antioch and rome

Salah satu latar belakang surat Paulus kepada jemaat di Roma jika ditinjau dari sudut pandang dua kota dalam hidup Paulus: Antiokhia (di Syria) dan Roma.

Signifikansi Antiokhia

Sebelumnya, Paulus merupakan orang yang diutus bersama Barnabas oleh jemaat di Antiokhia dalam pelayanan pekabaran Injilnya ke Mediterania Timur (Turki, Yunani). (Kis 12.24-13.3 – dalam perkembangannya, Paulus akan berpisah dengan Barnabas dan menempuh jalan mereka masing-masing) Antiokhia adalah basis pelayanan misi Paulus. Dalam ketiga perjalanan misinya, Paulus selalu memulai dari Antiokhia. Akhirnya, ketika ia kembali dari perjalanan misinya yang ketiga (warna biru di gambar di bawah ini), ia keburu ditangkap terlebih dahulu di Yerusalem dan tidak sempat kembali ke Antiokhia.

paul-map

Apa yang terjadi di Antiokhia

Paulus pernah mendapatkan satu masalah di Antiokhia, yaitu ketika beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” (Kis 15.1-2) Tentu saja, Paulus (dan Barnabas saat itu) dengan keras melawan dan membantah pendapat umat berlatar belakang Yahudi ini (perhatikan bahwa Paulus adalah seorang Yahudi pula). Masalah ini beruntut panjang dan akhirnya mesti diselesaikan lewat konsili rasul-rasul pertama di Yerusalem, i.e., masalah pertama yang dibahas di konsili rasul adalah mengenai status kaum non-Yahudi dalam umat Allah. Masalah ini dapat diselesaikan lewat surat keputusan rasul-rasul yang memutuskan supaya “kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini” – menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan pada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan. Umat non-Yahudi tidak perlu disunat untuk menjadi bagian dalam umat Allah. (Kis 15.23-29)

Bagaimanapun juga, ternyata masalah ini belum berakhir di sini. Beberapa waktu kemudian, Petrus datang ke Antiokhia. Ketika itu ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat (non-Yahudi), namun setelah beberapa orang dari kalangan Yakobus (saudara Yesus) datang, Petrus mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat (perlu ditekankan ini adalah orang-orang Yahudi yang telah percaya, bukan yang belum percaya). Dan akhirnya, karena melihat Petrus ini, akhirnya orang-orang Yahudi yang lain pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Petrus; bahkan Barnabas sendiri turut terseret oleh hal ini. Paulus menganggap hal ini sebagai ‘kemunafikan’, hupokrisis, karena sebenarnya Petrus dan Barnabas telah sepenuhnya memahami bahwa tiada lagi perbedaan antara kaum Yahudi dan non-Yahudi. (Paulus: Kis 10.1-11.18, Barnabas: 15.1-2) Bagi Paulus, hal ini ‘tidak sesuai dengan kebenaran Injil’, dan karena itu ia melabrak mereka. Ia menuliskan pengalamannya ini di suratnya kepada jemaat di Galatia (Gal 2.11-14), yang memiliki masalah yang sama seperti yang telah terjadi di Antiokhia (Gal 1.7-9), yaitu ketentuan agar umat non-Yahudi perlu melakukan ketentuan-ketentuan hukum Taurat agar dapat menjadi umat Allah yang sejati. Hal ini juga menjadi bibit masalah pula di Filipi, walau dengan derajat yang lebih ringan. (Fil 3) Inilah satu masalah yang pernah terjadi di Antiokhia.

Asal mula jemaat di Roma

Pada hari Pentakosta, salah satu kelompok yang hadir adalah ‘pendatang-pendatang dari Roma’ (Kis 2.10), dan presumably dari merekalah jemaat di Roma lahir.

