yudas makabe tewas

1 Makabe 9.1-22

Raja Demetrius telah mendengar bahwa Nikanor dengan pasukannya tewas dalam pertempuran (bdk. 1 Mak 7.26-50). Nikanor sendiri waktu itu diutus oleh Demetrius karena Bakhides dan Alkimus (yang ingin menjadi Imam Besar) telah kalah terlebih dahulu dalam usaha mereka merebut Yehuda (bdk. 1 Mak 7.1-25). Karena itu, Demetrius pun mengutus Bakhides dan Alkimus lagi untuk kedua kalinya ke negeri Yehuda dengan jumlah pasukan yang lebih besar. Mereka pun berangkat ke Yerusalem dengan 20 ribu orang pasukan berjalan dan 2 ribu orang pasukan berkuda. Melihat jumlah pasukan yang sedemikian banyaknya itu, akhirnya ketakutan pulalah pasukan Yudas, yang berjumlah 3 ribu orang. Hari itu juga, banyak yang melarikan diri dari perkemahan, dan menyisakan 800 orang saja.

Melihat bahwa sebagian besar pasukannya melarikan diri ketika pertempuran semakin mendekat, bahkan Yudas pun remuk redamlah hatinya. Tidak ada waktu untuk mengumpulkan mereka kembali. Meskipun tawar hati (bdk. penghiburan dari YHWH untuk jangan tawar hati di berbagai perikop di Perjanjian Lama; e.g., Yos 1.9), berkatalah Yudas kepada yang masih tertinggal itu: “Ayo, marilah kita menghadapi lawan kita, kalau-kalau kita dapat bertempur dengannya!” Pasukannya membalas: “Kita tidak dapat! Kini kita mesti menyelamatkan hidup kita dahulu. Nanti kita datang kembali bersama-sama dengan saudara-saudara kita lalu bertempur dengan mereka. Kini jumlah kita terlalu sedikit!” Mereka menyarankan, agar mereka mundur terlebih dahulu, agar dapat mengumpulkan kekuatan kembali, baru bertempur dengan mereka. Sekarang kondisinya terlalu tidak seimbang.

Yudas tetap tidak terpengaruh: “Jangan sampai terjadi kita berbuat demikian dan lari dari hadapan mereka! Kalau memang saat kita sudah tiba, biarlah kita mati sebagai lelaki demi saudara-saudara kita! Tetapi janganlah kita mengaibkan kehormatan kita!” (bdk. tulisan Paulus di 1 Kor 16.13, “Bersikaplah sebagai laki-laki!”)

Pertempuran pun dimulai. ‘Bumi gegap gempita karena tempik sorak bala-bala itu.’ (8.13) Akhirnya, jumlah yang tidak seimbang ini memang menjadi faktor penentu hasil perang ini. Bakhides dan Alkimus menang mudah. Dan Yudas Makabe sendiri, tewas dalam pertempuran ini.

Yonatan dan Simon, adik dan kakak Yudas, mengangkut jenazah Yudas dan menguburnya di Modein, tempat dimana ayah mereka juga dikubur (1 Mak 2.70). Segenap bangsa Israel sangat menangisi dan meratapi Yudas. Berhari-hari mereka berkabung dan berkata: “Bagaimana ia dapat tewas yang mampu menyelamatkan Israel!” Yudas Makabe dianggap menjadi penyelamat Israel. Namun harapan itu runtuh karena Yudas mati. Tidak mungkin seorang penyelamat Israel dapat tewas dalam peperangan. Karena itu pula, sulit untuk meyakinkan bahwa Yesus adalah Mesias; bukankah ia mati pula di tangan bangsa Romawi? (I will quickly add that Jesus was risen, unlike Judas Maccabeus, but the ‘problem’ didn’t simply vanish…)

Penulis 1 Makabe menutup kisah hidup Yudas Makabe dengan menulis demikian: “Lain-lainnya dari kisah Yudas, pertempuran-pertempuran serta perbuatan gagah yang diperbuatnya serta keagungannya tidaklah tercatat semua, sebab terlalu banyak.” (8.22; bdk. Yoh 20.30, 21.25)

I hope by this point it is pretty clear that reading Deuterocanonical books is also important to appreciate better the context of the New Testament.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s