.akan datang harinya.

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya:

“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

(Luk 19.41-44)

Indeed, peringatan Yesus ini akhirnya akan terjadi pula kurang lebih empat puluh tahun kemudian, ketika pasukan Romawi menghancurkan Yerusalem, sebagai kulminasi perjuangan resistansi umat Yahudi terhadap bangsa Romawi selama berabad-abad. Ia tahu, sekiranya umatnya terus membalas tamparan bangsa Romawi dengan menampar balik mereka, hal ini tidak akan terelakkan. Dan ia, yang tidak bersalah, bersedia untuk mengambil bagian dalam nasib umatnya, mati di tangan bangsa Romawi, demi kesalahan umatnya. Walau, pada akhirnya, umatnya tak kunjung belajar juga, bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan siklus kekerasan itu adalah bukan dengan membalas balik dengan kekerasan, namun dengan bersedia menderita kekerasan itu sendiri. Mati, agar yang lain dapat hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s