Some thoughts on predestination et al.

Sebuah draf yang aku tulis beberapa bulan yang lalu namun tidak aku post, dan kemarin Hezron bertanya mengenai hal ini juga, karena itu mungkin ada baiknya untuk dipost untuk dapat dibahas bersama-sama. Enjoy: predestination.

*

1. Ini topik yang sebenarnya gw males banget untuk bahas. Cuma karena akhir-akhir ini beberapa kawan bertanya soal hal ini, mungkin ada baiknya untuk menuliskan beberapa hal mengenai predestinasi. Sebagai disclaimer di awal, gw sendiri tidak pernah membaca secara ekstensif mengenai topik ini, namun setidaknya pernah memikirkan hal ini beberapa kali dan mungkin apa yang ditulis di bawah ini bukanlah cara yang tradisional untuk membahas predestinasi. Dan, since predestinasi more or less berhubungan dengan pemilihan, umat pilihan, kedaulatan Allah, etc., hal-hal ini juga akan dibahas disini.

2. Pertama, bagiku hal yang paling penting untuk membahas hal ini adalah akar Ibrani iman Kristen. Karena itu, bahkan kata ‘pilihan’ pun kita harus kembali ke apa maksud kata ini di pola pikir bangsa Ibrani. Karena itu pula, biasanya aku akan membahas topik ini dengan kisah Allah memilih Abraham. Allah memilih Abraham untuk tujuan tertentu. Agar lewat keturunannya seluruh kaum di muka bumi akan diberkati. Karena itu, pemilihan selalu mengandung tanggung jawab. Abraham tidak dipilih for the sake untuk dipilih, namun dengan satu tujuan atau misi tertentu. Allah memilih Abraham agar lewat keturunannya seluruh kaum di muka bumi akan diberkati.

Serupa dengan hal itu, bangsa Israel, umat pilihan Allah, tidak dipilih for the sake untuk dipilih, namun juga dengan satu misi tertentu. Dalam perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel di Sinai, yang menjadi awal keberadaan mereka sebagai sebuah bangsa, disebutkan bahwa mereka ‘akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.’ (Kel 19.6) Israel dipanggil menjadi imam bagi dunia ini, pengantara antara Allah dengan dunia.

Dan panggilan Abraham dan Israel ini akhirnya akan dipenuhi oleh Yesus dari Nazaret, yang mati di kayu salib, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga dari antara orang mati. Lewat kematian dan kebangkitannya, seluruh kaum di muka bumi diberkati. Yesus menjadi imam, mediator, pengantara, antara Allah dengan umat manusia. Jadi, in some sense apa yang dikatakan Barth benar, yaitu bahwa Allah memilih Yesus. Kristus menjadi representasi dari umat pilihan Allah. Ia adalah Mesias. Dan apa yang berlaku bagi Mesias akan berlaku juga bagi yang berada di dalam Mesias. Sekiranya kita dipilih, kita dipilih di dalam Mesias. Itulah mengapa Paulus seringkali menggunakan istilah ‘di dalam Kristus.’ (Kristus dan Mesias interchangeable)

Jadi, siapa umat pilihan Allah yang sejati? Kristus — baru kemudian kita, yang berada di dalam Kristus.

Dan umat Allah yang berada di dalam Kristus inipun mengemban aspek misional umat pilihan Allah yang telah mencapai klimaksnya di dalam Kristus: karena kita ini buatan Allah, yang diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik. Menjadi bagian dalam umat pilihan mengandung tanggung jawab misional, i.e., untuk berpartisipasi dalam karya rekonsiliasi Allah dengan dunia ini, mengikut Sang Kepala Tubuh.

3. Kemudian, salah satu hal yang menarik di Efesus 1-3 adalah bahwa sesungguhnya kaum non-Yahudi pun sekarang dapat menjadi bagian dalam umat pilihan Allah, bukan hanya kaum Yahudi. Beberapa waktu yang lalu aku sempat ingin mencoba untuk menunjukkan hal ini dengan ekstensif dengan melihat perbedaan antara ‘kami’, ‘kamu’, dan ‘kita’ dalam Efesus 1-3 (bagi teman-teman yang tertarik, bisa membaca tiga pasal ini untuk melihat hal ini), namun akhirnya nggak sempat. Poinnya adalah, bahwa kaum non-Yahudi tidak dipilih setelah dunia dijadikan, namun juga sebelum dunia dijadikan, sama seperti bangsa Israel. Dalam hal ini Paulus ingin menunjukkan kesatuan rencana Allah. Allah tidak memilih bangsa Israel terlebih dahulu baru kemudian bangsa lain, namun sesungguhnya baik kaum Yahudi maupun kaum non-Yahudi sebenarnya sudah menjadi bagian dari rencana Allah sebelum dunia dijadikan.

