the death of antiochus epiphanes

1 Makabe 6.1-17

Sudah cukup lama Raja Antiokhus tidak muncul dalam kisah ini. Terakhir kali dikisahkan bagaimana ia mesti menghadapi dua front, Persia dan Yudea, dimana ia menyerahkan tugas untuk menghadapi Yudea kepada Lisias, sementara ia sendiri menghadapi Persia (3.27-37). Lisias sendiri kalah di Yudea, dan Antiokhus mengalami nasib yang serupa. Ia berusaha merebut Elimais, sebuah kota di Persia yang terkenal dengan kekayaan perak dan emas dan alat-alat perang yang ditinggalkan oleh Aleksander Agung, namun gagal karena mendapatkan perlawanan dari penduduk kota itu. Ketika ia kembali, ia mendapatkan berita bahwa di Yudea pun Lisias kalah dan bahkan orang-orang Yahudi telah menahbiskan ulang bait Allah di Yerusalem. Mendegar berita itu, ‘tercenganglah raja dan sangat tergeraklah hatinya. Ia merebahkan diri di ranjang dan jatuh sakit karena sakit hati. Sebab semuanya tidak terjadi sebagaimana diinginkannya.’ (6.8) Ia berbaring di ranjang berhari-hari karena ‘terus-menerus dihinggapi kemurungan besar.’ (6.9)

Sebelum meninggal, ia pun memanggil semua sahabatnya dan berkata, “Tidur sudah lenyap dari mataku dan hatiku hancur karena kemasygulan. Maka dalam hati aku berkata: Kepada keimpitan dan kemalangan manakah aku sampai sekarang ini? Aku ini yang murah hati dan tercinta dalam kekuasaanku! Tetapi teringatlah aku sekarang kepada segela kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang. Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing.” (6.10-13)

Ia pun memanggil Filipus, sahabatnya, memberikannya mahokta kerajaan, jubah serta cincin meterainya, agar Filipus mendidik dan mengasuh putera raja, yaitu Antiokhus V, sehingga dia menjadi raja nanti. Antiokhus IV pun meninggal, dan Antiokhus V pun menjadi raja. (6.14-17)

Di perikop ini kita menemukan bagaimana kematian Antiokhus Epifanes didramatisasi oleh penulis kitab ini. Kematian Antiokhus Epifanes secara sederhana dideskripsikan dengan ia sakit dan mati pada tahun 164 SM. Namun hal ini ditambahkan dengan detil-detil yang mungkin tidak historis per se oleh penulis kitab 1 Makabe, dengan bagaimana dikisahkan Antiokhus menyesal atas perbuatannya kepada Yerusalem dan menjadi insaf. Tentunya, tidak menutup kemungkinan bahwa Antiokhus memang benar-benar menyesal dan insaf. Namun cara penceritaannya memang dibuat untuk melukiskan bahwa kaum Yahudi terbukti benar dan Antiokhus terbukti salah. Jadi kematian Antiokhus Epifanes ini dibaca dengan kacamata iman oleh sang penulis, i.e., sang penulis mencoba menjelaskan mengapa Antiokhus sakit dan mati; ia melihat tangan Allah dalam kejadian ini, dan melahirkan perikop yang kita miliki sekarang ini. (orang Persia sendiri berpendapat bahwa sakit dan kematian Antiokhus disebabkan oleh usahanya untuk merampoki kuil di Elimais/Elam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s