.hari sabat dan ritme ilahi.

Keunikan hari Sabat disimbolkan dengan keunikan berbagai firman yang berkenaan dengan hari Sabat. Hari Sabat menjadi unik karena keunikannya terus berkembang dari jaman ke jaman. Selalu ada hal menyegarkan yang dapat dikatakan tentang hari Sabat. Mungkin, ini sudah merupakan takdir Allah untuk hari Sabat ini. Sebut saja, inilah keunikan dari keunikan hari Sabat.

Dalam dua versi Sepuluh Firman Allah di kitab Keluaran 20.1-17 dan Ulangan 5.1-22, ada perbedaan alasan mengenai mengapa bangsa Israel harus mengingat dan menguduskan hari Sabat, dimana pada hari itu mereka, anak mereka, hamba mereka, hewan mereka, dan orang asing yang tinggal di kediaman mereka, berhenti dari segala pekerjaan yang biasanya mereka lakukan enam hari lamanya.

Dalam versi pertama di kitab Keluaran, yang memiliki latar belakang ketika bangsa Israel tiba di padang gurun Sinai setelah keluar dari tanah Mesir, hari Sabat akan diingat dan dikuduskan ‘sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya.’ (Kel 20.11)

Dalam versi kedua di kitab Ulangan, yang memiliki latar belakang ketika bangsa Israel berada di tanah Moab, seberang sungai Yordan, siap memasuki tanah Kanaan, hari Sabat akan diingat dan dikuduskan ‘sebab haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh Tuhan, Allahmu dengan tenang yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.’ (Ul 5.15)

Di Keluaran, mengingat hari Sabat bagi sebuah bangsa yang baru saja memulai perjalanan dan pengenalan dengan Allah berarti menghormati dan meniru Allah yang ‘berhenti pada hari yang ketujuh’ setelah Ia selesai menjadikan langit dan bumi; kecaplah dan lihatlah, ini Allahmu. Di Ulangan, menguduskan hari Sabat bagi sebuah bangsa yang akan menguasai satu wilayah tertentu berarti menghargai dan mengasihi sesama manusia yang rentan terhadap eksploitasi yang serupa dengan apa yang pernah bangsa Israel alami di tanah Mesir; agar mereka tidak mengulangi hal yang sama. Menjaga hari Sabat, didasarkan pada kasih kepada Allah dan sesama manusia.

Pada jaman Yesus dari Nazaret, hari Sabat telah menjadi salah satu simbol utama kaum Yahudi yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain, selain, misalnya, sunat dan pembedaan makanan yang tahir dan tidak tahir. Hari Sabat menjawab pertanyaan, “Apakah artinya untuk menjadi bangsa Yahudi yang setia terhadap perjanjian dengan Allah?” Walau, beberapa pihak mungkin akan memiliki jawaban yang berbeda jika ditanya apa manifestasi dari menjaga hari Sabat.

Misalnya, sebuah kisah tragedi di padang gurun pada pertengahan abad ke-2 sebelum Masehi, dimana kurang lebih seribu orang Yahudi mati dibunuh pasukan dinasti Seleukid, pecahan kerajaan Yunani yang berkuasa di Siria, Persia, dan Mesopotamia. Mereka mati secara tragis tanpa (bisa) melawan, karena hari mereka diserang adalah hari Sabat. Setelah tragedi itu, kelompok gerilyawan Yahudi yang dipimpin oleh Matatias harus memutuskan apa yang harus mereka lakukan jika mereka mengalami hal yang serupa. Dan, mereka memutuskan, bahwa dalam keadaan demikian, menjaga hari Sabat berarti untuk membalas serangan.

Dalam jaman Yesus, dimana hari Sabat telah dibajak dan malah menjadi alat penindasan hak asasi manusia, Yesus juga melakukan re-interpretasi yang serupa. Bagi Yesus, misalnya, menjaga hari Sabat berarti menyembuhkan orang di hari Sabat. Konfrontasi Yesus dengan mazhab Farisi saat itu, banyak yang bermula dari insiden di hari Sabat. (bdk. Mrk 1.21-28, 2.23-28, 3.1-6, Yoh 5.1-18, 9.1-41)

Belum lagi jikalau kita meninjau sejarah menarik dalam jemaat mula-mula yang dalam perkembangannya mencoba memaknai ulang berbagai aspek hari Sabat dengan terang pribadi dan karya Yesus. Misalnya, penulis kitab Ibrani menggunakan ‘hari perhentian, hari ketujuh’ sebagai metafora keselamatan. (Ibr 3.7-4.13) Atau, di dalam Kisah Para Rasul, Lukas merekam bagaimana rasul Paulus tetap pergi ke rumah ibadat Yahudi setiap hari Sabat (bdk. Kis 13.14, 17.2, 18.4), dan bagaimana di sisi lain kita juga melihat ‘hari pertama dalam minggu itu’ mulai mengambilalih posisi hari Sabat secara fungsional.

Karena itu, disinilah kita melihat keunikan hari Sabat. Ia menolak untuk dimasukkan dengan paksa ke dalam ranjang Procrustes, dimana dalam mitologi Yunani ini, Procrustes, seorang pemilik penginapan yang mengagung-agungkan kemampuan ranjang hotelnya untuk selalu dapat pas pada setiap orang yang tidur di sana, akan memotong kaki pengunjung yang kepanjangan atau menarik kaki pengunjung yang kependekan di malam hari untuk membuatnya pas dengan panjang ranjang tersebut. Ia, menolak untuk dikekang dan dilekang.

Jika ada yang pasti tentang hari Sabat, maka hal ini adalah bahwa hari Sabat itu berbeda dengan enam hari lainnya dalam satu minggu itu, dan keperbedaan ini digunakan dalam koridor kasih terhadap Allah dan sesama manusia, dua pilar kembar panggilan kita sebagai manusia yang dicipta seturut rupa-Nya, untuk mengingatkan kita senantiasa mengenai identitas dan panggilan kita di dunia dalam mengerjakan enam hari lainnya.

Bagi sebagian kawan, semester yang baru telah dimulai. Bagi sebagian yang lain, mungkin sebentar lagi saatnya liburan, atau sedang dalam masa puncak kesibukan. Bagi sebagian lagi yang lain, mungkin ini saatnya kembali dari liburan dan ke rutinitas dan ritualitas sebelumnya. Bagi semuanya, hari Sabat sepatutnya tetap mendapatkan tempat yang unik di dalam kehidupan kita. Bagi kita yang tinggal di Singapura yang identik dengan kesibukan dan aktivitas, misalnya, hari Sabat sepatutnya menyuarakan dengan lantang kepada sekitar kita bahwa manusia dan alam ciptaan tetap membutuhkan kenihilan dan pasivitas. Ada ritme Ilahi dalam waktu dan ruang, dan hari Sabat adalah esensial demi keselarasan ritme tersebut. Berbahagialah kita yang dengan pas menjaga dan menguduskan hari Sabat agar ia tetap unik di dalam kehidupan kita, sesuai dengan latar belakang dan situasi kita masing-masing, agar melalui hari itu kita diingatkan akan panggilan dwitunggal kita: mengasihi Allah dan sesama kita. Selamat menempuh tahun yang baru dengan ritme Ilahi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s