Manna

Satu setengah bulan berlalu sudah sejak bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Mereka sekarang berada di padang gurun Sin, belum sampai ke gunung Sinai. Waktu yang cukup lama berlalu ini mungkin membuat mereka kesal. Mereka pun bersungut-sungut kepada Musa dan Harun: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

Tuhan pun mendengar sungut-sungut mereka dan meresponinya dengan berjanji kepada Musa untuk menurunkan dari langit hujan roti bagi bangsa Israel. Tujuannya adalah agar bangsa Israel dapat melihat bahwa Tuhanlah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir dan bahwa Ia telah mendengar sungut-sungut mereka.

Dan roti itu pun turun.

Ketika orang Israel melihatnya, merekapun berkata kepada seorang yang lain: “Apakah ini?”

Yang dalam bahasa Ibrani:

“Manna?”

Roti ini pun, disebut dengan manna (yeah, it’s a kind of fun way of naming things, isn’t it?).

Manna inilah yang menemani bangsa Israel selama 40 tahun mereka berputar-putar di padang pasir sebelum mereka memasuki tanah Kanaan. Manna menjadi simbol penyertaan Tuhan bagi umatNya, simbol pemberian diri Allah kepada umatNya. Manna diberikan untuk memberi hidup orang banyak (Kel 16).

Dan Yesus dari Nazaret memahami dirinya sebagai sang Manna yang sejati, sang Roti Hidup. “Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia. Akulah roti hidup.” (Yoh 6.33, 35) Ia turun dari sorga, dan memberi hidupnya bagi dunia. Ia memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang. Ia mati dan bangkit, agar yang lain dapat hidup.

Mengikut Tuhan yang demikian, kami pun memiliki sebuah cita-cita yang semoga sederhana.

Agar kami juga belajar untuk memberi hidup kami bagi banyak orang.

Agar yang lain dapat melihat Sang Roti Hidup itu terefleksikan lewat hidup kami.

Agar yang lain, ketika melihat kami, dapat bertanya, “Apakah ini?” dan menemukan Hidup yang sejati itu lewatnya.

One thought on “Manna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s