Pohon ara yang terkutuk (2)

Post mengenai pohon ara kemarin aku pecah menjadi dua dan ini bagian keduanya, karena sebelumnya terlalu panjang jika digabung menjadi satu.

*

5. Beberapa hal lain yang dapat kita pelajari pula dari kedua kisah ini, misalnya bagaimana Matius dan Markus menyajikan respon murid-murid terhadap perbuatan Yesus ini. Di Matius, melihat pohon ara yang kering, murid-murid itu tercengang dan berkata: “Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?” (Mat 21.20)

Di Markus, karena ada jeda antara peristiwa Yesus mengutuk pohon ara tersebut dan bagaimana mereka melihat pohon yang kering (oleh karena struktur sandwich tersebut), maka kita melihat ada dua respon murid-murid, pertama ketika Yesus mengutuk pohon ara tersebut dan kedua setelah mereka melihatnya.

Pertama, melihat Yesus yang mengutuk pohon ara tersebut, tertulis demikian: “Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya.” (Mrk 11.14) Kedua, ketika mereka melihat pohon ara yang kering, Petrus berkata (mengapa Petrus? karena, secara tradisional lagi, penulis Injil menurut Markus ini adalah murid dari Petrus dan karena itu Petrus memiliki role yang lebih prominent di Injil ini ketimbang di Injil lain; Petrus boleh dibilang menjadi role model — yang secara overall tidak terlalu baik — dari murid-murid, i.e., kita semua), “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” (Mrk 11.21)

Apa tujuannya? Mungkin berhubungan pula dengan struktur sandwich ini. Ketika Markus menulis ‘dan murid-murid-Nya pun mendengarnya’, mungkin ini adalah sebuah hint bagi kita, pembaca-pembacanya dan murid-murid Yesus pula, agar turut juga mendengarkan dengan seksama perkataan Yesus ini, terutama jika dihubungkan dengan kisah yang akan disajikan selanjutnya, yaitu bagaimana Yesus menyucikan Bait Allah. Dengarkan kedua kisah ini baik-baik.

6. Kemudian, apa hubungannya dengan respon Yesus selanjutnya? “Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Mrk 11.22-23) Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan selanjutnya. Darimana kita mendapat ide bahwa murid-murid atau Petrus itu bimbang hatinya? Bukankah Petrus baru saja memberikan pernyataan dan tidak bertanya bagaimana pohon itu menjadi kering? Dan, sekiranya Petrus memang bimbang, tentang apakah ia bimbang?

Pertama, mengenai kebimbangan hati murid-murid/Petrus. Hal ini tidak terlihat secara eksplisit di Markus, dan karena itu pembaca-pembaca akan kebingungan jika teksnya tetap seperti ini. Karena itulah bagian ini diedit pula oleh Matius, tidak lagi sebagai pernyataan, namun sebagai sebuah pertanyaan: ‘melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: “Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?”‘ (Mat 21.20) Jadi ada dua elemen kebimbangan disana. Murid-murid tercengang, dan mereka bertanya: bagaimana mungkin? Dengan demikian Matius mempermudah alur kisah ini sebelum masuk kepada respon Yesus.

Kedua, tentang apakah murid-murid/Petrus bimbang. Tentunya, tentang isi dari kedua kisah yang diceritakan ini, yaitu bagaimana Yesus mengutuk pohon ara dan menyucikan Bait Allah, dimana keduanya secara bersamaan menyimbolkan penghakiman yang akan terjadi kepada bangsa Israel. Karena itulah respon murid-murid menjadi dapat kita pahami: Bagaimana mungkin pohon ara itu menjadi kering? Bagaimana mungkin bangsa pilihan justru dihakimi (pohon ara menyimbolkan berkat bagi bangsa Israel, umat pilihan Allah; dan Bait Allah basically adalah nadi kehidupan bangsa Israel)?

Dan lagi-lagi Yesus menjawabnya dengan sebuah simbol yang mungkin akan terlewatkan bagi kita: “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini…” (Mrk 11.23) Gunung ini bukanlah gunung secara umum, namun secara spesifik merujuk kepada Yerusalem, yang terletak di atas bukit (bayangkan Yesus menunjuk ke atas ke arah Yerusalem ketika ia berkata ‘gunung ini…’). Yang mengulangi kembali esensi dari kedua kisah ini, yaitu bahwa Israel akan dihakimi (sekarang ada tiga simbol untuk menyatakan hal ini: pohon ara, Bait Allah, dan gunung ini). Namun, situasinya terkesan sebaliknya. Yesus dan kedua belas muridnya hanyalah kelompok yang sangat kecil dan tidak signifikan. Bagaimana mungkin lewat kelompok yang sangat kecil dan mengikut seorang dari Nazaret ini adalah Israel yang sejati, sementara seluruh bangsa Israel yang lain itu ternyata bukan dan karena itu akan dihakimi. Yesus menjawab mereka: “Percayalah kepada Allah!” (Mrk 11.22)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s