.sara dan maria.

Dalam khotbahnya hari Minggu kemarin di GPBB, Kak Danny menggunakan dua perikop dari Perjanjian Lama sebagai terang kisah Yesus meredakan angin ribut, perikop yang dibahas hari itu (Luk 8.22-25). Dua perikop yang dimaksud adalah Mzm 107.23-32 dan Yun 1. Saya terkesan dengan pembacaan seperti ini; sekali saja kedua perikop ini dibaca, langsung ada momen ‘Aha!’ untuk memahami kisah di Lukas tersebut. (Yesus mengambil peran YHWH di Mzm, dan menjadi Yunus II yang kontras dengan Yunus bin Amitai di kitab Yunus)

Ini adalah sebuah contoh dimana kisah-kisah di Perjanjian Lama sebenarnya melatarbelakangi kisah-kisah di Perjanjian Baru tanpa perlu secara eksplisit mengutip perikop yang dimaksud, yang didasari keakraban penulis-penulis kitab di Perjanjian Baru dengan Kitab Suci mereka saat itu. (Perjanjian Lama saat ini) Yang sedikit berbeda dengan kita saat ini, yang mungkin tidak memiliki tingkat keakraban yang sama terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan karena itu sepatutnya mendorong kita pula untuk lebih akrab dengan teks Kitab Suci yang kita miliki, untuk melihat bagaimana kisah-kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru saling bercakap-cakap satu sama lain.

Dalam pembacaan Alkitab kemarin, ketika membaca kisah Allah yang menampakkan diri pada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre (Kej 18.1-15), untuk mengulangi perjanjiannya pada Abraham bahwa Sara akan melahirkan anak laki-laki, saya merasa kisah ini serupa dengan bagaimana malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria untuk memberitahu bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki (Luk 1.26-38). Yang mungkin menarik adalah melihat respon Sara dan Maria.

Sara tertawa dalam hatinya, katanya, “Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?” Allah kemudian berkata pada Abraham, “Mengapakah Sara tertawa? Adakah yang mustahil bagi Tuhan?” Yang disangkali Sara, “Aku tidak tertawa”, dan dibalas Allah lagi, “Tidak, memang engkau tertawa!” (honestly, saya ngebayangin adegan ini lumayan lucu, Allah dan Sara saling bersahut-sahutan -_-)

Respon Maria sendiri pertama juga tidak percaya. “Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Yang dijawab Gabriel demikian, bahwa Roh Kudus akan turun atasnya dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi Maria (bdk. Kej 1.2), dan bahwa Elisabet, saudaranya yang disebut mandul itu, sedang mengandung sekarang, sebagai ‘bukti’ bahwa hal itu mungkin terjadi. Sebab, ujar Gabriel lagi, “bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Yang ditutup dengan jawaban Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kali ini, tidak ada sahut-sahutan, yang ada hanyalah iman sederhana bahwa yang dikatakan Allah akan terjadi. =)

Adakah yang mustahil bagi Allah? Bagi Allah, tidak ada yang mustahil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s