yang dianggap terbesar

Luk 22.24-30

Aku pikir, pertengkaran di antara para murid Yesus mengenai siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka, tidak didasari pemahaman mereka bahwa Yesus akan menderita dan disalib. Memang, Yesus telah berkata hal demikian kepada mereka sampai tiga kali, namun tiga kali pula mereka tidak mengerti hal itu. (Luk 9.22-27, 9.43b-45, 18.31-34) Di bayangan mereka, Yesus akan ke Yerusalem, berperang melawan Romawi (dan, mungkin ‘menderita’ mereka artikan sebagai kemungkinan untuk terluka dalam pertarungan, atau bahkan kemungkinan dipenjara atau mati, lih. reaksi Petrus di bawah), dan menjadi Raja. Posisi terbesar di antara mereka, tentunya, mengacu ke bagaimana jabatan politis murid-murid ini di dalam kerajaan yang akan dipimpin oleh Yesus nanti ketika ia menjadi Raja Israel. (bdk. ay. 29-30)

Itulah mengapa kisah pertengkaran ini dikisahkan Matius dan Markus di dalam setting perjalanan Yesus ke Yerusalem, yang menyimbolkan pusat kekuasaan saat itu, dan ditempatkan Lukas di dalam setting Perjamuan Paskah, yang menyimbolkan pembentukan ulang Israel sejati (12 murid = 12 suku Israel; umat Israel lahir dari Paskah Pertama di Mesir) dengan Yesus sebagai pusatnya. Perhatikan pula bagaimana kisah ini, di Lukas, berlanjut dengan pernyataan Petrus, bahwa “aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan engkau” (Luk 22.33), yang juga menyatakan motivasi perjuangan militer yang serupa. Belum lagi dengan bagaimana mereka akan membawa dua pedang setelah itu.

Memang, Yesus pada akhirnya akan berperang, melawan kuasa jahat, maut, dan dosa, namun bukan dengan kekerasan, melainkan dengan menyerahkan dirinya untuk disalib.

Jadi, ironinya mungkin bukan terletak dengan bahwa murid-murid bertengkar memperebutkan posisi terbesar walau sudah tahu bahwa Yesus sebentar lagi akan menderita dan disalib, namun dengan bahkan setelah tiga tahun mengikut Yesus pun murid-murid ini tidak mengerti juga bahwa jalan Yesus adalah jalan penderitaan dan non-kekerasan, bukan jalan perjuangan dengan kekerasan fisik. Murid-murid benar-benar tidak menyangka kalau Yesus benar-benar akan disalib. Itulah mengapa mereka kabur. Dan, mungkin, sampai sekarang pun kita masih kaget pula jika kita menemukan bahwa jalan mengikut Yesus adalah jalan seorang hamba, yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi kita dalam mengikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s