alkimus mati

1 Makabe 9.43-73

Bakhides sudah menunggu Yonatan dan Simon di sungai Yordan. Maka kata Yonatan kepada anak buahnya: “Baiklah kita bersiap-siap dan bertempur untuk hidup kita! Sebab hari ini tidak seperti kemarin dan kemarin dulu! Lihatlah, pertempuran mengancam kita dari sebelah depan dan dari sebelah belakang. Lagi di sebelah kanan dan di sebelah kiri ada air sungai Yordan dan selebihnya bencah dan belukar belaka. Tiada kemungkinan lagi untuk mengelakkan diri. Maka dari itu menjeritlah sekarang kepada Sorga, supaya kamu diselamatkan dari tangan musuh kita!” Pertempuran pun dimulai, dan kali ini pertempurannya memakan waktu yang sangat lama.

Bakhides sendiri sempat membangun benteng-benteng di Yerusalem, dan bahkan Alkimus (yang ingin menjadi Imam Besar) sempat menyuruh membongkar dinding-dinding di pelataran Bait Allah. Penulis 1 Makabe berkomentar, ‘begitu mau dirobohkannya pekerjaan para nabi’, yang mengindikasikan bagaimana kepercayaannya mengenai peran para nabi dalam pembangunan bait Allah, yaitu mungkin bagaimana para nabi menyuarakan Firman Allah untuk menyemangati pembangunan (ulang?) bait Allah. Namun, usaha Alkimus ini gagal, karena ia hanya sempat mulai membongkar dinding-dinding itu, sebelum ia mendapat gegar otak, mulutnya membungkam, menjadi lumpuh dan tidak dapat mengatakan satu katapun atau memberikan perintah, i.e., Alkimus terkena dengan apa yang kita namakan dengan stroke sekarang. Alkimus meninggal dunia pada waktu itu juga. Mendengar kabar tersebut, kembalilah Bakhides kepada raja. Tujuan utama Bakhides diutus adalah untuk membantu Alkimus menjadi Imam Besar. Karena Alkimusnya sendiri sudah meninggal dunia, Bakhides tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk tetap berada di Yudea. Tujuan utamanya bukan untuk merebut Yudea, melainkan untuk mentaati perintah tuannya (raja). Dan karena subyek di perintah tuannya ini telah meninggal dunia, sudah tidak ada gunanya lagi Bakhides di sana. Bakhides kembali kepada raja, dan Yehuda pun menikmati ketenteraman selama dua tahun.

Namun, di sisi lain, di dalam Yehuda sendiri masih ada berbagai macam pemberontak, dan mereka berencana untuk mendatangkan Bakhides lagi. Bakhides pun datang kembali dengan banyak pasukan. Namun kali ini Yonatan dan Simon sudah lebih siap, dan akhirnya rencana serangan Bakhides pun gagal seluruhnya. Karena itu Bakhides pun marah kepada pemberontak-pemberontak ini yang menasehatkan kepadanya untuk datang ke negeri itu. Akhirnya ia sendiri membunuh orang-orang ini, sebelum kembali ke negaranya. Yonatan menyadari mungkin Bakhides sudah muak dan tidak mau berurusan lagi dengan Yehuda setelah berbagai kekalahan yang ditimpanya. Karena itu ia mengirimkan utusan kepada Bakhides untuk merundingkan perdamaian dan pengembalian para tawanan. Usul ini diterima baik oleh Bakhides dan ia berbuat sesuai dengan usul tersebut. Ia bahkan bersumpah bahwa selama hidupnya tidak akan lagi mengusahakan yang jahat terhadap Yonatan. Kaum tawanan yang dahulu ditawan dari Yehuda juga dikembalikan oleh Bakhides. Bakhides pulang, dan tidak lagi datang ke negeri orang-orang Yahudi. Penulis 1 Makabe berkomentar, ‘dengan demikian pedang beristirahat di Israel.’ Akhirnya ada damai pula di Israel.

Yonatan menetap di Mikhmas, dan dari sana ia menghakimi rakyat (bdk. jaman hakim-hakim di kitab Hakim-hakim, misalnya) dan melenyapkan kaum fasik dari Israel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s