Paulus sendiri juga menulis bahwa ia belum pernah mengunjungi jemaat di Roma. Hal ini dapat kita ketahui dari bagaimana ia mengungkapkan betapa ia ingin mengunjungi jemaat di Roma (1.8-15, 15.22-24). Walaupun demikian, iman jemaat di Roma telah tersebar di seluruh dunia (1.8), dan kemungkinan besar Paulus mengetahui hal ini lewat anggota jemaat Roma itu sendiri yang pergi dari Roma. Hal itu misalnya dapat kita lihat di penutup surat Roma, dimana Paulus, seperti biasa, memberikan salam ke banyak orang. (16.1-16) Yang unik tentunya adalah ia belum pernah pergi sendiri ke Roma, jadi yang terjadi mesti sebaliknya. Sebagian dari orang-orang yang diberi salam ini merupakan bagian dari jemaat di Roma dan mereka pernah bertemu dengan Paulus di suatu tempat.

Hal ini mungkin terjadi ketika pada tahun 49-54 Masehi, orang Yahudi diusir dari Roma oleh Kaisar Klaudius. Seorang sejarawan Romawi, Dion Cassius, menginformasikan bahwa keputusan pengusiran ini mengakibatkan sinagog ditutup dan beberapa grup Yahudi dibubarkan. Dari antara orang-orang Yahudi yang diusir ini mencakup yang percaya maupun yang tidak percaya, dan termasuk di dalamnya adalah Priskila dan Akwila, yang dikisahkan oleh Lukas di Kisah Para Rasul demikian, “Akwila, yang berasal dari Pontus (timur laut Turki saat ini, selatan Laut Hitam), baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma.” (Kis 18.2) Mereka lari ke Korintus, dan disana mereka bertemu dengan Paulus, yang sampai di kota itu pada tahun 51 Masehi. Di sinilah Paulus mengenal keduanya, dan mengenal jemaat di Roma. Tidaklah heran bahwa orang pertama yang diberi salam oleh Paulus di suratnya ke jemaat di Roma adalah Priskila dan Akwila, “teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.” (16.3 – Febe/Phoebe di ay. 1-2 adalah orang yang dipercayakan oleh Paulus untuk mengirimkan surat ini) Sebelumnya Priskila dan Akwila adalah pemimpin di jemaat di Roma, dan sekarang mereka telah kembali ke Roma. Mereka sempat menemani Paulus di Efesus (Kis 18.18-19, 1 Kor 16.3) sebelum Paulus meninggalkan mereka di sana dan ia kembali ke Antiokhia. Presumably, saat Paulus menulis surat ini, ia tahu bahwa Priskila dan Akwila sudah kembali ke Roma. (i.e., surat ini ditulis setelah keputusan kaisar dicabut) Dengan dasar yang sama, hal ini mengindikasikan bahwa anggota jemaat di Roma yang berlatarbelakang Yahudi juga telah kembali ke Roma.

Apa yang terjadi di Roma

Peristiwa pengusiran orang Yahudi ini pulalah yang mungkin juga merupakan salah satu titik krusial dalam konteks surat Paulus kepada jemaat di Roma. Seperti yang telah ditulis sebelumnya, pada tahun 49-54 Masehi, orang Yahudi diusir dari Roma. Dalam bukunya mengenai kaisar Claudius, sejarawan klasik Romawi, Suetonius, menulis demikian, “Iudaeos impulsore Chresto assidue tumultuantes Roma expulit.” (Suetonius, Claudius, 25) Yang berarti, “the Jews who were continually rioting at the instigation of Chrestus he (Claudius) expelled from Rome.” Kekristenan di Roma, presumably terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi, telah mendapatkan perlawanan oleh orang Yahudi yang lain, dan menimbulkan kekacauan di bagian Yahudi kota Roma. Hal ini memaksa pemerintah saat itu untuk mengambil tindakan keras dan mengusir orang Yahudi dari kota Roma.

Untuk menuliskan ‘Chrestus’ untuk ‘Christus’ bukanlah suatu praktek yang asing bagi sejarawan Latin, karena ‘Chrestus’ adalah nama yang digunakan di Roma (dibuktikan dengan adanya catatan arkeologi), dan baik Tertulian (bapa gereja di akhir abad ke-2) dan Lactantius menyebutkan bahwa pada jaman mereka penulisan yang lebih umum adalah ‘Chrestus’ dan ‘Chrestianos’ untuk ‘Christus’ dan ‘Christianos.’ Kata dalam bahasa Perancis ‘chrétien’ (bentuk maskulin dari Christian) yang berlaku sampai hari ini adalah satu indikasi lagi bahwa mode pengucapan seperti ini pernah berlaku dahulu, sampai sekarang.

