tiga puluh keping perak

“Metalepsis” is a rhetorical figure that creates a correspondence between two texts such that text B should be understood in light of a broad interplay with the precursor text A, encompassing aspects of A beyond those explicitly cited. (Richard Hays, The Conversion of the Imagination, p. 43 n. 38)

Contohnya, ketika kita mengutip “dalam tempo yang sesingkat-sesingkatnya”, kutipan ini akan menghadirkan kembali keseluruhan nuansa teks kemerdekaan bangsa Indonesia, tanpa perlu teks ini dikutip secara seluruhnya. Kunci dari metalepsis adalah kemampuannya untuk menghadirkan nuansa lain di teks asli kutipan itu beyond those explicitly cited.

Hermeneutika metaleptik seperti ini diyakini Hays merupakan salah satu model (utama) bagaimana, setidaknya, Paulus mengutip Perjanjian Lama di dalam tulisan-tulisannya. Dan mungkin retorika seperti ini pula yang digunakan oleh penulis-penulis di bagian Perjanjian Baru yang lain. Kita akan melihat satu teks demikian untuk mengilustrasikan hal ini:

Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.” (Mat 27.9-10)

Pertama, firman yang dikutip oleh Matius ini tidak disampaikan oleh nabi Yeremia, melainkan oleh nabi Zakharia (Zak 11.12-13). Ada beberapa hal untuk menjelaskan hal ini. Mungkin, Matius memang keliru dalam mengingat sumber kutipan ini (walau, kemungkinan ini sangatlah kecil; baca keseluruhan tulisan ini untuk mengetahui mengapa demikian). Atau, ada scribe yang ‘kreatif’ dalam mengganti ‘Zakharia’ menjadi ‘Yeremia’ atau menambahkan ‘oleh nabi Yeremia’. Atau, Matius mengikuti model hermeneutika Yudaisme rabinik yang dapat mengutip dua teks secara sekaligus dan hanya mengutip satu sumber (bdk. Yer 32.6-9). Apapun juga penjelasannya, untuk keperluan pembahasan kita kali ini, penjelasan mengenai hal ini tidaklah signifikan.

Kutipan ini berasal dari Zak 11.12-13, dan mungkin menarik jika kita membaca keseluruhan perikop tersebut untuk mengenali nuansa kutipan ini: Zakharia 9-11, yang merupakan sebuah rangkaian teks pengharapan Mesianik dalam kitab Zakharia.

Ketika Sang Raja yang ‘lemah lembut dan mengendari seekor keledai’ datang (9.9-10, bdk. Mat 21.1-11), maka bangsa-bangsa di sekitar Israel akan dihakimi (9.1-8) dan Israel akan dipulihkan kembali (9.11-17): sebuah formulasi klasik mengenai pengharapan Mesianik.

Pada masa itu, Israel ‘berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala.’ (10.1-2, bdk. Mat 9.35-38) Atau, lebih tepatnya, mereka akan dipimpin oleh gembala-gembala yang merupakan kepala-kepala kawanan kambing (10.3, bdk. Mat 25.31-46!), yang mungkin mengindikasikan bagaimana mereka pada saat itu akan dipimpin oleh kerajaan asing. Saat itu, Tuhan semesta alam akan memperhatikan ‘kawanan ternakNya, yakni kaum Yehuda’ dan akan mengadakan pembalasan terhadap gembala-gembala dan kepala-kepala kawanan kambing ini (10.3-11.3).

Selanjutnya, Zakharia diperintahkan untuk mencontohkan bagaimana gembala-gembala ini akan mengurusi domba-dombanya, menjadi seorang gembala yang tidak mengasihani domba-domba gembalaannya. Ia disuruh pula untuk menjual domba-dombanya ini kepada pedagang-pedagang domba, dan mendapat upah tiga puluh keping perak (11.4-17). Terhadap gembala-gembala yang demikianlah, Tuhan akan menyatakan pembalasannya, dan memperhatikan domba-dombanya yang diurus oleh gembala-gembala yang demikian.

