lady wisdom and lady folly

Ams 9.1-6, 13-18

A text that we discussed last night at the workshop. Lady Wisdom vs Lady Folly.

Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya, memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya. Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota: “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya: “Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur; buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”
(Pro 9:1-6)

Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya,
memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya.
Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota:
“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya:
“Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur;
buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”

Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.
Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota,
dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata:
“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:
“Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya.”
Tetapi orang itu tidak tahu, bahwa di sana ada arwah-arwah dan bahwa orang-orang yang diundangnya ada di dalam dunia orang mati.

(Ams 9.1-6, 13-18)

Kedua bagian ini dapat disandingkan secara paralel dan dibaca dengan cara yang lain, (actually, it is much easier to present these statements side-by-side)

Hikmat (a ‘she’ also): (1-2)

Hikmat telah mendirikan rumahnya, menegakkan ketujuh tiangnya,
memotong ternak sembelihannya, mencampur anggurnya, dan menyediakan hidangannya.

Perempuan Bebal: (13)

Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.

Hikmat menyiapkan perjamuan makan yang akan ia adakan dengan sepenuh tenaga, sementara Perempuan Bebal hanyalah seorang yang cerewet dan tidak tahu apa-apa.

Hikmat: (3)

Pelayan-pelayan perempuan telah disuruhnya berseru-seru di atas tempat-tempat yang tinggi di kota:

Perempuan Bebal: (14-15)

Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota,
dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata:

Hikmat dan Perempuan Bebal sama-sama memanggil. Hikmat menyuruh pelayan-pelayan perempuannya, sementara Perempuan Bebal duduk di depan pintu rumahnya dan memanggil dari sana.

Seorang yang menyuruh pelayan-pelayannya untuk mengundang orang-orang ke dalam perjamuan makan mungkin adalah imajeri yang digunakan oleh Yesus dalam perumpamaan yang ia utarakan mengenai Kerajaan Sorga, dimana Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya, dan menyuruh hamba-hambanya untuk memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu. (Mat 22.1-15) Jadi, undangan yang disampaikan Hikmat mungkin memiliki gema royal feast/kingdom banquet yang sama.

Sementara itu, perempuan yang duduk di depan pintu rumah dan memanggil-manggil orang dari sana memiliki imajeri perempuan sundal/cult prostitute. (Ams 7, Kej 38 — kisah Yehuda dan Tamar)

Keduanya bertempat di ‘tempat-tempat yang tinggi di kota.’ Hal ini merupakan imajeri untuk tempat peribadatan. ‘Bukit-bukit pengorbanan’ merupakan salah satu kekejian yang dilakukan oleh bangsa Israel saat itu. Bait Allah pun juga terletak di dataran tinggi. Belum lagi dengan imajeri Gunung Sinai/Moria dst dst. Jaman itu, gunung diidentikkan dengan ibadah. (dan jaman sekarang pun demikian, whether it is literally or metaphorically — anything “up” is better) Karena itu, ajakan makan ini ‘di tempat-tempat yang tinggi di kota’ ini bukanlah sekedar ajakan makan yang sederhana, namun juga memiliki imajeri ibadah.

Hikmat: (4)

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada yang tidak berakal budi katanya:

Perempuan Bebal: (16)

“Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari”; dan kepada orang yang tidak berakal budi katanya:

Isi ajakannya, dan kepada ajakan ini ditujukan sama. Kita semua diperhadapkan kepada Hikmat dan Perempuan Bebal, tidak ada yang terkecuali. Kata ‘tak berpengalaman’ di sini sama dengan kata ‘tidak berakal budi.’ Dan, menarik bahwa salah satu karakter Perempuan Bebal adalah ‘tidak berpengalaman.’ (ay. 13) ;)

Hikmat: (5)

“Marilah, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur;

Perempuan Bebal: (17)

“Air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya.”

Hikmat menawarkan roti dan anggur yang ia telah siapkan (rotiku, anggur yang telah kucampur), sementara Perempuan Bebal menawarkan air dan roti yang ia telah curi (air curian, roti dengan sembunyi-sembunyi).

Hikmat menawarkan roti dan anggur, sementara Perempuan Bebal menawarkan air dan roti. Tentunya, kita mengingat bagaimana perbedaan kualitas anggur dengan air dalam perjamuan lewat kisah perjamuan kawin di Kana (Yoh 2.1-11).

