.the vomitting land.

Mengenai konflik (yang, puji Tuhan, sudah mencapai gencatan senjata) di Gaza (atau, secara lebih luas, konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan), bagi saya absurd rasanya bagi umat Kristiani untuk membela Israel dengan dasar bahwa tanah Palestina merupakan tanah perjanjian yang dijanjikan oleh YHWH kepada Israel. Berikut uraian singkat mengenai hal ini yang menelusuri rantai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Pada mulanya, tanah itu merupakan milik orang Kanaan. Dalam daftar bangsa-bangsa di Timur Tengah Kuno yang disusun oleh penulis kitab Kejadian lewat silsilah anak-anak Nuh, daerah kaum Kanaan (anak Ham, anak Nuh) melingkupi ‘dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim sampai ke Lasa.’ (Kej 10.19) Walau, tidak selamanya kaum Kanaan menempati tanah ini.

Karena tindakan mereka yang ‘najis’, mereka pun kehilangan hak tinggal di tanah tersebut. Dalam bahasa penulis kitab Imamat, ‘negeri itu memuntahkan penduduknya.’ (Im 18.25) Seorang penulis berkomentar, hal ini dapat diibaratkan Allah yang menyewakan tanahnya untuk ditempati oleh bangsa Kanaan, dan pada akhirnya bangsa Kanaan terbukti bertingkahlaku sebagai penyewa yang buruk. Karena itu, penyewa ini harus dikeluarkan. The Landlord leased the land to a bad tenant. The land vomitted out the tenant. Now, a new tenant is needed to replace them.

Dan, penduduk yang akan menggantikan bangsa Kanaan adalah bangsa Israel. Mereka tidak dipilih berdasarkan kebaikan mereka, namun berdasarkan kasih karunia Allah semata. Bukankah justru bangsa Israel yang paling kecil dari segala bangsa? (bdk. Ul 7.7-11) Karena itu pula, jika mereka bertingkahlaku sama seperti bangsa Kanaan, bukan mustahil pula mereka akan dimuntahkan kembali dari tanah tersebut. Penulis kitab Imamat, telah memperingati akan hal ini jauh hari sebelum mereka masuk ke tanah tersebut,

“Tetapi kamu ini haruslah tetap berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku dan jangan melakukan sesuatupun dari segala kekejian itu, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, –karena segala kekejian itu telah dilakukan oleh penghuni negeri yang sebelum kamu, sehingga negeri itu sudah menjadi najis– supaya kamu jangan dimuntahkan oleh negeri itu, apabila kamu menajiskannya, seperti telah dimuntahkannya bangsa yang sebelum kamu.” (Im 18.26-28.)

“Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu, supaya jangan kamu dimuntahkan oleh negeri ke mana Aku membawa kamu untuk diam di sana.” (Im 20.22)

Suatu hal, yang pada akhirnya memang terjadi pula pada pertengahan milenium pertama sebelum Masehi. Diawali dengan dimuntahkannya Kerajaan Utara yang terdiri dari 10 suku ke Asyur, dan dilanjutkan dengan dimuntahkannya Kerajaan Selatan yang terdiri dari 2 suku ke Babel. Memang, walau Kerajaan Utara dan penduduknya tidak jelas nasibnya hingga sekarang, penduduk Kerajaan Selatan sendiri memang sempat dikembalikan ke tanah mereka 70 tahun setelah pembuangan di Babel. Walau, tidak sedikit pula yang mengajukan hipotesa bahwa walaupun penduduk Yehuda ini telah kembali ke tanah mereka, sebenarnya mereka masih berada di dalam pembuangan; karena, secara langsung maupun tidak langsung, mereka terus berada di bawah jajahan bangsa lain setelah itu. Karena itu, muncullah pengharapan akan adanya restorasi Israel secara fisik, yang melingkupi pemenuhan janji Allah kepada Abraham bahwa tanah ini akan dimiliki mereka kembali secara penuh.

Umat Kristiani sendiri mengikuti jejak Yesus dari Nazaret (Isa Al-Masih A.S.) yang juga bagian dari jaman yang menantikan restorasi tersebut. Dalam masa pelayanannya, Ia banyak memaknai ulang simbol-simbol utama Yudaisme masa itu seperti Hari Sabat, Bait Allah, dan Hukum Taurat. Ia berotoritas atas Hari Sabat, ia secara simbolik menghancurkan Bait Allah, ia menjadi pemenuhan atas Hukum Taurat. Mungkinkah sikapnya (dan relasinya) terhadap ‘tanah perjanjian’ pun juga demikian? Apakah perumpamaan mengenai tuan tanah yang menyewakan kebun anggur itu merupakan suatu hint bahwa penggarap-penggarap saat ini merupakan penggarap-penggarap yang jahat dan karena itu kebun anggur ini akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain? (Mat 21.33-46) Dan, bukankah Yesus mengutus murid-murid-Nya sebagai agen restorasi kerajaan ini ke seluruh bumi? (Kis 1.6-8.)