Signifikansi Roma

Motivasi Paulus sendiri untuk pergi ke Roma, adalah agar “dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu.” (15.24) Paulus ingin menjadikan Roma sebagai basis pelayanan misinya yang baru, setelah Antiokhia. Ia boleh dibilang telah menyelesaikan tugasnya, dengan memberitakan Injil dari Yerusalem ke Ilirikum dan sekarang ia “tidak mempunyai tempat kerja di daerah ini” lagi. (15.19, 23) Sekarang saatnya untuk pergi ke area yang lebih luas. Dan Paulus bercita-cita untuk pergi ke Spanyol. (15.24) Dan, dalam perjalanannya ke sana, ia berharap agar jemaat di Roma bisa menjadi bagaimana sebelumnya jemaat di Antiokhia bagi Paulus.

“Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma…”

Berbagai faktor inilah yang dapat membantu kita dalam memahami motivasi Paulus dalam menuliskan suratnya ini kepada jemaat di Roma, yaitu Paulus menginginkan agar jemaat di Roma untuk:

  1. replacing Antioch, but
  2. not replicating Antioch.

Paulus ingin agar jemaat di Roma bisa menggantikan Antiokhia sebagai basis pelayanan misinya ke Spanyol, namun di sisi lain Paulus juga tidak ingin apa yang terjadi di Antiokhia terulang kembali di Roma, walau sekarang kondisinya berbeda. Apa yang terjadi di Antiokhia, Galatia, dan menjadi bibit di Filipi adalah semacam philo-Judaism, dimana ada kecenderungan agar kaum non-Yahudi perlu mengikuti berbagai ketentuan-ketentuan agama Yahudi agar dapat menjadi umat Allah yang sejati. Bentuk utamanya adalah ‘sunat’, yang menjadi pokok permasalahan di Kis 15. Sementara itu, di sisi lain, di Roma justru mungkin ancaman latennya adalah anti-Judaism, dimana sekarang kaum Yahudi baru saja kembali dari ketetapan pengusiran oleh kaisar, presumably kepada jemaat non-Yahudi yang sekarang jauh lebih besar jumlahnya. Konteks inilah yang mengindikasikan bahwa bagian jemaat non-Yahudi perlu diingatkan kembali akan akar Ibrani dari iman kristiani. Disini Paulus ingin mengantisipasi agar umat non-Yahudi tidak merasa lebih superior dibandingkan umat yang Yahudi (dan sebaliknya). Paulus mengharapkan agar lewat suratnya ini, jemaat di Roma bisa menjadi jemaat yang kokoh dan solid yang dibangun di atas Injil, agar lewat kesatuan jemaat di Roma, mereka dapat menopang Paulus dalam perjalanan misinya ke Spanyol. Gereja, teologi, dan misi teruntai menjadi satu di dalam surat ini.

2 thoughts on “antioch and rome

  1. Pancha W. Yahya

    Sebuah pengamatan yang cerdas. Tidak semua orang bisa mengamati dari perspektif ini! Memang betul yang ditulis oleh Septian, bahwa salah satu tujuan Paulus menulis surat Roma adalah mempersiapkan mereka menjadi home base pelayanan Paulus berikutnya (Spanyol). Untuk itu, Paulus ingin mereka terlebih dahulu satu pikiran dan satu hati mengenai injil itu sendiri. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan semua orang, pertama-tama orang Yahudi dan kemudian orang Yunani (non-Yahudi). Jadi, Paulus ingin menekankan bahwa tidak ada warga kelas dua di dalam gereja. Orang Yahudi bukan kelas utama karena mereka adalah umat pilihan. Demikian juga orang non-Yahudi bukan pula lebih unggul karena mereka mayoritas (selain isu antisemitisme). Jadi mereka harus sehati mendukung misi Paulus yang menjangkau semua orang (kata “semua” dalam Surat Roma berarti: Yahudi dan non-Yahudi). Septian, maju terus!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s