berseru kepada sorga

Salah satu yang menarik dari 1 Makabe adalah bagaimana penggunaan kata ‘Sorga’ di sana, misalnya demikian:

1. “Sebab bagi Sorga tiada bedanya menyelamatkan dengan perantaraan banyak orang atau dengan perantaraan sedikit saja.” (3.18)
2. Kemudian berserulah mereka ke Sorga dengan suara lantang katanya: “Harus kami apakan orang-orang ini semua dan harus kami bawa ke mana?” (3.50)
3. “Seperti yang dikehendaki Sorga, demikianpun hendaknya diperbuat olehNya!” (3.60)
4. “Nah sekarang, baiklah kita berseru kepada Sorga, semoga Tuhan berkenan kepada kita dan ingat akan perjanjian dengan nenek moyang kita…” (4.10)
5. Kemudian kembalilah mereka seraya menyanyikan pujian dan memuji Sorga: “Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (4.24)
6. Meniaraplah mereka dan meniupi terompet lalu berseru ke Sorga. (4.40)
7. Maka meneriaplah segenap rakyat dan sujud menyembah serta melambungkan lagu pujian ke Sorga, kepada Yang memberikan hasil baik kepada mereka. (4.55)
8. “Maka dari itu menjeritlah sekarang kepada Sorga, supaya kamu diselamatkan dari tangan musuh kita!” (9.46)

Di sini kita memperhatikan bagaimana kata ‘Sorga’ dapat menjadi substitusi bagi kata ‘Allah.’ Salah satu alasannya adalah kata ‘Allah’ (theos —1 Makabe ditulis dalam bahasa Yunani) menjadi kata yang sakral bagi orang Ibrani dan karena itu sebaiknya dihindari sebisa mungkin dalam penulisan sebuah kitab. Di dalam Perjanjian Lama sendiri, bentuk yang serupa dengan praktek di 1 Makabe ini hanya terdapat di 2 Tawarikh, demikian, ‘Tetapi oleh karena itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada sorga’ (2 Taw 32.20 – bdk. dengan kisah yang serupa di 2 Raj 19.14 – ‘Hizkia berdoa di hadapan TUHAN…’), yang menunjukkan waktu penulisan kitab ini yang sangat telat di antara semua kitab di Perjanjian Lama. Hal ini juga mengindikasikan mulainya pergeseran dari dominasi tradisi lisan menuju tradisi tertulis, dengan praktek mengkopi kitab semakin sering dan karena itu pula praktek mengganti frase ini semakin diperlukan.

Penulis kitab di Perjanjian Baru yang mengikuti praktek ini adalah Matius, yang menulis Injilnya kepada orang Ibrani. Injil Matius adalah satu-satunya tempat dimana frase ‘kerajaan Sorga’ muncul, menggantikan frase ‘kerajaan Allah.’ Bukan berarti tidak ada frase ‘kerajaan Allah’ sama sekali di Matius, namun hanya tersisa beberapa saja — kontraskan dengan penggunaan frase ini di Markus dan Lukas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s