Karena itu, ini yang penting, sebenarnya justru pemahaman predestinasi di Efesus ini liberating, ingin mengatakan bahwa, hei, sebenarnya bukan hanya kaum Yahudi loh yang dipilih sebelum dunia dijadikan, namun kaum non-Yahudi juga. Nuansa liberating dari pemahaman predestinasi ini bertolak belakang dari nuansa dari pemahaman predestinasi secara tradisional, yang justru berkesan membatas-batasi keselamatan. Pemahaman predestinasi seharusnya bernuansa sebaliknya: jangan membatas-batasi umat pilihan, hanya Allah yang dapat menentukan, dan Allah telah memilih baik kaum Yahudi dan kaum non-Yahudi sebelum dunia dijadikan.

4. Apa implikasinya? Implikasi dari pemahaman ini adalah kesetaraan umat Allah; baik itu kaum Yahudi maupun non-Yahudi. Jika kaum non-Yahudi baru menjadi bagian dari rencana Allah setelah dunia dijadikan, maka mereka (kita deng) hanyalah umat kelas dua, yang tidak setara dengan kaum Yahudi yang telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Namun, hal ini tidak benar, karena baik kaum Yahudi maupun kaum non-Yahudi sama-sama dipilih sebelum dunia dijadikan. Tidak ada yang bisa bermegah.

5. Serupa dengan hal itu, dalam sejarah gereja pemahaman mengenai umat pilihan ini kembali hangat di era Reformasi. Latar belakangnya adalah pemahaman waktu itu bahwa keselamatan hanya ditemukan di dalam gereja. Karena itu ekskomunikasi menjadi hal yang sangat fatal dan mengerikan. Diusir dari gereja tidak hanya memiliki makna di hidup masa ini, namun juga di kehidupan yang akan datang. Berada di luar gereja saat ini berarti berada di luar kerajaan Allah yang akan datang.

Karena itu, muncullah pemahaman visible dan invisible church. Yaitu, bahwa gereja tidak hanya terdiri dari orang-orang yang berada di dalam institusi gereja. Dan disini pemahaman predestinasi muncul. Yaitu, hanya Allah yang bisa menentukan siapa umat pilihanNya. Manusia tidak dapat menentukan. Hanya Allah yang bisa menentukan, manusia tidak dapat, dan karena itu kita tidak bisa membatas-batasi siapa yang ‘selamat’ dan siapa yang tidak. Dan, lagi-lagi, pemahaman ini menghibur kaum Protestan yang sekarang berada di luar struktur gereja secara resmi. Walau mereka berada di luar gereja, hal itu bukan berarti bahwa mereka tidak menjadi bagian dalam umat Allah.

Lagi-lagi, pemahaman predestinasi semacam ini justru liberating, ingin berkata, hey, jangan membatas-batasi umat Allah; hanya Allah yang dapat menentukan! Dan, lagi-lagi, nuansanya berbeda dengan nuansa yang somehow lebih populer sekarang ini (admittedly, karikatur), menggambarkan Allah yang semena-mena, memilih orang untuk diselamatkan dan untuk dihakimi. Justru sebaliknya. Pemahaman predestinasi ingin berkata bahwa kita tidak bisa menentukan, hanya Allah yang bisa menentukan. Karena itu, jangan membatas-batasi umat Allah.

6. Apa implikasi pemahaman predestinasi semacam ini? Sederhana. Jangan pernah mencap orang lain sebagai ‘pasti tidak selamat’ atau menghakimi orang terlebih dahulu. Kita tidak pernah tahu. Panggilan kita adalah untuk memberitakan Injil, dan marilah setia dalam panggilan itu.

7. To sum up, what does predestination means to me? (1) It always entails mission, (2) Unity of God’s plan and equality of the people of God, and (3) We can’t determine the extent of people of God; only God can.

7 thoughts on “Some thoughts on predestination et al.

  1. Ind

    Uhm.. nanya.. ini konteksnya yang dibahas hanya keselamatan, atau gimana? :D

    PS: cieh akhirnya ganti jg themenya.. :P

    Reply
    1. septian Post author

      ho justru mungkin lebih tepatnya ingin memperlebar scope pembahasan mengenai predestinasi dkk :)

      PS: haha iya, tadi liat ada theme baru :p

      Reply
  2. Arifin Effendi

    like this (both the content and layout haha)… hanya Tuhan yang adalah hakim… bukan bagian kita untuk menghakimi :)
    boleh suruh anak2 KTB gw baca post satu ini ne abis KTB ntar sabtu =D

    Reply
    1. septian Post author

      wiw mantap boi.

      anw i just realized that i’ve a lot of unpublished drafts. i guess now its the time to publish them, especially when i dont really have time to blog now (seperti yusuf yang mengumpulkan bahan makanan demi tujuh tahun kelaparan :p).

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s