the trial of god

Elie Wiesel adalah salah satu orang yang selamat dari kamp konsentrasi di Auschwitz dalam Perang Dunia II. Ia menuliskan sebuah karya berjudul The Trial of God, yang mengisahkan penderitaan kaum Yahudi dengan latar belakang kisah Ayub yang berdialog dengan pengalaman pribadinya. Ia banyak menulis dengan setting Holocaust dan theodicy (problem of evil/suffering/pain). Dalam salah satu bukunya, Night, ia menulis demikian, “I was the accuser, God the accused.” Setting yang dibayangkan adalah, tentunya, di ruang pengadilan, dengan Allah sebagai tertuduh, kita sebagai penuduh. Dalam sebuah drama yang diadaptasi dari The Trial of God, yang berjudul God on Trial, dikisahkan bagaimana tahanan-tahanan Yahudi di kamp konsentrasi mengadili Allah in absentia karena Ia dianggap telah melanggar perjanjianNya kepada bangsa Israel dengan menyerahkan mereka kepada Nazi.

Kejujuran hati Elie Wiesel ini sesungguhnya menggambarkan tradisi Yahudi (dan kristiani) yang panjang dalam mempertanyakan keadilan Allah, yang dikristalisasikan dengan kisah Ayub. Dasar pertanyaan ini adalah, karena mereka (dan kita) percaya bahwa sesungguhnya dunia yang diciptakan Allah ini ‘sungguh amat baik.’ Dalam hati nurani kita, kita yakin bahwa evil adalah sesuatu yang tidak wajar dan sebenarnya tidak perlu ada di dalam dunia ini. Penderitaan, justru memang akan menjadi suatu masalah yang perlu diselesaikan jika kita percaya pada dunia yang baik. Karena itu, Ayub menjadi potret yang jujur mewakili kita semua yang bertanya, “Jika ada Allah yang baik, mengapa ada penderitaan di dunia ini?”

Sesungguhnya, Allah telah menjawab Ayub dan kita semua. Keyakinan kita bahwa evil itu tidak wajar, kematian itu menyakitkan, penderitaan itu tidak perlu ada, pada akhirnya memang benar adanya. Walau, pada akhirnya pula, mungkin jawaban yang Allah berikan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Adakah yang membayangkan bahwa Allah akan menjawab pertanyaan kita semua ini dengan Ia sendiri berjalan di dunia ini, berbagirasa dengan derita umatNya, menyentuh orang-orang dengan berbagai macam sakit-penyakit, melewati jalan derita yang sama, dicobai kuasa jahat yang sama, dan, pada akhirnya, menanggung segala derita itu dengan Ia sendiri mati di kayu salib, simbol mutakhir kuasa jahat jamannya?

Allah, telah menjawab Ayub.

Dan, Ia bangkit pula dari antara orang mati. Buah sulung bahwa kuasa maut telah dan akan dipatahkan, bahwa kuasa jahat akan dimusnahkan, bahwa penderitaan akan berakhir, bahwa kematian akan tidak ada lagi, ketika langit dan bumi yang baru itu bersatu.

Allah, telah diadili, mewakili penghukuman umatNya sendiri, dan ia kedapatan tidak bersalah. Through all these, God is justified.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s