1 makabe 2.49-70

Matatias meninggal dunia (1 Mak 2.49-70)

Akhirnya, waktu meninggal sudah dekat bagi Matatias. Ia pun memberi wejangan kepada anak-anaknya sebelum meninggal:

“Kini kecongkakan dan pernistaan telah menjadi kuat,
kini masa runtuhan dan geram.
Sekarang, anak-anakku, hendaklah giat untuk hukum Taurat
dan mempertaruhkan hidupmu
demi perjanjian nenek moyang kita.
Ingatlah kepada apa yang telah dilakukan nenek moyang kita di masanya,
maka kamupun akan mendapat
kemuliaan besar dan nama abadi.
Bukankah Abraham ternyata setia dalam pencobaan,
dan tidakkah itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran?”
(2.49-52)

Yang dilanjutkan dengan contoh-contoh lain, dimulai dari Yusuf, Pinehas, Yosua, Kaleb, Daud, Elia, Hananya-Azarya-Misael, dan diakhiri dengan Daniel (2.53-60) untuk mengingatkan mereka mengenai apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Nasehat tersebut diakhiri demikian:

“Anak-anakku, hendaklah tetap bersifat jantan
dan gagah berani untuk hukum Taurat,
sebab oleh karenanya kamu akan dipermuliakan.”
(2.64)

Matatias juga memberkati Simon untuk menjadi ‘bapa’ di antara anak-anaknya, dan Yudas Makabe untuk menjadi panglima dan pemimpin dalam peperangan dengan bangsa-bangsa lain. Ia juga menekankan ulang bahwa apa yang mereka lakukan ini tak bisa dilepaskan dengan upaya mereka dalam memenuhi dan menegakkan hukum Taurat.

“Hendaklah kamu menghimpun di sekeliling kamu semua orang yang memenuhi hukum Taurat. Kamu harus membalas dendam untuk bangsamu. Balaskanlah kepada orang-orang asing itu segenap kejahatannya, tetapi hendaklah mengindahkan segala ketetapan Taurat.” (2.67-68.)

Akhirnya, Matatias memberkati anak-anaknya dan meninggal dunia. Ia meninggal dunia pada tahun 162 SM dan dikubur di kota Modein. Ia, sangat diratapi oleh seluruh Israel. (2.69-70)

Nasehat Matatias yang menggunakan framework tokoh-tokoh Israel ini mungkin dapat disetarakan dengan apa yang dilakukan oleh penulis Ibrani yang membuat daftar tokoh Israel yang ‘karena iman maka…’ di Ibrani 11. Tentu saja, tema umum yang menaungi tokoh-tokoh ini berbeda di 1 Makabe dengan di Ibrani. Di Ibrani, yang menyatukan tokoh-tokoh ini adalah ‘iman’ mereka. Sedangkan, di nasihat Matatias ini, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi masing-masing tokoh di-‘selamat’-kan. Abraham setia dalam ujian [Ishak]; Yusuf menepati perintah; Pinehas karena kegiatannya yang hangat (zealous); Yosua menunaikan amanat; Kaleb memberikan kesaksian; Daud karena belas kasihannya; Elia karena kegiatannya yang hangat untuk hukum Taurat; Hananya-Azarya-Misael karena percaya; Daniel karena kelurusan hatinya.

Bagi anak-anaknya sendiri, yang perlu mereka lakukan adalah untuk ‘tetap bersifat jantan dan gagah berani untuk hukum Taurat, sebab oleh karenanya kamu akan dipermuliakan.’ (2.64) Yang mungkin mirip dengan Pinehas dan Elia, yaitu untuk giat dengan hangat untuk hukum Taurat (zealous for the law). Yang akan dimanifestasikan dengan membalaskan dendam bangsanya dan berperang dengan bangsa-bangsa asing. Jadi, kita melihat bagaimana ‘giat demi hukum Taurat’ itu tidak serta-merta merupakan ‘usaha supaya bisa ke surga’ à la Pelagianisme. ‘Giat demi hukum Taurat’ merupakan usaha mereka untuk memulihkan Israel kembali. Latar belakang seperti inilah yang bisa memberikan nuansa debat ‘giat demi hukum Taurat’ versus ‘iman’ di Perjanjian Baru, dengan tentunya Paulus menjadi tokoh yang berpindah dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Apa maksud Paulus ketika ia berkata bahwa ia adalah seorang yang giat demi hukum Taurat? (bdk. Gal 1.14, Fil 3.6)

Garis ‘giat demi hukum Taurat’ ini akhirnya akan menjadi garis Farisi, dimana menurut mereka dimulai dari Pinehas yang membunuh Zimri bin Salom (bdk. Bil 25.7-15), dan dicontohkan dengan seksama oleh Matatias dan anak-anaknya, dan akan menjadi gerakan yang cukup populer di era Perjanjian Baru, dengan salah satu rasul utama di gerakan pengikut Yesus dari Nazaret (dengan banyak orang berpendapat kalau orang ini memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan pemikiran dan ajaran kekristenan mula-mula) merupakan bekas anggota gerakan ini pula. (Saulus dari Tarsus)

Mungkin pembacaan seperti ini juga akan memberikan nuansa terhadap pertanyaan, ‘Dengan apakah seorang dibenarkan?’ jika dibaca dengan konteks Yudaisme abad pertama saat itu, yang belum tentu berarti, ‘Dengan apakah seorang dapat ke surga?’ Dengan demikian, arti ‘pembenaran oleh iman’ juga bisa dapat bernuansa lain dengan apa yang biasanya kita mengerti.

Pemilihan Simon dan Yudas sebagai pemimpin gerakan ini menggantikan Matatias, dengan Simon lebih mengisi peran ‘imam’/‘nabi’ sedangkan Yudas mengisi peran ‘raja’, mungkin juga nantinya akan menghasilkan pengharapan mesias dwitunggal, dimana yang satu akan menjadi Imam dan yang lain akan menjadi Raja. Menarik untuk membandingkan hal ini dengan duet Yohanes Pembaptis dan Yesus dari Nazaret dan bagaimana mereka berdua dipandang oleh rakyat Israel yang mungkin memiliki bayangan soal Simon dan Yudas Makabe mengenai hal ini. Apakah Yesus dari Nazaret diharapkan juga menjadi pemimpin perang, seperti Yudas Makabe?

Peristiwa kematian Matatias sendiri diceritakan dengan banyak gema dengan peristiwa-peristiwa kematian di Perjanjian Lama, dengan motif ‘dikubur dalam nenek moyangnya’, baik dalam menceritakan kematian Patriarkh Israel maupun Raja-raja Israel, yang mungkin menyimbolkan pentingnya Matatias bagi sang penulis. Berkat sebelum mati kepada anak-anaknya juga serupa dengan apa yang terjadi di Perjanjian Lama. (mis. Ishak pada Yakub, Yakub pada anak-anaknya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s