an excursus in iscf curriculum

A. Latar Belakang

Salah satu hasil Kongres FES-IM Mei 2006 memandatkan revisi kurikulum ISCF. Ini dengan maksud untuk lebih menajamkan pencapaian visi, memberikan keseimbangan antara tiga pelayanan inti, serta memberi pendekatan integral/utuh terhadap pembinaan yang diberikan kepada para mahasiswa.

Oleh karena itu, pada bulan Juli 2006 dibentuk satu tim revisi kurikulum ISCF yang beranggotakan 11 orang, yang terdiri atas staf, mahasiswa, dan alumni. Tim ini telah bekerja keras dalam setahun terakhir untuk merevisi kurikulum yang terdahulu dan menghasilkan apa yang sekarang disebut: Kurikulum ISCF 2007.

Tujuan revisi kurikulum ISCF kala itu:

– Menajamkan pencapaian visi
– Memberikan keseimbangan antara tiga pelayanan inti
– Memberi pendekatan integral/utuh terhadap pembinaan yang diberikan kepada para mahasiswa

Timeline:

Mei 2006 — Kongres FESIM, memandatkan revisi kurikulum ISCF
Juli 2006 — Pembentukan tim revisi kurikulum ISCF
April 2007 — Kongres Istimewa FESIM, mensahkan penajaman visi dan deskripsi pelayanan inti yang menjadi referensi dasar metodologi dan materi kurikulum
Juli 2007 — Kurikulum 2007 mulai diberlakukan di berbagai kampus dengan metode yang berbeda. Misalnya, di NUS kurikulum baru diaplikasikan secara langsung ke semua tingkat, sementara di NUS NTU diaplikasikan kepada tingkat pertama saja (angkatan 2007). Tingkat kedua (angkatan 2006), ketiga (angkatan 2005), dan keempat (angkatan 2004) masih mengikuti kurikulum lama sampai mereka lulus. Dengan demikian, tahun 2010 akan menjadi tahun pertama dimana kurikulum 2007 akan diaplikasikan secara penuh di NTU.

B. Visi dan Pelayanan Inti

Sejalan dengan itu, satu tim lain telah merumuskan penajaman visi dan deskripsi pelayanan inti. Kedua hal ini menjadi referensi dasar dalam penetapan metodologi dan materi. Kedua hal ini juga sudah ditetapkan dalam Anggaran Dasar FES IM, yang telah disahkan dalam Kongres Istimewa FES IM pada bulan April 2007 yang lalu. Berikut adalah kutipan Pasal 3, yang berkaitan dengan visi dan pelayanan inti.

FES IM sebagai mitra kerja Allah memiliki visi dan misi:

1. Visi:

Menumbuhkembangkan pemimpin-pemimpin yang serupa dengan Kristus yang berperan strategis di tengah kampus, gereja, masyarakat, bangsa, dan dunia bagi kemuliaan Allah.

2. Misi:

a. Memproklamirkan Yesus sebagai Juruselamat, Tuhan dan Allah kepada mahasiswa serta memimpin mahasiswa dan alumni untuk memiliki iman kepada Yesus Kristus secara pribadi.

b. Membina dan memperlengkapi mahasiswa dan alumni untuk memiliki kehidupan seorang murid Kristus yang bertumbuh dan melayani dengan setia di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. Menantang mahasiswa dan alumni untuk men-Tuhankan Kristus dalam seluruh aspek hidupnya.

c. Mendorong mahasiswa dan alumni untuk membawa Injil Kristus sampai ke ujung bumi dengan memupuk wawasan bermisi dan menjadi komunitas yang bersaksi (garam dan terang) di setiap aspek sosial dan budaya.

d. Menjadi wadah persekutuan yang saling menguatkan dan mengasihi bagi mahasiswa dan alumni Indonesia di Singapura.

Hal di atas merupakan penjabaran dari pelayanan utama FES IM, yaitu penginjilan (evangelism), pemuridan (formacion), dan misi (mission).

Untuk mencapai tujuan ini, tim merumuskan (1) penajaman visi dan (2) deskripsi pelayanan inti.

Implikasi dari ‘penajaman visi’ adalah diperbaharuinya visi FES-IM dari yang sebelumnya: “Menghasilkan pemimpin yang tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian, yang berperan strategis di tengah gereja, masyarakat, negara, dan dunia.”

