dogs, evilworkers, and mutilators of the flesh

Filipi 3

Dalam perikop ini, Rasul Paulus secara khusus mencoba menangani satu masalah tertentu yang mungkin sekarang sudah tumbuh bibit-bibitnya di jemaat di Filipi. Masalah ini dilaporkan oleh Epafroditus yang diutus oleh jemaat di Filipi untuk melayani Paulus dalam penjara (2.25-30), dan sekarang Paulus akan memberikan jawaban mengenai bagaimana jemaat di Filipi dapat mengatasi masalah ini. Bagi Paulus, ‘menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.’ (3.1) Ia sudah sering menghadapi masalah ini lagi dan lagi. Masalah yang dimaksud adalah masalah yang serupa yang ditemukan di jemaat di Galatia, walau belum berada pada level yang sama. Karena itu, nada Paulus di bagian ini berbeda dengan di suratnya kepada jemat di Galatia, dimana ia sudah sampai pada poin mengutuk. (Gal 1.6-9) Masalahnya yaitu usaha-usaha oleh beberapa orang yang memaksa jemaat, terutama bagi yang non-Yahudi, untuk mengadopsi ketentuan-ketentuan agama Yahudi terlebih dahulu agar mereka sepenuhnya dapat menjadi umat Allah, misalnya dengan disunat. Masalah ini merupakan masalah yang dibicarakan dalam konsili rasul-rasul pertama di Yerusalem (Kis 15) menanggapi insiden yang sama yang terjadi di Antiokhia, dan akhirnya terjadi pula di Galatia, dan sekarang sudah muncul bibit-bibitnya di Filipi.

Karena itu, Paulus memperingatkan agar jemaat di Filipi untuk berhati-hati terhadap ‘anjing-anjing’, ‘pekerja-pekerja yang jahat’, dan ‘penyunat-penyunat yang palsu.’ Paulus dengan sengaja memutarbalikkan kategori-kategori yang digunakan waktu itu di dalam agama Yahudi. ‘Anjing’ adalah sebutan untuk kaum non-Yahudi (bdk. Mat 15.21-28), namun Paulus justru mengatakan bahwa kaum yang ingin memaksakan sunat inilah yang ‘anjing.’ Sunat merupakan bagian dari ‘perbuatan-perbuatan baik’ menurut hukum Taurat (works of the law), namun Paulus justru mengatakan bahwa kaum yang ingin memaksakan sunat inilah yang merupakan ‘pekerja-pekerja yang jahat’ (KJV: evil workers). Terakhir, walau kaum yang memaksakan sunat ini (ESV: those who mutilate the flesh) merasa bahwa sunat adalah jalan menjadi umat Allah, namun Paulus justru mengatakan bahwa mereka adalah ‘penyunat-penyunat yang palsu.’ (3.1) Indeed, selanjutnya Paulus menyebutkan bahwa justru kitalah ‘orang-orang bersunat’! (3.2)

Bagaimanapun juga, mungkin lebih mudah untuk mendiskreditkan kategori-kategori umum ini jika orang tersebut memang non-Yahudi sedari semula. Namun, tidak demikian dengan Paulus. Karena, jika ada orang yang sepatutnya ingin memaksakan sunat semacam itu, orang yang paling tepat adalah Paulus itu sendiri! Karena ia adalah orang Yahudi setulen-tulennya.

Ia disunat pada hari kedelapan (memenuhi ketentuan perjanjian antara Allah dengan Abraham di Kej 17). Ia dari bangsa Israel (bukan dari Ismail atau Esau). Ia dari suku Benyamin (yang bersama suku Yehuda merupakan dua suku tersisa dari kerajaan Yehuda yang sempat dibuang ke Babel, dimana sepuluh suku lainnya yang dibuang ke Asyur mengalami nasib yang lebih tidak jelas). Ia orang Ibrani asli (tidak berasal dari kawin campur dengan bangsa lain, yang lebih umum terjadi pada sepuluh suku lainnya).

Tentang pendirian terhadap kaum Taurat, ia seorang Farisi (kaum Puritan yang jauh lebih ketat dalam menjalankan ketentuan-ketentuan agama). Tentang kegiatan (zeal – semangat) ia penganiaya jemaat (yang dianggap sekte sesat waktu itu, dan tugas seorang Yahudi yang tulen adalah memberantas segala macam kesesatan semacam ini agar kemurnian ajaran tetap terjaga). Sesungguhnya, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat ia tidak bercacat.

Sekiranya ada orang yang ingin memaksakan sunat kepada jemaat, orang yang mungkin paling siap sedia untuk melakukan hal itu justru adalah Paulus sendiri. Namun, ia tidak melakukannya. Karena baginya sekarang ‘segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.’ (3.8) Kaum non-Yahudi tidak perlu untuk disunat untuk menjadi bagian dari umat Allah, namun ditemukan di dalam Kristus semata yang dianugerahkan berdasarkan iman/pistis. Yang Paulus kehendaki sekarang, dan sepatutnya diikuti oleh semua jemaat, baik itu Yahudi maupun non-Yahudi, adalah untuk ‘mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.’ (3.10-11) Bersekutu dalam penderitaan, serupa dalam kematian, dan beroleh kebangkitan pada akhirnya. Partisipasi dalam kematian dan kebangkitan Yesus, itulah tanda yang menjadi ciri umat Allah yang sejati; yang ditandai secara publik dengan baptisan kita, menjadi bagian dari hidup sehari-hari kita dimana kita senantiasa perlu menyangkal diri dan hidup seturut dengan natur manusia baru, mengambil bagian dalam keluhan dan pemulihan dunia ini, dan masih menjadi pengharapan yang baru sepenuhnya akan tercapai ketika Yesus datang kedua kali (three-fold past, present, dan future sense of death-and-resurrection).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s