.simeon dan hana (1).

KTB 23.02.09: Luk 2.21-40

1. Yesus disunat (ay.21)
2. Yesus dikuduskan bagi Allah di Yerusalem (ay.22-24)
2a. Simeon (ay.25-35)
2b. Hana (ay.36-38)
3. Proses pentahiran selesai (ay.39-40)

Tiga kisah sepanjang Lukas 2 setelah narasi kelahiran Yesus menceritakan bagaimana Yusuf dan Maria taat kepada ketentuan-ketentuan hukum Musa, yang akan menjadi transisi sebelum pelayanan Yohanes Pembaptis di Lukas 3 dan pelayanan Yesus sendiri dari Lukas 4 dan seterusnya. Pertama, singkat saja sepanjang satu ayat, di ayat 21, diceritakan bagaimana bayi mereka disunat ketika ia genap delapan hari dan diberi nama Yesus, sesuai dengan ketentuan di Imamat 12.3. Kedua, di ayat 22-40, diceritakan bagaimana Yesus dibawa ke Yerusalem untuk dikuduskan bagi Allah, untuk memenuhi ketentuan di Imamat 12.6-8, yang juga adalah kelanjutan dari Imamat 12.3. Dan, ketiga, di ayat 41-52, diceritakan bagaimana mereka pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah ketika Yesus berusia 12 tahun, sebagaimana ‘tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah.’ (Luk 2.41)

Waktu untuk membawa seorang bayi yang baru lahir ke Yerusalem untuk dipersembahkan kepada Tuhan adalah menunggu waktu pentahiran sang ibu, yaitu tiga puluh tiga hari (setelah masa najis satu minggu yang diikuti oleh sunat di hari ke-8) untuk anak laki-laki dan enam puluh enam hari (setelah masa najis dua minggu) untuk anak perempuan. Atau, kalau dihitung dari waktu kelahiran, empat puluh hari untuk anak laki-laki dan delapan puluh hari untuk anak perempuan. Menarik mungkin untuk menelaah lebih lanjut apa makna ‘najis’ dan ‘tahir/tidak tahir’ di dalam konteks umat perjanjian, yang mungkin akan berbeda dengan makna ‘dosa’ seperti yang kita pahami saat ini.

Jadi, usia bayi Yesus adalah empat puluh hari dan sekarang saatnya ia dipersembahkan kepada Tuhan di Yerusalem. Yusuf dan Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur atau burung merpati, yang menandai bahwa mereka berasal dari kalangan tidak mampu. (bdk. Im 12.8)

Adapun disana ada seorang yang bernama Simeon. Ia adalah seorang yang benar (Grk. dikaios/Heb. tzadik) dan saleh, dan menantikan ‘penghiburan bagi Israel.’ Kita tidak tahu bagaimana secara spesifik penantiannya, namun setidaknya penantiannya ini mencapai pemenuhannya dalam masa hidupnya. ‘Roh Kudus ada di atasnya’ (frase yang khas Lukas, mengikuti berbagai teks Perjanjian Lama seperti kisah Saul, Elia), dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan (arti harafiah Mesias). Mesias inilah yang akan membawa penghiburan bagi Israel.

Roh Kudus ada di atasnya, kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia akan melihat Mesias, dan oleh Roh Kudus pulalah ia datang ke Bait Allah ketika Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (again, Luke and his Holy Spirit emphasis)

Ia menyambut anak itu, menatangnya, dan memuji Allah:

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi
dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Luk 2.29-32)

Now, that, is Beauty.

Penghiburan bagi Israel, keselamatan yang dari pada-Mu itu, telah hamba lihat sekarang; karena itu, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera sekarang.

Penghiburan bagi Israel, keselamatan yang dari pada-Mu ini, telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa: terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain, dan kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

Penghiburan bagi Israel, keselamatan yang dari pada-Mu ini, yang akhirnya akan menjadi pemenuhan janji pada Abraham itu, dimana lewat Israel seluruh kaum di muka bumi akan diberkati.

Atau, dengan menggunakan pujian Simeon, dimana Mesias inilah yang akan menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain, dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. Lewat Sang Mesias, representasi Israel sejati, Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Lewat Sang Mesias, ia akan memenuhi panggilan Israel sebagai terang dunia demi dan bagi bangsa-bangsa lain. Janji pada Abraham mencapai klimaks dan pemenuhannya lewat diri Sang Mesias ini.

Tak heran, Yusuf dan Maria amat heran akan segala hal yang dikatakan Simeon ini mengenai Yesus. Heran, mungkin karena mereka kembali teringat bagaimana gembala-gembala pernah berkata hal yang serupa tentang Yesus, dengan menceritakan apa yang disampaikan malaikat kepada mereka; atau, teringat bagaimana Maria pun pernah mendengar hal yang serupa dari kesaksian Gabriel. Dan, kali ini pun kembali ada orang yang berkata hal yang sama: Anak ini akan menjadi Mesias.

Berbeda dengan dua kesaksian sebelumnya, gembala dan pengalaman pribadi Maria, dimana malaikat menyatakan kepada mereka masing-masing bahwa anak yang lahir ini akan menjadi Mesias, kesaksian Simeon digerakkan oleh Roh Kudus. Kembali: Roh Kudus ada di atasnya, kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia akan bertemu dengan Mesias sebelum meninggal, dan ia pun pergi ke Bait Allah pada saat yang sama dengan Yusuf dan Maria oleh karena Roh Kudus. Roh Kudus, Roh Kudus, Roh Kudus. Yang mungkin lebih serupa dengan kesaksian Elisabet, yang ‘penuh dengan Roh Kudus’ (Luk 1.41), yang ketika bertemu Maria yang sedang mengandung kala itu, berseru demikian, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s