Yang menarik pula adalah struktur roti-anggur-air-roti (A-B-B’-A’). Struktur ini dapat ditemukan pula di teka-teki Simson, “Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.” (Hak 14.14), yang dijawab oleh orang-orang Filistin demikian,  “Apakah yang lebih manis dari pada madu? Apakah yang lebih kuat dari pada singa?” (Hak 14.18), i.e., kuat/makan-manis/makanan-manis/madu-kuat/singa. (yang dijawab oleh Simson dengan puisi lagi! Hak 14.18b)

Selain itu, bentuk kalimat yang digunakan oleh Hikmat adalah kalimat perintah/ajakan: “marilah, makanlah, minumlah.” Sementara bentuk kalimat yang digunakan oleh Perempuan Bebal adalah pernyataan biasa dengan nuansa godaan. Kontrasnya adalah ajakan/undangan Hikmat dengan godaan Perempuan Bebal. Yang memberikan hint implisit (eksplisit?) tentang mana yang harus dituruti. Antara Hikmat dan Perempuan Bebal bukanlah dua pilihan yang netral. Pembaca diajak untuk menyadari bahwa ada satu pilihan yang tepat dan satu pilihan yang keliru.

Terakhir, rasa roti dan anggur yang ditawarkan oleh si Hikmat tidak disebutkan. Sementara Perempuan Bebal menawarkan air yang manis dan roti yang lezat.

Hikmat: (6)

buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.”

Perempuan Bebal: (18)

Tetapi orang itu tidak tahu, bahwa di sana ada arwah-arwah dan bahwa orang-orang yang diundangnya ada di dalam dunia orang mati.

Hikmat memberikan kalimat perintah: “buanglah, ikutilah.” Sementara penulis Amsal memberikan komentar mengenai orang yang mengikuti jalan Perempuan Bebal, bahwa ia akan menuju ‘dunia orang mati.’ Kembali, yang satu merupakan perintah/ajakan, yang lain merupakan komentar, yang mengindikasikan mana yang harus dipilih.

Yang satu membawa kepada ‘hidup’, yang lain membawa kepada ‘dunia orang mati.’

Orang yang datang adalah orang yang tidak berpengalaman/tidak berakal budi, dan di Hikmat orang itu disuruh untuk membuang kebodohannya (kata yang sama dengan tidak berpengalaman/tidak berakal budi). Sementara, di Perempuan Bebal, orang ini tidak akan berubah. Atau, mungkin lebih tepatnya, tetaplah sama dengan Perempuan Bebal, yang juga disebut ‘tidak berpengalaman.’ (ay. 13)

Mengikut Hikmat, seorang yang bodoh (kita semua) diajak untuk menanggalkan kebodohannya. Mengikut Perempuan Bebal, seorang yang bodoh (kita semua) akan tetap berkubang dalam kebodohannya.

4 thoughts on “lady wisdom and lady folly

    1. septian Post author

      kesan pesan gimana jron.
      on the workshop itself senang krn akhirnya bisa bawain ke angkatan lu org =p *sentimental*

      Reply
      1. hezron

        senang walaupun banyak pencobaan (dari Garlia) :-D

        eh ak kemaren lupa tanya. jadi kalo di Mazmur orang boleh mengekspresikan marahnya dia sampe dia pengen musuhnya sampe hancur bener-bener hancur, apa kita juga boleh express itu juga ke Tuhan? contoh kita ngomong “Tuhan, semoga ntar dia kena bencana deh” karena kita begitu kesel, kedengarannya kasar sih, tp kita kan jujur sama Tuhan :P

        Reply
        1. septian Post author

          hmm ptanyaan sulit =p dan emg ud byk yg mencoba bgumul dg hal ini, jd klo mau cari2 sumber lain ckp byk referensinya. anw, here’s my personal opinion.

          spontaneously we will said this kind of prayer again and again (we are human), but then of all people that deserve to pray it (it was called imprecatory prayer), it was Jesus. but he didnt recite this kind of prayer when he was on the cross. he asked for forgiveness.

          in the same vein, Paul asked us to bless those who persecute us. so, though perhaps at first we spontaneously prayed, ‘o Lord could you please punish that person’ or whatever, i think we should follow it (with lots of struggle, no doubt) with a prayer to bless the perpetrator. better still (the difficulty in doing this wont be underestimated, as our personal experiences attested), to bless at first hand.

          in Adam, we curse. in Christ, we bless. (again, it aint easy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s