on significance

Salah satu adegan yang cukup berkesan di Night at the Museum (yang pertama, nontonnya pas hari Minggu kemarin bareng anak-anak yang datang ke rumah) adalah ketika duo JedediahOctavius berusaha menggembosi ban mobil milik tiga penjaga museum yang ingin merampoki museum tersebut. Keduanya adalah boneka ukuran miniatur yang senantiasa bertengkar satu sama lain sebelum bersatu demi menggagalkan usaha ketiga penjaga museum ini.

Yang berkesan adalah bagaimana usaha mereka untuk menggembosi ban tersebut yang terlihat epik (karena mereka berukuran kecil, jadi kesannya mereka harus berjuang melawan ‘angin puyuh’ dari gas ban yang kempes tersebut) yang dikontraskan dengan sebenarnya tidak ada yang terjadi ‘di luar sana’, yang ditandai dengan pergeseran fokus gambar dari Jedediah dan Octavius (yang berskala kecil) ke mobil itu sendiri, dimana mereka berdua tidak terlihat, gas dari ban itu tidak terasa, dan mobil itu tidak bergerak. Nothing really happens.

Satu adegan, yang mungkin ingin menyampaikan pesan bahwa seringkali kita terlalu melebih-lebihkan signifikansi dari apa yang kita kerjakan. Berpikir bahwa apa yang kita kerjakan itu sangatlah penting, namun pada kenyataannya tidak berguna.

Walau, di sisi lain, kemudian kita menemukan bahwa apa yang dilakukan oleh Jedediah dan Octavius ternyata memang berguna, dengan mereka berhasil membuat keempat ban mobil itu kempes sehingga mobil tersebut tidak dapat digunakan lagi.

So, I guess, we need to look ourselves in a proper perspective. It goes both way. Di satu sisi, apa yang kita kerjakan itu intrisically matters. Whether you eat or drink, it really matters. Namun, di sisi lain, hal tersebut tetap tidak dapat diperbandingkan dengan bagaimana Allah akan menciptakan kembali langit dan bumi nanti. Untuk sebagian, kita perlu menyampaikan kabar baik, bahwa apa yang kita kerjakan di muka bumi ini sungguh-sungguh bermakna; apalagi kepada kawan-kawan kita yang mungkin masih mempertanyakan apakah ada makna dan tujuan dalam hidup ini. Namun, bagi sebagian yang lain, kita juga perlu menyampaikan sebuah peringatan, untuk tidak terlalu think highly of ourselves, dan untuk belajar mengarahkan pandangan kita kepada Allah semata dalam karya pembaharuan dunia ini; kali ini, bagi kawan-kawan kita yang mengejar segala impiannya mungkin demi dirinya sendiri semata. It goes both way, and sometimes it is difficult to hold both together.

St. Paul would express it this way, “I worked harder than any of them, though it was not I, but the grace of God that is with me.” I worked really hard, because I know that what I do will not be in vain. And yet, after everything had been said and done, we found that it was the grace of God that works within us.

2 thoughts on “on significance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s