Kita, kami, dan kamu (3)

Ditulis pada tanggal 20 Februari 2009 sebagai kelanjutan dari seri ‘Kita, Kami, dan Kamu’ (1) (2), namun pada akhirnya hanya berhenti sampai di sini.

*

Salah satu implikasinya adalah pembacaan Ef 1.4, yang seringkali digunakan untuk justifikasi ajaran predestinasi:

Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Ef 1.4)

Yang mungkin menarik adalah bagaimana jika kita terus menelusuri pola pikiran ini. Rencana kekal Allah ini, yaitu ‘rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus’ (1.9), sekarang sudah genap waktunya, yaitu untuk ‘mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.’ (1.10)

Yang menarik adalah di kalimat selanjutnya Paulus merubah fokus subyek pembicaraannya, dari ‘kita’ di ay. 4-10, menjadi ‘kami’ di ay. 11-12 dan ‘kamu’ di ay. 13. Sekali lagi, tujuan rencana Allah ini adalah untuk ‘mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.’ (1.10)

‘Di dalam Kristus’, maksudnya, kami, yang dari semula telah ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah (ay. 11), i.e., perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah, di dalam Kristus-lah kami mendapat bagian yang dijanjikan itu. Di dalam Kristus-lah perjanjian itu dipenuhi — bukan lewat hukum Taurat (bdk. 2.15).

Dan, di dalam Kristus pulalah kamu, i.e., orang-orang non Yahudi, dimeteraikan oleh Roh Kudus (ay. 13), yang menjadi jaminan bagian yang dijanjikan itu sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah (ay. 14).

Jadi, baik kaum Yahudi dan non-Yahudi menemukan pemenuhan rencana Allah ini di dalam Kristus. Baik kami dan kamu, i.e., kita, telah ada dalam rencana Allah ini dari semula. Memang kami dari semula telah ditentukan untuk menerima bagian itu, namun bagian itu dipenuhi di dalam Kristus, sama dengan bagaimana kamu pun menerima bagian itu.

Hal ini berarti, kamu, orang-orang non-Yahudi, pun sudah ada dalam rencana Allah ini dari semula; bukan hanya kami, orang-orang Yahudi semata. Untuk kembali ke kalimat awal Paulus (1.4), sebab di dalam Dia (‘Dia’ merujuk kepada Kristus — ay. 3 — yang membuat lagi-lagi frase di dalam Kristus muncul dan mungkin menjadi tema pemersatu seluruh argumen ini) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (bdk. ay. 14). Bukan hanya kami, namun kamu juga. Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.

Karena itu, ay. 4 mungkin dalam konteks awalnya lebih bermaksud untuk menyatakan bahwa kamu (uhm, kita semuanya yang non-Yahudi), orang-orang non-Yahudi yang berada di dalam Kristus, pun sudah termasuk dalam rencana Allah sejak semula. Dengan kata lain, ada rencana Allah yang tunggal dalam ‘mempersatukan segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.’ Tidak ada rencana A untuk bangsa Yahudi dan rencana B untuk bangsa non-Yahudi, namun ada satu rencana saja untuk baik bangsa Yahudi maupun bangsa non-Yahudi, yaitu rencana yang dipenuhi di dalam Kristus.

Apakah dari ayat ini kita bisa menarik berbagai ajaran mengenai predestinasi (dalam pengertian klasik tradisi Reformed)? Mungkin saja. Namun, jika ditanya, apakah predestinasi yang menjadi ajaran utama di bagian ini? Mungkin tidak. Yang menjadi unsur primer adalah mengenai kesatuan rencana Allah.

*

Contoh sebuah post yang juga membahas hal ini: Ephesians 1 in Context.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s