.faith and relationship.

Beberapa hal yang terpikir setelah mengikuti NGM kemarin, Iman dan Relasi, yang dibahas dari Mat 5-7 (Khotbah di Bukit):

1. Yang paling mengesankan dari diskusi kemarin adalah pembahasan mengenai Garam dan Terang.

Paradoks Garam dan Terang yang inkarnasional (mengikut Yesus, dalam segala hal manusia, namun tidak berdosa): dimana kita perlu kehilangan identitas kita layaknya Garam untuk memberi rasa, dan pada saat yang sama seperti Terang yang berbeda dari sekitarnya, menjadi panggilan komunitas umat Allah dalam mengikut Yesus yang adalah Garam dan Terang yang sejati itu.

Yang menarik adalah ketika LT (pembicaranya) berkata bahwa, ironisnya, komunitas kristiani seringkali berbuat sebaliknya: menjadi Garam ketika harus menjadi Terang, dan menjadi Terang ketika harus menjadi Garam. Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. =)

Btw, secara historis, kota yang terletak di atas gunung itu dan tidak mungkin tersembunyi itu tak lain adalah Yerusalem (jadi bayangkan Yesus menunjuk Yerusalem ketika sedang berkata hal ini…). Dengan kata lain, ketika Yesus menganalogikan pendengarnya dengan Yerusalem (salah satu simbol utama Yudaisme abad pertama), hal ini berarti bahwa Israel yang Baru dikonstitusikan seputar Yesus dari Nazaret.

2. Dalam pembahasan mengenai butir pertama di Ucapan Bahagia (Mat 5.3-12), LT menggunakan perikop mengenai Orang Muda yang Kaya (Mat 19.16-26) untuk menjelaskan maksud ‘miskin di hadapan Allah.’ Saya sendiri sepakat dengan makna butir pertama tersebut (kita semua ‘kaya’ dalam suatu hal, dan karena itu harus menanggalkan ke-‘kaya’-an ini), namun kurang sepakat jika Mat 19.16-26 digunakan untuk menjustifikasi pemahaman tersebut. (walau, tentunya, saya tetap terbuka dengan interpretasi ‘fill-in-the-blanks’ oleh LT)

Teks-nya sendiri adalah sebagai berikut. Dalam percakapan antara Yesus dengan murid-muridnya setelah orang muda yang kaya itu pergi, Yesus berkata bahwa sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Yang ditanggapi dengan ‘sangat gemparnya’ oleh murid-murid dan mereka berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

Hal ini didasari oleh latar belakang jaman itu bahwa orang kaya memang memiliki sumber daya yang berlebih dan dengan demikian dapat memenuhi perjanjian/hukum Musa dengan lebih mudah. (mis. memberi persembahan rutin, dll.) Hal ini merupakan privilege yang tidak dimiliki oleh orang miskin, dimana mereka tidak memiliki cukup sumber daya untuk memenuhi detil-detil perjanjian/hukum Musa. Selain itu, menjadi kaya juga merupakan simbol diberkati oleh Allah (mis. memiliki tanah/properti yang serupa dengan aspirasi bangsa Israel untuk memiliki tanah sendiri). Karena itu, muncul pandangan bahwa orang kaya itu yang paling mudah masuk ke dalam Kerajaan Allah, i.e., mewarisi Era yang Baru (langit baru dan bumi baru). Secara strata, orang kaya menempati posisi paling atas.

Karena itu, ketika Yesus berkata bahwa orang kaya pun sukar untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga/Allah, kita akan mengharapkan respon ketidakpercayaan dari pendengarnya. Yang memang kita dapatkan demikian dari murid-murid. “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Ada revolusi cara pandang dunia di sana.

3. Masih mengenai Ucapan Bahagia (yang ini tidak dibahas kemarin, cuma aku dan Duncan bahas di rumah). Ucapan Bahagia di Matius (Mat 5.3-12) memiliki paralel di Lukas (Luk 6.20-26). Lukas sendiri menyajikannya dalam bentuk Ucapan Bahagia (ay.20-23) yang diikuti oleh Ucapan Celaka (ay. 24-26). Ada perbedaan yang menarik di antara dua versi Ucapan Bahagia ini. Di Matius, tiga butir yang paralel dengan Lukas adalah sebagai berikut:

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, …
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, …
Berbahagialah orang yang berdukacita, …

Sedangkan, di Lukas, tiga butir (dan dengan simetri Ucapan Celaka-nya) ini adalah sebagai berikut:

Berbahagialah, hai kamu yang miskin, …
(Celakalah, hai kamu yang kaya, …)
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, …
(Celakalah, hai kamu yang sekarang ini kenyang, …)
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, …
(Celakalah, hai kamu yang sekarang ini tertawa, …)

Menarik untuk menelusuri perbedaan ini. Miskin di hadapan Allah || miskin. Lapar dan haus akan kebenaran || lapar. Berdukacita || menangis. Ada beberapa cara untuk menjelaskan hal ini. Pemahaman kritis-historis biasanya menganggap Lukas lebih murni dalam mencatat perkataan Yesus dan Matius telah mengedit perkataan ini agar terkesan lebih spiritual: miskin menjadi miskin ‘di hadapan Allah’, lapar menjadi lapar ‘… akan kebenaran’, dan menangis  (aksi eksternal) menjadi berdukacita (aksi internal). Dengan kata lain, Lukas menjelaskan Matius. Lukas memiliki arti primer dan Matius memiliki arti sekunder.

Di sisi lain, tradisi Injili (setidaknya, menurut pengalaman saya pribadi) biasanya melakukan hal yang sebaliknya. Matius menjelaskan Lukas; Lukas dibaca dengan terang Matius. Jadi, ketika kita membaca ‘hai kamu yang miskin’ di Lukas, kita mengartikannya menjadi ‘miskin di hadapan Allah’, bukan sebagai orang yang sungguh-sungguh miskin secara materi. Ketika kita membaca ‘kamu yang sekarang ini lapar’, kita mengartikannya menjadi ‘lapar akan kebenaran’, bukan sebagai orang yang sedang kelaparan dan butuh makanan.

Yang, menurut saya, keduanya memiliki tendensi yang kurang berimbang. Pemahaman kritis-historis kurang menghargai tempat Matius sebagai Injil tersendiri di dalam kanon, sedangkan pemahaman Injili kurang menghargai tempat Lukas untuk menyuarakan agendanya tersendiri. Memang, di Matius, Ucapan Bahagia ini lebih ‘spiritual’, menyangkut kondisi internal seseorang. Sedangkan, di Lukas, Ucapan Bahagia (dan Celaka) ini lebih ‘material’. Aku pikir kita mesti menghormati kedua bentuk Ucapan Bahagia ini dengan sepantasnya, membiarkan masing-masing dari mereka menyuarakan aspirasi mereka masing-masing. (kita belum bicara soal pemahaman inter-tekstual — antar teks — dalam hal ini, namun ini untuk waktu yang lain)

PS: Inneke juga menulis mengenai NGM Jumat kemarin. Mungkin akan membantu Duncan dalam meliput untuk Pistos edisi mendatang. =p

One thought on “.faith and relationship.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s