the household codes

1. Col 3.18-4.1 (and its parallel Eph 5.22-6.9) is usually called the household codes, as it indicated how members of a household (wife, husband, children, parents, slaves, master) should behave toward each other.

2. Aturan rumah tangga ini oleh Paulus ditulis dengan berpasang-pasangan, sebanyak tiga pasang:

Hai isteri-isteri,
tunduklah kepada suamimu,
sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.
—–Hai suami-suami,
—–kasihilah isterimu,
—–dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

Hai anak-anak,
taatilah orang tuamu dalam segala hal,
karena itulah yang indah di dalam Tuhan.
—–Hai bapa-bapa,
—–janganlah sakiti hati anakmu,
—–supaya jangan tawar hatinya.

Hai hamba-hamba,
taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal,
jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,
melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
Apa pun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.
Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.
Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu,
karena Tuhan tidak memandang orang.
—–Hai tuan-tuan,
—–berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu;
—–ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.

3. Dengan memulai tiap pasang dengan istri, anak-anak, dan hamba-hamba, Paulus mengikuti ketentuan saat itu dimana istri, anak-anak, dan hamba-hamba memiliki tanggung jawab tertentu yang perlu mereka lakukan sebagai ‘makhluk kelas dua.’

4. Dengan menambahkan tiap pasang dengan ketentuan-ketentuan yang perlu dilakukan oleh suami, bapa-bapa, dan tuan-tuan, Paulus memutasi ketentuan saat itu dimana sesungguhnya tidak hanya istri, anak-anak, dan hamba-hamba saja yang memiliki tanggung jawab, namun juga dimiliki oleh suami, bapa-bapa, dan tuan-tuan. Dengan demikian istri, anak-anak, dan hamba-hamba bukanlah ‘makhluk kelas dua’, namun sederajat dan setara dengan suami, bapa-bapa, dan tuan-tuan, yang dianggap makhluk kelas pertama saat itu. Tanggung jawabnya tidak satu arah, namun mutual dua arah.

5. Ironisnya, perikop ini justru sering dijadikan justifikasi berbagai ketidakadilan dalam sejarah gereja, seperti perbudakan, penindasan anak, maupun ketidaksetaraan pria dan wanita.

“During the days of slavery, the master’s minister would occasionally hold services for the slaves. … Always the white minister used as his text something from Paul. At least three or four times a year he used as a text: ‘Slaves, be obedient to them that are your master . . . , as unto Christ.’ Then he would go on to show how it was God’s will that we were slaves and how, if were good and happy slaves, God would bless us. I promised my Maker that if I ever learned to read and if freedom ever came, I would not read that part of the Bible.” (Norman K. Gottwald and Richard A. Horsley (eds.), The Bible and Liberation, p. 34)

This is when Paul the emancipationist became Paul the oppressor.

6. Untuk menjaga dari pemahaman semacam ini, kita patut memperhatikan betapa relasi istri-suami, anak-bapa, hamba-tuan ini didefinisikan lewat lensa Kristus oleh Paulus. Relasi istri-suami dipahami lewat relasi antara Kristus dengan gerejaNya, relasi anak-bapa lewat Allah sebagai Bapa (yang dimungkinkan oleh Kristus sebagai yang sulung), dan relasi hamba-tuan lewat Kristus sebagai Tuhan dan kita hambaNya. Dengan demikian Salib menjadi poros dimana relasi-relasi ini harus dipahami dan dimaknai. Atau, seturut dengan salah satu tema besar di dalam surat kepada jemaat di Kolose ini, setiap relasi ini harus ‘mati dan bangkit’ di dalam Kristus; didefinisikan ulang, bukan lagi dengan cara pandang kita yang lama, namun dilihat dengan lensa Salib, i.e., mutualitas dalam kasih.

7. Mengenai mengapa bagian yang panjang adalah bagian kewajiban hamba kepada tuannya, aku pikir Paulus cukup fleksibel dalam hal ini, yang mengindikasikan bagaimana konteks masing-masing jemaat memiliki peran yang penting ketika ia menuliskan surat-suratnya. Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, misalnya, bagian yang dijelaskan dengan lebih panjang adalah tanggung jawab suami kepada istri, dimana dalam suratnya kepada jemaat di Kolose ini dijelaskan secara singkat saja.

7 thoughts on “the household codes

    1. septian Post author

      singapore bo chap style:

      Hai flatmates,
      mind your own business.

      septian’s obsessive compulsive disorder style:

      Hai flatmates,
      jangan lupa matiin lampu sehabis menggunakan ruangan
      jangan lupa matiin electrical appliances sebelum pergi
      jangan lupa jadwal cuci baju
      dst dst…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s