Rasul Paulus sendiri memaknai ulang janji kepada Abraham bahwa ia bukan saja akan memiliki tanah Kanaan, namun ‘dunia.’ (Rm 4.13, bdk. Kej 17.4-8.) Jika dalam Kejadian 17 disebut bahwa ‘seluruh tanah Kanaan akan kuberikan menjadi milikmu [Abraham] untuk selama-lamanya’ (Kej 17.8.), maka sekarang rasul Paulus memaknai ulang janji tersebut dengan terang pribadi Yesus dari Nazaret. Yaitu, bahwa kepada Abraham dan keturunannya telah diberikan janji bahwa ia akan memiliki ‘dunia.’ (Rm 4.13) Tentu saja, sekarang ‘penggarap-penggarap’ itu (keturunan-keturunan Abraham) bukan (saja) orang Israel secara fisik, namun setiap orang, dari etnis manapun, yang mengikuti jejak Abraham sebagai orang yang beriman. Istilahnya, ‘Israel milik Allah’, ujar Paulus. (Gal 6.10) Janji itu sudah merekah, dengan ‘tanah Kanaan’ menjadi seluruh bumi, dan ‘Israel’ menjadi siapapun yang beriman kepada Sang Mesias. Arti frase-frase ini dimaknai ulang dengan terang hidup dan karya Yesus, mati dan bangkitnya Sang Mesias. Umat pengikut Yesus dari Nazaret, sekarang dipanggil untuk menjadi terang atas seluruh bumi.

Tentu saja, sah-sah saja bagi pemikiran Yudaisme untuk menyatakan bahwa ‘tanah perjanjian’ itu masih merupakan milik mereka berdasarkan perjanjian Allah kepada Abraham. Namun, pendapat ini akan menjadi aneh jika diakui pula oleh umat Kristiani, yang meyakini bahwa perjanjian tersebut sudah dipenuhi secara definitif dan klimaktif lewat Yesus dari Nazaret, walau dengan hasil yang berbeda dari yang diharapkan oleh bangsa Yahudi sendiri. Bukankah justru hal inilah yang mengakibatkan mayoritas bangsa Yahudi tidak dapat mempercayai Yesus, yaitu karena pemenuhannya tidak sesuai yang diharapkan? Jika mereka mengharapkan Mesias yang menang dengan kuasa militer, mengapa yang ada justru Mesias yang mati di kayu salib (dan bangkit di hari yang ketiga? Jika mereka mengharapkan ‘tanah perjanjian’ ini dikembalikan pada mereka, mengapa yang ada justru Mesias yang mengutus mereka untuk pergi ke ujung bumi?

Hal ini bukan berarti Israel tidak dapat dibela sama sekali, hal ini hanya berarti bahwa janganlah alasan pembelaan tersebut didasari bahwa ‘tanah perjanjian’ itu milik Israel. (kita belum berbicara soal Hamas, yang tidak akan dibahas disini) Setidaknya, dari sudut pandang Perjanjian Baru, perjanjian tersebut sudah dipenuhi lewat Yesus dari Nazaret walau dengan cara yang tidak diduga oleh masanya, bahkan sampai masa kini.

Perjalanan bangsa Israel sendiri sangatlah panjang. Empat ribu tahun sejarah mereka mungkin didominasi oleh kelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Melihat sejarah tersebut, mungkin banyak yang mafhum kalau mereka begitu bersikeras untuk menempati sebuah tanah tersendiri. (walau, lagi-lagi, untuk memahami berbeda dengan untuk menyetujui) Sangat dipahami jikalau bangsa Yahudi ingin memiliki tanah sendiri. Holocaust akan selalu menjadi kata kunci dalam perdebatan ini; tahun 1948 tidak akan lekang oleh waktu. Bagi saya pribadi, solusi yang paling realistis untuk masalah ini adalah solusi dua negara, dimana Israel dan Palestina eksis secara bersama-sama. Perdamaian, sebagai simbol pengharapan akan langit dan bumi baru.

“Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan
akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa;
maka mereka akan menempa
pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan
tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas;
bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa,
dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yes 2.4)

“Serigala akan tinggal bersama domba dan
macan tutul akan berbaring di samping kambing.
Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama,
dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput
dan anaknya akan sama-sama berbaring,
sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung
dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau
yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus,
sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN,
seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yes 11.6-9)

Akhirnya, ‘tanah’ ini sendiri mungkin memang tanah yang penuh dengan paradoks. ‘Tanah suci’ yang menjadi tempat lahirnya tiga agama Abrahamik, tanah yang juga tidak kunjung lepas dari konflik sepanjang empat milenia ini. Kanaan, Asyur, Babel, Persia, Yunani, Romawi, Khilafah, Crusade, Ottoman, Inggris Raya; konflik seakan tidak berhenti di tanah ini. Yang sepatutnya membuat kita memaknai kembali seperti apa Allah yang empunya ‘tanah suci’ ini. Ia, adalah Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia, akan selalu beserta umat-Nya, di setiap derita dan peluh darah mereka. Akankah pengikutNya pun berbuat demikian pula, berbagi derita dengan seluruh umat manusia?

One thought on “.the vomitting land.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s