahan korban di sana. Karena itu, ketika Yesus mengobrak-abrik meja-meja pedagang hewan kurban di sana dan mengusir mereka, hal ini akan menghentikan seketika perdagangan berbagai macam hewan kurban, dan dengan demikian secara simbolik menghentikan berbagai macam kegiatan di Bait Allah, dan dengan demikian seperti menghentikan Bait Allah itu sendiri secara sejenak. Dan, karena Bait Allah adalah simbol dari Israel itu sendiri, maka ketika Yesus mengobrak-abrik meja-meja pedagang hewan kurban ini, Israel ‘berhenti’ untuk sejenak, i.e., yang dilakukan oleh Yesus saat itu adalah simbol dari penghakiman atas Israel.

Signifikansinya sendiri bagi jemaat mula-mula adalah hal ini dapat menjelaskan signifikansi Bait Allah bagi gereja, apakah Bait Allah masih relevan atau tidak, terutama bagi jemaat yang berasal dari latar belakang Yahudi. Kisah ini akan menjawab ‘tidak’ untuk pertanyaan tersebut. Bait Allah yang berada di Yerusalem telah dihakimi dan dinyatakan tidak perlu. Jika dilihat dengan terang hancurnya Yerusalem pada tahun 70 oleh tentara Romawi, hal ini juga dapat menjawab pertanyaan, ‘Mengapa Bait Allah hancur?’ dan menghibur mereka yang mungkin mempertanyakan tragedi tersebut. Kita perlu mengingat bahwa salah satu pergumulan eksistensial jemaat mula-mula adalah relasi antara sekte baru dari Nazaret ini dengan institusi keagamaan Yahudi saat itu dan termasuk di dalamnya Bait Allah. Perlu ada kejelasan bagaimanakah signifikansi dan relevansi Bait Allah bagi jemaat mula-mula.

Ketiga, contoh nuansa kisah ini di Injil lain. Di Matius, kisah ini dijukstaposisikan dengan bagaimana Yesus menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang timpang setelah ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, yang menunjukkan apa fungsi yang sepatutnya di Bait Allah: yaitu menjadi saluran berkat Allah kepada umatNya.

Terakhir, mengenai ‘sarang penyamun.’ Wright berkomentar bahwa kata yang diterjemahkan sebagai ‘penyamun’ (lestai) juga dapat diartikan kelompok gerilyawan yang memperjuangkan kemerdekaan Israel dari bangsa asing. Karena itu, yang dilakukan Yesus juga dapat mengimplikasikan kritik terhadap kecenderungan bangsa Israel untuk berjuang dengan kekerasan dalam melawan kerajaan Romawi dan bagaimana metode seperti ini pada akhirnya akan gagal. Jikalau kita mengikuti alur interpretasi ini, maka yang dikritik Yesus bukanlah sistem perdagangan hewan kurbannya per se, namun Bait Allah dan orientasi bangsa Israel secara keseluruhan, dengan sistem perdagangan hewan kurban hanyalah menjadi sarana untuk menunjukkan hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s