Pohon ara yang terkutuk (1)

1. Nats khotbah hari ini diambil dari kisah Yesus yang mengutuk pohon ara. Kisah ini kita miliki dalam dua versi, pertama di Mat 21.18-22 dan di Mrk 11.12-14, 20-25. Dan nats khotbah hari ini diambil dari versi kisah ini di Markus. Dari dua versi kisah ini, kita dapat belajar bagaimana dependensi Injil antara yang satu dengan yang lain. Secara khusus, kita juga sedikit belajar mengapa banyak akademisi yang memberikan prioritas utama kepada Injil menurut Markus sebagai sumber utamanya, dengan Matius dan Lukas mengambil dan mengedit dari Markus.

Salah satu kriteria yang digunakan dalam menelusuri riwayat sebuah literatur jika dibandingkan literatur yang lain adalah tingkat kesulitan. Biasanya, frase yang menimbulkan kesulitan dari literatur sumber akan dihapus di literatur turunan dan akan diganti dengan alur yang lebih mudah. Contohnya adalah versi kisah ini di Markus yang terkenal cukup sulit oleh karena sebuah kalimat ini: “Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.” (Mrk 11.13) Klausa terakhir membuat perikop ini menjadi sulit dan seringkali digunakan untuk mengolok-olok baik Yesus maupun kekristenan itu sendiri. Yesus sedang lapar, dan ia melihat pohon ara yang tidak berbuah, dan ia mengutuknya! Namun, bukankah saat itu memang bukan musim buah ara?

Jika memang pada awalnya klausa ini inherently sulit, tidak heran memang jika Matius tidak mengikutsertakan klausa ini di dalam versi kisah ini yang ia tulis di Injilnya: “Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja.” (Mat 21.19) Jadi, hipotesa yang dapat diambil dari satu kisah ini adalah Matius mengambil dari Markus dan mengeditnya. Karena itu kisah ini dapat digunakan sebagai salah satu argumen untuk memprioritaskan Markus sebagai Injil mula-mula yang kemudian diredaksi oleh Matius dan Lukas.

2. Sudut lain yang bisa digunakan dalam menganalisa perikop ini adalah audiens tujuan literatur ini ditulis. Secara tradisional, Injil menurut Markus ditujukan kepada jemaat di Roma yang pada umumnya non-Yahudi, sementara Injil menurut Matius ditujukan kepada jemaat yang Yahudi. Karena itu kita menemukan beberapa kali Markus perlu menjelaskan dalam Injilnya berbagai kebiasaan Yahudi dan dengan demikian memperpanjang tulisannya, berlawanan dengan tendensinya untuk menulis dengan singkat (jumlah kata di Injil Markus paling sedikit jika dibandingkan dengan ketiga Injil lain).

Misalnya, perikop mengenai insiden murid-murid Yesus yang makan dengan tangan yang tidak dibasuh. Lagi-lagi, kisah ini kita miliki dalam dua versi, yaitu Mat 15.1-20//Mrk 7.1-23. Berbeda dengan Matius yang langsung masuk pada dialog antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat, Markus perlu meluangkan beberapa kalimat terlebih dahulu untuk menjelaskan mengapa hal ini menjadi kontroversi bagi orang Farisi: “Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, dan kendi dan perkakas-perkakas tembaga.” (Mrk 7.3-5) Keseluruhan bagian ini tidak dimasukkan oleh Matius, dimana ia langsung memulai kisah ini dari Mrk 7.6.

Mengapa Markus perlu melakukan demikian? Karena audiensnya adalah jemaat non-Yahudi yang mungkin tidak paham dengan budaya saat itu di Yudea dan sekitarnya. Ia perlu menjelaskan mengapa hal ini menjadi kontroversi di sana pada saat itu. Apa implikasinya? Terkadang, ia juga perlu menjelaskan latar belakang lain mengenai Yudea. Misalnya, mengenai musim berbuah: ‘sebab memang bukan musim buah ara.’ Karena itu pula, mungkin dengan alasan ini pula Matius merasa tidak perlu memasukkan klausa ini di Injilnya, karena audiensnya sudah familiar dengan latar belakang iklim di Yudea.

Penjelasan ini tidak sepenuhnya menghilangkan kesulitan yang inheren di teks ini, namun setidaknya memberikan nuansa lain yang sepatutnya masuk dalam perhatian kita di dalam mendalami teks ini.

3. Kemudian, lagi-lagi di kisah ini kita belajar bagaimana Markus menyukai struktur sandwich dalam menceritakan kisahnya. Ada sebuah kisah yang berada di antara dua kisah Yesus dengan pohon ara di Markus, yaitu kisah Yesus menyucikan Bait Allah.

A1. Yesus mengutuk pohon ara (Mrk 11.12-14)
B. Yesus menyucikan Bait Allah (Mrk 11.15-19)
A2. Pohon ara yang sudah kering (Mrk 11.20-21)

Di Matius, strukturnya demikian:

B. Yesus menyucikan Bait Allah (Mat 21.12-13)
A. Yesus mengutuk pohon ara (Mat 21.18-20)

Struktur sandwich seperti ini, salah satunya digunakan untuk memberikan penekanan betapa kedua kisah ini perlu diinterpretasikan terhadap satu sama lain. Yang dilakukan oleh Yesus terhadap pohon ara ada hubungannya dengan yang dilakukannya terhadap Bait Allah.

Karena perbedaan struktur kisah ini pula, ada perbedaan dalam hal-hal yang mendetil dalam dua versi kisah ini. Misalnya, di Markus, tidak dijelaskan kapan pohon ara itu menjadi kering. Yang kita tahu hanyalah Yesus dan murid-muridNya melihat pohon ara itu sudah kering ketika mereka lewat disana pagi-pagi esoknya (Mrk 11.20). Di Matius, ‘seketika itu juga keringlah pohon ara itu.’ (Mat 21.19)

4. Struktur ini juga akan menimbulkan sebuah pertanyaan kepada kita: kapankah pohon ara itu dikutuk, sebelum Yesus menyucikan Bait Allah (Markus) atau pagi-pagi hari esoknya setelah ia menyucikan Bait Allah (Matius)? Dilema seperti ini sepatutnya menyadarkan kita bahwa Injil tidak sepenuhnya dapat dibaca dengan literalisme yang kasar dan betapa banyak teknik-teknik literatur yang digunakan oleh masing-masing penulis Injil. Jika kita memaksakan untuk mengharmonisasi kedua kisah ini, maka kita akan menyimpulkan bahwa ada dua pohon ara yang dikutuk oleh Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s