carnis resurrectionem

Frase ‘kebangkitan daging’ (carnis resurrectionem) dicetuskan di pertengahan abad kedua untuk menghadapi pandangan-pandangan yang mulai bermunculan di dalam gereja sendiri bahwa yang akan dibangkitkan nanti hanyalah ‘jiwa’ semata. Karena itu, apologis-apologis kala itu memberi penekanan yang lebih kepada ‘daging’ yang mengakibatkan adanya pergeseran dari frase ‘kebangkitan orang mati’ yang lebih cukup umum digunakan di keempat Injil dan tulisan-tulisan Paulus, untuk menekankan bahwa ‘daging’ (tubuh) juga dibangkitkan. Walau, penggunaan kata ‘daging’ secara eksplisit akhirnya mengakibatkan mereka perlu menjelaskan 1 Kor 15.50, yang menyebutkan bahwa ‘daging dan darah tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.’

Faktor sejarah ini pulalah yang mungkin menjelaskan mengapa teks Pengakuan Iman Rasuli berbunyi ‘kebangkitan daging’, bukan ‘kebangkitan orang mati’ atau ‘kebangkitan tubuh’, walau tentunya kedua varian ini juga digunakan di berbagai gereja saat ini (mis. ‘daging’: GPBB, ‘orang mati’: GKI, ‘tubuh’: CLPC), yang mungkin didasari oleh berbagai hal, misalnya, untuk menghindari kesulitan yang ditimbulkan oleh frase tersebut jika dipadankan dengan 1 Kor 15.50. Walau, sekali lagi, kita perlu menghargai latar belakang mengapa frase ini bisa muncul, yaitu untuk meng-counter pandangan ‘kebangkitan jiwa-saja’, yang mengakibatkan kata yang digunakan, ‘daging’, memiliki nuansa yang cukup kuat, untuk menekankan bahwa ‘daging’/tubuh juga dibangkitkan. Sebuah nuansa yang mungkin tidak terlihat secara eksplisit dalam frase ‘kebangkitan orang mati.’ Walau hal ini lagi-lagi sungguh tergantung konteks budaya, jaman, dan lokasi umat yang bersangkutan.

(I read this yesterday in a book, and personally I found it interesting and helpful to know the historical background of a phrase that you confess over and over again every week)

7 thoughts on “carnis resurrectionem

    1. septian Post author

      One explanation was by saying that ‘flesh’ in 1 Cor 15.50 referred to ‘works of the flesh’, not ‘flesh’ per se.

      I think this is the perennial difficulty resulted from this rhetorical move (from ‘resurrection of the dead’ to ‘resurrection of flesh’), which makes appreciation of context from which the phrase was coined becomes essential. :)

      Reply
      1. yosua

        I see.. thank you very much. This is indeed interesting for I always use “ressurection of the dead” for I’m still ambiguous in catching the significancy of “flesh” in eternal life.. Which makes me exclusive of these “context appreciator” :P

        Yet, if the appreciation of context due to the move is becoming essential here, I don’t think it’s “rhetorical” anymore. As a result we could have another interpretation of “flesh only without soul” resurrection due to its usage..

        However, in this case, does that means our church is eagerly sure that it will be a “flesh resurrection”? Any suggestion on significancy of “flesh”?

        Reply
        1. septian Post author

          haha btr ya yos gw jwbnya, ini gw lg ketawa, i cant imagine that actually we are talking to each other in english hahaha. will revert back to ur question later. =p

          ok. on a more serious note…

          i hope i understand ur questions correctly.

          pertama, im not sure klo frase ini bisa mengakibatkan pemahaman ‘flesh only without soul’, since sepanjang pengalaman gw, biasanya yg perlu dibela itu adalah bahwa ‘tubuh’ akan dibangkitkan, sedangkan biasanya mengenai ‘jiwa’ biasanya orang-orang udah percaya kalau ‘jiwa’ ini bakal memiliki so-called ‘afterlife’, esp. with current popularity of belief that ‘heaven’ is the end/goal. (well, it isn’t) gw blm perna ketemu yg percaya ‘tubuh’ saja tanpa ‘jiwa’ hehe.

          kedua, sebenarnya bahwa ‘tubuh’ akan dibangkitkan itu sudah dikonotasikan lewat frase ‘resurrection’ nya itu sendiri. resurrection (of the dead) always means resurrection of the body. cm, masalahnya, ketika kata berpindah tempat, ia bisa kehilangan nuansa konotasi yang ia miliki, sehingga terkadang perlu untuk menegaskan secara denotatif makna yang sebenarnya sudah ada secara konotatif. hence we have resurrection of the body.

          so, to sum up:

          1. sebenarnya frase ‘kebangkitan orang mati’ itu, on itself, sudah mengkonotasikan kebangkitan badani.

          2. hanya saja, karena tendensi untuk mengutamakan ‘jiwa’ yang prevalen di berbagai jenis kepercayaan (plato, gnostik, dst.) dan menganggap ‘tubuh’ sebagai hal yang sekunder, mungkin perlu untuk menggunakan kata ‘tubuh’/’badani’ untuk meng-counter tendensi ini. i.e., we have ‘kebangkitan tubuh.’

          3. untuk ‘kebangkitan daging’, awalnya itu merupakan langkah retorik untuk meng-counter pandangan bahwa tubuh tidak dibangkitkan, jiwa saja. dan, sama seperti kebanyakan langkah retorik, kadang ia, boleh dibilang, ‘berlebihan’, to deliver the point. did they go too far? perhaps. but, were they important to the history of the church? certainly they were. they were the ones who defended this article of faith relentlessly.

          and, finally, yes, ‘body’ (lets just say, we use ‘body’ instead of ‘flesh’) is important in the resurrection and the church is pretty sure about it. we started with ‘heavens and earth’, and we will end up with ‘new heavens and new earth.’ to live in the new earth, we need our (new, raised) body, so to speak.

          personally i am perfectly fine with all three formulations, walau 1) ‘kebangkitan orang mati’ perlu disertai dengan pemahaman bahwa ‘kebangkitan’ pada dasarnya berarti ‘kebangkitan tubuh’ dan 2) ‘kebangkitan daging’ mungkin perlu disertai dengan setidaknya awareness mengenai latar belakang sejarah munculnya frase ini (what it really wants to say is that the body will be, will be, will be raised) agar tidak serta-merta dipadankan dengan kata ‘daging’ yang secara umum memiliki konotasi cukup negatif di PB.

  1. yosua

    cool, bener2 baik insightnya. Thanks banget sep!
    Bener.. biasanya kata “daging” disepadankan dengan konotasi negatif, which is exactly why I prefer to sound “differently” when we said it every week. I think it’s better to speak what you believe in (walau mungkin dicurigain sama yang sebelah) rather than simply don’t understand what u’re saying but still saying it…

    What am I saying?? Oh ya.. Thanks!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s