Seribu tahun

Waktu itu mungkin relatif — bagi sebagian orang terasa begitu lama, namun bagi yang lain seperti sekejap saja.

Tidak sedikit dari jemaat mula-mula yang mengharapkan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya dalam satu generasi setelah Yesus naik ke surga. Rasul Paulus mungkin memiliki pandangan yang demikian ketika ia menulis ke jemaat di Tesalonika: “Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.” (1 Tes 4.15) Namun pengharapan ini lama kelamaan memudar, seiring dengan tidak datangnya Yesus sesuai dengan waktu yang diharapkan. Satu generasi sudah lewat, namun Yesus belum datang juga. Menanggapi hal ini, penulis surat 2 Petrus mencoba untuk menghibur jemaat tujuan suratnya ditulis, dengan berkata bahwa “di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” (2 Pet 3.8) Ia menambahkan: “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya.” (2 Pet 3.9) Dengan demikian waktu direlativisasi oleh penulis surat 2 Petrus. Waktu bisa dilihat dengan perspektif manusiawi, namun dapat pula dilihat dengan persepktif ilahi — “di hadapan Tuhan.”

Kita pun mungkin pernah mengalaminya. Dimana satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari. Menunggu kabar yang kita nanti-nantikan, misalnya. Atau, ketika kita sedang berada dengan seorang yang kita kasihi. Pertemuan bisa terasa berlalu begitu cepat; sebaliknya, menantikan waktu bertemu dengannya dapat menjadi momen-momen yang menyiksa.

Dan terkadang waktu juga penuh dengan paradoks. Tanpa kita sadari, satu bulan telah berlalu begitu saja. Walau, jika kita mau menilik dengan lebih dalam dan menguraikannya, kita akan terkagum betapa kita telah melalui banyak hal dalam satu bulan ini. Tawa dan tarung, gurau dan gundah, pesta dan perih. Dalam kesemuanya ini, kita mengamini dan mengimani, “Eben-Haezer” — sampai detik ini, Tuhan telah menolong kita.

Sekejap layaknya selamanya, kekekalan layaknya seketika. Karena itu, siapa bilang keabadian itu membosankan? Bagaimanakah jika ia sungguh mengasyikkan sampai-sampai menjadi tidak terasa?

20 thoughts on “Seribu tahun

  1. Ind

    Etoo.. itu di holland V yang dessert itu bukan sih..? Duduk di depan tokonya y..? haha.. Dan..itu porsinya gede amat yak… :P

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s