.saulus.

Mengenai Saulus/Paulus sendiri, lewat pelajaran Agama di sekolah aku diajarkan kalau Saulus adalah namanya sebelum bertobat dan Paulus adalah namanya sesudah bertobat. Walau, ketika aku membaca Kisah Para Rasul, aku tidak menemukan indikasi ini. Setelah bertobat pun, Lukas tetap menyebutnya sebagai ‘Saulus’ di Kis 9-12. Peralihan penggunaan nama Saulus/Paulus ini oleh Lukas terjadi di Kis 13, ketika Barnabas dan Saulus baru saja diutus oleh jemaat di Antiokhia, dan mereka sampai di Siprus. Di sana, mereka bertemu dengan gubernur pulau itu, yang bernama Sergius Paulus (Kis 13.7). Dan, di ayat 9, Lukas memulai transisi ini, dengan menulis, “Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, …” (Kis 13.9) Sejak ayat itu, Lukas selalu menuliskan Saulus/Paulus sebagai Paulus.

Walau, dalam pembelaan Paulus di hadapan orang Yahudi (Kis 22) dan Agripa (Kis 26), Lukas menggunakan kata ‘Saulus’ tentang bagaimana Paulus merujuk pada dirinya, yang mungkin mengindikasikan 1) preferensi Lukas sendiri dalam penggunaan nama ini agar konsisten dengan konteks pembelaan tersebut, dimana Paulus mengisahkan kejadian yang terjadi (bertemu dengan Tuhan) sebelum Kis 13, atau, yang menurutku lebih probable, 2) pembelaan tersebut diadakan di hadapan bangsa Yahudi (orang Yahudi, Herodes Agripa II) dan karena itu nama Yahudi pula yang digunakan (Saulus adalah varian dari Saul, raja pertama kerajaan Israel).

Paulus sendiri di semua surat-suratnya selalu merujuk pada dirinya sebagai ‘Paulus’, tidak pernah ‘Saulus’, yang juga menunjukkan konsistensinya bahwa ia adalah rasul bagi kaum-kaum yang tidak bersunat, dan dengan demikian menggunakan versi Yunani/Romawi dari namanya.

Mengenai transisi itu sendiri di Kis 13, ada beberapa alasan yang mungkin bisa mengapa Lukas melakukan transisi ini di kisah ini: 1) Ini awal dari bagian kedua Kisah Para Rasul, dimana Kis 1-12 mengisahkan bagaimana Injil diberitakan oleh rasul-rasul dan jemaat di Yerusalem, terutama Petrus, dan mencapai klimaksnya di kematian Herodes Agripa I, raja Yahudi, sebelum masuk ke Kis 13-28, yang mengisahkan bagaimana Injil diberitakan oleh Paulus di kalangan bangsa non-Yahudi (dan mencapai klimaksnya dengan Paulus sampai ke Roma, pusat kerajaan Romawi saat itu — yang menandai dua macam vindikasi pemberitaan Injil: 1) Petrus dibebaskan dari penjara dan Herodes mati di akhir Kis 12, dan 2) Paulus dapat memberitakan Kerajaan Allah tanpa rintangan di Roma di akhir Kis 18), yang ditandai dengan 2) Diutusnya Paulus dan Barnabas oleh sebuah jemaat di Antiokhia, sebuah jemaat yang mayoritas terdiri dari bangsa non-Yahudi, yang menandai pergantian fokus pusat pemberitaan Injil dari jemaat di Yerusalem yang Yahudi kepada jemaat di Antiokhia yang non-Yahudi.

Peralihan ini (Yahudi-nonYahudi, Yerusalem-Antiokhia, Petrus-Paulus, Herodes-Kaisar) ditandai dengan berubahnya penggunaan nama Saulus menjadi Paulus oleh Lukas, yang secara kebetulan (adakah yang kebetulan bagi Allah?) sama dengan nama gubernur pulau pertama yang dikunjungi oleh Saulus dan Barnabas, yaitu Sergius Paulus. Sejak saat itu, Lukas menggunakan nama Paulus untuk merujuk pada diri Saulus dari Tarsus ini.

Pada akhirnya, pernyataan bahwa Saulus adalah namanya sebelum bertobat dan Paulus adalah namanya setelah bertobat mungkin ada benarnya juga. Saulus dari Tarsus, sebelum pertobatannya adalah seorang Yahudi yang etnosentris dan giat demi Taurat bangsanya. Sulit untuk membayangkan orang seperti itu untuk dapat mengadopsi nama yang berbau Yunani/Romawi yang penuh dengan konotasi tidak tahir sesuai hukum bangsanya. Sebaliknya, Rasul Paulus adalah rasul yang  paling gencar memperjuangkan kesetaraan hak kaum non-Yahudi dalam umat Allah. Bahkan, ia tidak ragu-ragu untuk berkonfrontasi dengan Petrus mengenai hal ini. Secara simbolik, apa yang dia perjuangkan ini ia hidupi pula, dengan mengadopsi nama Yunani/Romawi yang mirip dengan nama aslinya, yang diinspirasikan oleh nama seorang gubernur Romawi di pulau Siprus, yaitu Paulus.

Pergantian nama Saulus menjadi Paulus, menjadi lambang simbolik revolusi total yang terjadi di dalam hidupnya: dari seorang Yahudi yang etnosentris dan terkungkung dalam batas-batas kesukuan bangsanya, menjadi seorang pembawa kabar baik, bahwa bagi yang telah mengenakan Kristus, tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, karena semuanya adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s