Dengan latar belakang yang demikian, sekarang kita dapat mulai membandingkannya dengan bagaimana Zak 11.12-13 berperan dalam kisah Matius.

[Sebelumnya, mungkin teman-teman sudah memperhatikan bahwa nampaknya Matius banyak mengambil dari bagian Zakharia ini: Mat 9.35-38, 21.1-11, 25.31-46, 27.1-10 memiliki motif di Zak 9-11 — yang membuat kemungkinan Matius keliru dalam mengutip ‘Yeremia’ ini menjadi sangatlah kecil]

Yaitu, bagaimana kisah ini telah memiliki plot yang bermutasi di dalam kisah Yesus. Israel memang saat itu dikuasai oleh kerajaan asing, namun pada kenyataannya ‘kepala-kepala kawanan kambing’ ini bukanlah semerta-merta hanya kerajaan asing semata (i.e., Romawi), namun ternyata juga meliputi bangsa Israel sendiri, yang disimbolkan oleh imam kepala dan tua-tua bangsa Israel (yang nantinya juga akan menyerahkan Yesus kepada Pontius Pilatus), dan perannya secara utama dijalankan oleh Yudas Iskariot di dalam kisah ini. Mereka adalah gembala-gembala yang tidak berbelas kasihan terhadap domba-dombanya; peran yang dijalankan oleh Yesus dalam kisah ini. Israel sejati meruncing terhadap satu titik, dan titik itu adalah Yesus dari Nazaret. Dan, gembala-gembala ini akan menyerahkan Yesus kepada pedagang domba (yang juga diperankan oleh imam kepala dan tua-tua bangsa Israel), untuk ditukar dengan tiga puluh keping perak.

Dan, karena itu pulalah, bagaimana Tuhan akan menghakimi bangsa-bangsa lain di sekitar Israel juga akan mengalami mutasi, karena dengan demikian berarti bangsa Israel sekarang tidak luput dari kemungkinan penghakiman ini. Di sinilah situasinya menjadi sedikit kompleks. Di satu sisi memang Israel juga akan dihakimi, seperti yang terjadi secara klimaks dengan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi, dan ‘Israel’ yang sejati akan dipulihkan, dengan Yesus dibangkitkan dari antara orang mati.

Namun, di sisi lain, Yesus sendiri juga mengambil nasib Israel ke dalam dirinya, dengan dihakimi di atas kayu salib, menanggung keputusan Pontius Pilatus (yang juga termasuk ke dalam ‘kepala-kepala kawanan kambing’ ini) yang menghukumnya dengan kesalahan ‘inilah Yesus Raja orang Yahudi.’ Ia adalah Raja, representasi, Mesias (!) yang menjalankan terlebih dahulu hukuman yang akan jatuh kepada umatNya sendiri sekitar empat puluh tahun kemudian.

Dengan demikian, Matius, merefleksikan bagaimana Yesus diserahkan oleh Yudas sebelum kematiannya sebagai pemenuhan terhadap pengharapan mesianik dalam Zak 9-11, yang direpresentasikan dengan kutipan metaleptiknya lewat Zak 11.12-13, walau beberapa detil pengharapan mesianik di Zak 9-11 ini mengalami berbagai mutasi yang mungkin tidak terduga di jaman itu.

4 thoughts on “tiga puluh keping perak

  1. Pancha

    Sdr. Septian,

    terima kasih untuk ulasan yang sangat memberkati saya.

    Saya adalah pembaca setia blog Anda. Sangat jarang anak muda yang sangat getol belajar Alkitab (dan setia melihat PB dari konteks Yudaisme), dan Andalah salah satunya

    Reply
    1. septian Post author

      Salam kenal Pak Pancha,

      Terima kasih sudah membaca. =) Kak Budi (pdt di gereja saya) pernah cerita tentang bapak. Ia waktu itu bilang klo Ci Melinda yang kasih tahu blog ini ke bapak. Ia juga bilang (kalo ga sala inget sih =p) bpk tesis MTh-nya ttg NTW hehe. =)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s