Perbedaan yang signifikan adalah perubahan dari ‘tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian’ menjadi ‘serupa dengan Kristus’ (‘tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian’ sendiri merupakan tripanji GMKI [Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia], latar belakang Anjo, salah satu pendiri ISCF; in case ada yang ingin tahu asal mula tiga klausa tersebut).

Sementara  deskripsi pelayanan inti dijabarkan dalam empat poin misi FESIM:

– Penginjilan/evangelism di poin pertama: “Memproklamirkan…”
– Pemuridan/formacion di poin kedua: “Membina dan memperlengkapi…”
– Misi/mission di poin ketiga: “Mendorong…”

Dan ditambah dengan satu poin mengenai ‘persekutuan’ di poin keempat, untuk menekankan natur pelayanan mahasiswa ini di masing-masing kampus, yaitu sebuah persekutuan.

(interestingly, mengenai visi mungkin sebagian besar cukup familiar, karena lumayan sering disebutkan — bahkan, beberapa kali aku ke ntu-iscf semester ini, somehow selalu disebutkan — sementara mengenai misinya justru sebaliknya, jarang yang mengetahui; namun, di sisi lain, basically misinya adalah ketiga pelayanan inti + persekutuan, hal-hal yang memang dijalani dalam keseharian pelayanan ini; mungkin ini untuk mengilustrasikan dasar dari ketiga pelayanan inti ini dan natur persekutuan pelayanan kita)

Ada beberapa cara untuk melukiskan ketiga pelayanan inti ini. Aku sendiri melihatnya sebagai tiga aspek profil seorang yang berada di dalam Kristus: ia adalah murid Kristus, ia adalah saksi Kristus, dan ia adalah utusan Kristus (interestingly, warta paroki gereja Katolik tempat ayahku beribadah memiliki motto ‘menjadi murid, saksi, dan utusan Kristus’). Penginjilan, pemuridan, misi; saksi, murid, utusan.

Seorang dipanggil menjadi murid Kristus: ia dipanggil untuk menyangkal dirinya, memikul salib, dan mengikut Kristus dan bertumbuh di dalam dan ke arah Kristus yang adalah kepala. Seorang dipanggil menjadi saksi Kristus: ia dipanggil untuk mengabarkan Injil Kristus lewat kata dan tata. Seorang dipanggil menjadi utusan Kristus: sama seperti Bapa mengutus Anak, demikian sekarang Anak mengutus kita; terimalah Roh Kudus (Yoh 20.21-22).

Kemudian, kita tidak dipanggil menjadi murid saja, atau saksi saja, atau utusan saja. Ketiga panggilan ini sepatutnya dijalankan secara berkesinambungan dan saling mengisi satu sama lain. Karena itu pula, materi kurikulum kita didesain dengan pemahaman yang demikian, dengan harapan anggota-anggotanya dapat memenuhi ketiga profil ini. Dengan kata lain, kurikulum kita adalah kurikulum yang ter-integrasi.

Di sisi lain, bagaimana menjadi murid, menjadi saksi, menjadi utusan pun perlu diperhatikan. Kita tidak menjadi murid yang bertumbuh dalam aspek kognitif semata, namun menyangkut keseluruhan aspek hidup kita. Dengan demikian materinya tidak sekedar bersifat informasional, namun transformasional. Kita mengikut Yesus tidak hanya di sebagian aspek hidup kita, namun di segala aspek hidup kita. Kita juga tidak menjadi saksi dalam, misalnya, tutur kata kita saja, namun juga dalam tata kita. Dan, kita tidak hanya diutus ke sebagian aspek saja dalam karya keselamatan Allah, namun mencakup seluruh dunia yang begitu Allah kasihi ini. Inilah aspek integral dalam pencapaian ketiga profil ini.

Untuk merangkum, ketiga pelayanan inti atau ketiga profil ini dijalankan dengan integrated, dan masing-masing profil sendiri dijalankan dengan integral.

Dan, akhirnya, ketiga panggilan ini diasah dan ditempa dalam konteks persekutuan. Tidak ada yang menjadi murid sendiri, tidak ada yang menjadi saksi sendiri, tidak ada yang menjadi utusan sendiri. Kita adalah murid yang bersekutu, saksi yang bersekutu, dan utusan yang bersekutu. Kita adalah persekutuan yang menjadi murid, menjadi saksi, dan menjadi utusan. Kita tumbuh bersama-sama, bersaksi bersama-sama, diutus bersama-sama. Satu persekutuan, tiga panggilan; tiga panggilan, satu persekutuan.

2 thoughts on “an excursus in iscf curriculum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s