pemilu dan kamis putih

Hari Kamis, tanggal 9 April nanti, rakyat Indonesia akan memilih wakil mereka yang mungkin dapat menentukan arah bangsa ini selama lima tahun ke depan. Hari yang sama pula ketika umat kristiani akan merayakan hari dimana Yesus dari Nazaret mengadakan perjamuan malam dengan murid-muridnya sebelum ia ditangkap. Hari dimana, menurut catatan rasul Yohanes, Yesus membasuh kaki kedua belas muridnya, menghidupi apa yang ia katakan sebelumnya ketika Yohanes dan Yakobus ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus ketika ia duduk dalam kemuliaannya. Ketika itu, Yesus menjawab,

“Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 10.35-45 || Mat 20.20-28, bdk. Yoh 13.16)

Kuasa telah didefinisikan ulang oleh dan lewat Yesus. Baginya, menjadi ‘besar’ berarti menjadi pelayan, dan menjadi ‘terkemuka’ berarti menjadi hamba. Kuasa dikejewantahkan dalam wujud melayani, demi orang lain. Memulai dengan membasuh kaki kedua belas muridnya, ia mengakhiri dengan naik takhta, dengan gelar ‘Raja orang Yahudi.’ Walau, ia memilih takhta yang aneh dan memalukan. Takhtanya adalah kayu salib; simbol penghinaan Romawi yang paling utama saat itu. Dari awal sampai akhir, ia konsisten dengan apa yang ia katakan sebelumnya — menjadi yang ‘terkemuka’, berarti menjadi hamba.

Karena itulah, menjadi ‘politis’ tidak serta-merta ekuivalen dengan menduduki posisi tertentu yang mampu mempengaruhi kebijakan publik dan realita hidup orang banyak. Menjadi ‘politis’ juga (atau, semestinya) terletak dengan bagaimana kita melayani orang-orang di sekeliling kita; memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, memperhatikan kaum yatim piatu dan janda-janda, di dalam keseharian kita. Hari pemilihan umum bukanlah awal dan akhir sikap ‘politis’ kita, namun sepatutnya mengingatkan mengenai bagaimana kita sepatutnya menghidupi lima tahun setelah hari itu. Hasil pemilihan umum kali ini mungkin akan mempengaruhi aturan bagaimana kita berpakaian, namun, mengenai memelihara fakir miskin dan anak-anak yang terlantar, adakah hukum yang menentang hal-hal itu?

Sekiranya Tuhan yang Baik akan menganugerahkan pemimpin-pemimpin yang ingat bahwa dirinya hanyalah sekedar seorang hamba yang diberi amanah untuk melayani rakyat, bukan pemimpin-pemimpin yang hanya ingat akan perutnya sendiri. Walau, sekiranya pada akhirnya kita beroleh pemimpin-pemimpin yang demikian, janganlah bertawar hati. Sebaliknya, sekiranya Tuhan akan membimbing kita dalam memenuhi panggilan kita untuk melayani sesama kita. Itu, sikap politis kita sebagai warga kerajaan Allah yang dipimpin oleh seorang Raja yang menjadi Hamba.

3 thoughts on “pemilu dan kamis putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s