the trinitarian faith

Judul: The Trinitarian Faith – The Evangelical Theology of the Ancient Catholic Faith

Pengarang: Thomas F. Torrance

T. F. Torrance (1913-2007) merupakan dosen dogmatika di Universitas Edinburgh selama 27 tahun. Dalam bukunya The Trinitarian Faith, Torrance mencoba menjelaskan berbagai elemen dalam Pengakuan Iman Nicea(-Konstantinopel). Di bab pertama, Torrance memperkenalkan kepada kita tokoh-tokoh utama yang akan mengisi buku ini, seperti Athanasius, bapa-bapa Kapadokia seperti Basil dari Kaisarea, Gregory dari Nissa, dan Gregory dari Nazianzen, dan Epiphanius, dan bagaimana iman dan kesalehan membimbing bapa-bapa gereja ini dalam merumuskan Pengakuan Iman Nicea. Di setiap bab selanjutnya, Torrance akan menggunakan tulisan-tulisan bapa-bapa Nicea ini untuk membantunya dalam menjelaskan berbagai elemen dalam Pengakuan Iman Nicea.

Kemudian, dalam bab kedua, ‘Access to the Father’, Torrance mengemukakan prinsip dasar Bapa-bapa Nicea, yaitu bahwa Allah hanya dapat dikenal dengan sejati lewat Kristus. Allah hanya dapat dikenal lewat Allah sendiri, dan Allah menyatakan diriNya lewat Kristus. Salah satu implikasi pemahaman ini adalah pemahaman kita mengenai Allah sebagai Pencipta dikontrol oleh pemahaman kita mengenai Allah sebagai Bapa. ‘Aku percaya kepada Allah Bapa… Pencipta langit dan bumi.’ Pemahaman ini dan implikasinya pada pemahaman kita mengenai ciptaan diuraikan dalam bab ketiga, ‘The Almighty Creator.’

Kemudian, di bab keempat, ‘God of God, Light of Light’, Torrance menguraikan sebuah frase yang mungkin paling signifikan dalam Pengakuan Iman Nicea dalam menjelaskan natur Kristus, yaitu bahwa Kristus itu homoousion (natur yang sama) dengan Bapa. Hal ini untuk menjawab tantangan Arianisme saat itu (yang menjadi salah satu alasan diadakannya Konsili Ekumenikal di Nicea) yang menyatakan bahwa Kristus bukan Allah dan hanya mirip dengan Allah (homoiousion). Torrance juga menguraikan bagaimana frase ini sendiri akhirnya juga mempengaruhi apa yang dimaksud dengan ‘natur’/ousia, yaitu bukan sebagai sesuatu yang impersonal dan isolasional, namun secara inheren bersifat personal dan relasional. Di bab selanjutnya, ‘The Incarnate Saviour’, Torrance melanjutkan dengan bagaimana pemahaman homoousion ini dikaitkan dengan natur karya Kristus lewat kematiannya di kayu salib dan kebangkitannya dari orang mati.

Torrance melanjutkan dengan ‘The Eternal Spirit’, yaitu bagaimana pemahaman homoousion ini juga berimplikasi pada pemahaman gereja mengenai Roh Kudus, yang akhirnya menelurkan deskripsi ‘mia ousia, treis hypostaseis’ (satu natur, tiga pribadi) untuk mendeskrsipsikan natur Allah. Allah adalah Tritunggal; mia ousia, treis hypostaseis. Sebelum melanjutkan dengan sebuah bab mengenai ‘The One Church’, karena betapa kehidupan Allah Tritunggal tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan gereja itu sendiri: Satu Allah, Satu Tuhan, Satu Roh, Satu Tubuh (Ef 4.4-6). Akhirnya, Torrance menutup dengan menyimpulkan pandangan masing-masing Bapa-Bapa Nicea mengenai Allah Tritunggal dengan bab ‘The Triunity of God.’

Buku ini sangatlah komprehensif dan sangat direkomendasikan bagi setiap dari kita untuk mengenal lebih dalam lagi mengenai Allah Tritunggal yang kita sembah: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s