1 makabe 1.16-64

Antiokhus Epifanes merampasi Bait Allah dan Yerusalem (1.16-40)

Kemudian, setelah kerajaannya kokoh, Epifanes melancarkan serangan ke Mesir untuk menjatuhkan dinasti Ptolomeik dan menyatukan kedua dinasti pecahan kerajaan Yunani ini. Maka ia pun berperang melawan Raja Ptolomeus VI. Ia berhasil merebut Mesir pada tahun 170-68 SM. Setelah berhasil merebut Mesir, ia mulai melancarkan serangan ke Yerusalem, yang pada waktu itu termasuk wilayah kekuasaan dinasti Ptolomeik. Ia memasuki Bait Allah, dan merampasi segala perak, emas, dan perkakas di sana. (bdk. Dan 8.9-12) Ia pun pulang ke negerinya dengan segala barang rampasan dan tumpahan darah itu, dan seluruh Israel dirundung dukacita yang besar.

Dua tahun kemudian, Epifanes mengutus seorang kepala pemungut pajak ke segala kota Yehuda untuk berbicara dengan orang-orang Yahudi dengan ramah, walau ini hanya tipuan belaka karena di balik itu ada pasukan yang siap menyergap Yerusalem. Kota Yerusalem dirampasi dan dibakar habis olehnya. Perempuan dan anak-anak diangkut sebagai tawanan, dan di sekeliling kota Yerusalem dibangunlah sebuah tembok yang besar dan menara-menara yang kuat. Yerusalem, dijadikan puri oleh Epifanes.

Yerusalem menjadi asing bagi keturunannya sendiri,
dan ditinggalkan oleh segala anaknya.
Bait Suci menjadi sunyi sepi seperti padang gurun,
hari rayanya berubah menjadi hari perkabungan;
hari Sabatnya menjadi nista,
dan kehormatannya menjadi penghinaan.
(1.38-39)

Titah Helenisasi Antiokhus Epifanes (1.41-64)

Setelah itu, Epifanes mengeluarkan sebuah titah untuk seluruh kerajaannya, ‘bahwasanya semua orang harus menjadi satu bangsa. Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri.’ (1.41-42) Dengan kata lain, Helenisasi, dimana semua orang yang berada di bawah  kekuasaan Epifanes harus mengikuti budaya Yunani/Helenistik saat itu.

Titah raja sendiri yang berkenaan dengan adat istiadat Yahudi adalah sebagai berikut:

  • Menghentikan korban bakaran, korban sajian, dan korban tuangan di Bait Suci
  • Mencemarkan hari Sabat (tidak perlu menjaga hari Sabat) dan hari-hari raya
  • Mendirikan pengorbanan, hutan, keramat, dan berhala
  • Mempersembahkan babi-babi dan binatang-binatang haram lainnya
  • Anak-anak tidak boleh bersunat

Secara sederhana, rakyat Israel (dari sudut pandang Israel) diperintahkan untuk meninggalkan hukum Taurat dan membatalkan perjanjian mereka dengan YHWH.

Dan, memang, dari Israel sendiri, ada banyak orang yang menyetujui titah raja ini; mereka mempersembahkan korban ke dewa-dewa Yunani dan mencemarkan hari Sabat.

Pada tanggal lima belas bulan Kislew (penanggalan Yahudi) pada tahun 167 SM, Epifanes menegakkan ‘kekejian yang membinasakan’ di atas mezbah korban bakaran. (1.54) ‘Kekejian yang membinasakan’ ini merupakan frase yang muncul di Daniel dan di Markus.

Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu.” (Dan 9.27)

Tentaranya akan muncul, mereka akan menajiskan tempat kudus, benteng itu, menghapuskan korban sehari-hari dan menegakkan kekejian yang membinasakan. (Dan 11.31)

Sejak dihentikan korban sehari-hari dan ditegakkan dewa-dewa kekejian yang membinasakan itu ada seribu dua ratus dan sembilan puluh hari. (Dan 12.11)

“Apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya–para pembaca hendaklah memperhatikannya–maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan. (Mar 13.14)

Di Daniel, frase ini memang merujuk kepada Antiokhus Epifanes, sedangkan di Markus frase ini merujuk kepada Titus, jenderal Romawi, yang menyerang Yerusalem pada tahun 70 Masehi.

Hal yang dilakukan oleh Epifanes, yang membuat frase ini disematkan kepadanya, adalah mendirikan mezbah untuk dewa Zeus di Bait Allah dan mempersembahkan babi untuknya. Mungkin jelas kenapa hal ini disebut ‘kekejian yang membinasakan.’

Hal-hal lain yang dilakukannya: (1.54-61)

  • Mendirikan pengorbanan di segala kota di seluruh Yehuda
  • Membakar kitab-kitab Taurat
  • Menghukum mati orang yang memiliki kitab Taurat
  • Menghukum mati ibu-ibu yang meyunatkan anak-anaknya,
  • Menggantung bayi-bayinya, dan
  • Menghukum mati kerabat-kerabatnya

Namun, di balik semua itu, masih ‘banyak orang Israel yang menetapkan hatinya dan memasang tekad untuk tidak makan apa yang haram’, i.e., sebagai wujud memegang perjanjian mereka dengan YHWH. ‘Lebih sukalah mereka mati dari pada menodai dirinya dengan makanan semacam itu dan begitu mencemarkan perjanjian kudus.’ Walau, pada akhirnya mereka mati juga. Sungguhlah, saat itu, ‘kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel.’ (1.62-64)

Kesimpulan: Pasal 1

Pasal 1 dari Kitab 1 Makabe menceritakan latar belakang perjuangan Makabe bersaudara, yang akan dimulai di pasal 2. Dimulai dengan berkuasanya Aleksander Agung, yang menandai era baru kekuasaan di Timur Tengah saat itu, dan pecahnya kerajaan Yunani setelah kematiannya. Kemudian, ada seorang raja dari salah satu pecahan kerajaan tersebut, dinasti Seleukhidian yang menguasai Syria, Persia, dan Mesopotamia, yaitu Antiokhus Epifanes yang naik takhta pada tahun 175 SM. Ia menyerang Mesir, pecahan yang lain, dan menyerang Yerusalem pula, daerah kekuasaan Mesir saat itu. Ia merampasi Bait Allah dan membakar Yerusalem. Terlebih dari itu, ia membuat titah untuk menyatukan seluruh kerajaannya untuk hidup di bawah satu budaya yang sama. Yang berarti, orang Israel harus melepaskan adat-istiadatnya, yang juga berarti membatalkan perjanjian mereka dengan YHWH. Ada yang akhirnya berasilimasi dan mengikuti budaya Helenistik ini, namun ada juga yang setia. Yang setia ini, disiksa dan dihabisi oleh Epifanes. Bahkan, ia juga mendirikan mezbah untuk Zeus di Bait Allah dan mempersembahkan babi di sana; sebuah ‘kekejian yang membinasakan.’

Kisah-kisah inilah yang menjadi latar belakang munculnya perjuangan jihad oleh Makabe bersaudara untuk melawan Antiokhus Epifanes. Pertanyaan yang mulai muncul saat itu: dengan demikian, apa artinya untuk setia sebagai umat Allah dan perjanjianNya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s