adam, set, enos

1 Taw 1-5

[1-2] Tawarikh ditulis setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel. Salah satu isu kunci saat itu adalah mengenai identitas bangsa Yehuda sebagai sisa-sisa keturunan Yakub, yang secara tidak langsung memiliki tanggung jawab untuk meneruskan garis keturunan bangsa Israel dengan di sisi yang lain, mayoritas dari 10 suku Israel (Utara) yang dibuang ke Asyur lebih tidak jelas nasibnya. Karena itu silsilah menjadi penting. Setiap orang sepatutnya dapat menunjukkan ‘kemurnian’ identitas mereka sebagai orang Yehuda sebagai tanda bahwa mereka orang Israel sejati.

Kemudian, salah satu alasan bangsa Israel dan Yehuda dibuang ke Asyur dan ke Babel, respectively, adalah karena mereka tidak setia kepada YHWH dan menyembah kepada ilah-ilah bangsa lain. Dan salah satu alasan mengapa mereka melakukan hal demikian adalah karena praktek kawin campur dengan orang-orang dari bangsa lain, dengan contoh yang paling high profile tentunya Raja Salomo (1 Raj 11.1-13). Karena itu pula kawin campur juga menjadi isu yang sensitif di masa pasca pembuangan dari Babel (bdk. Ezr 10 dan Neh 13.23-31 yang mendokumentasikan kontroversi ini setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan). Silsilah lagi-lagi menjadi lebih signifikan karena hal ini.

Beberapa hal ini menjelaskan mengapa [1-2] Tawarikh dimulai dengan silsilah atau daftar keturunan. Daftar keturunan ini diceritakan dari perspektif Yehuda dan demi suku Yehuda, yang dituliskan ‘melebihi saudara-saudaranya, bahkan salah seorang dari antaranya menjadi raja.’ (5.2) Silsilah garis keturunan Yakub dimulai dari Yehuda (2.1-4.23), dan baru diikuti oleh suku-suku yang lain (4.24 onwards). Selain untuk menunjukkan bagaimana sekarang ‘sejarah’ keturunan Yakub berada di tangan suku Yehuda, kitab ini juga bertujuan agar suku Yehuda tidak mengulangi kesalahan-kesalahan nenek moyang mereka, baik itu saudara mereka dari suku-suku Israel yang lain maupun dari suku Yehuda sendiri: ‘Tetapi ketika mereka [orang Ruben, orang Gad, dan setengah suku Manasye] berubah setia terhadap Allah nenek moyang mereka dan berzinah dengan mengikuti segala allah bangsa-bangsa negeri yang telah dimusnahkan Allah dari depan mereka, maka Allah Israel menggerakan hati Pul, yakni Tilgat-Pilneser, raja Asyur, lalu raja itu mengangkut mereka ke dalam pembuangan, yaitu orang Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye. Ia membawa mereka ke Halah, Habor, Hara dan sungai negeri Gozan; demikianlah mereka ada di sana sampai hari ini.’ (5.25-26) Suku Yehuda telah kembali ke tanah mereka; orang Ruben, orang Gad dan setengah suku Manasye belum.

Pertanyaan mengenai siapakah Israel yang sejati ini akan muncul dan muncul kembali ke permukaan dari masa ke masa dan salah satu masa yang populer adalah dalam kehidupan Yesus dari Nazaret. Matius memulai Injilnya dengan kacamata ini. Ia ingin menjelaskan kepada saudara-saudara sebangsanya betapa Yesus adalah Israel yang sejati; representasi Israel; yang diurapi, Mesias. Karena itu pula ia menggunakan metode yang sama dengan penulis [1-2] Tawarikh dalam membuka kitab yang ia tulis: silsilah.

Silsilah yang ditulis oleh Matius (Mat 1.1-17) dengan yang ditulis oleh penulis [1-2] Tawarikh (1 Taw 1.28-3.24) sendiri memiliki kesamaan sampai titik Zerubabel (1 Taw 3.19, Mat 1.12). Setelah itu ada perbedaan, dimana mungkin penulis [1-2] Tawarikh tidak menuliskan garis keturunan Zerubabel yang lain selain yang ia tulis dan dari garis yang tidak tertulis tersebutlah Yesus lahir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s