1 makabe 1.1-15

Kitab 1 dan 2 Makabe ditulis sekitar tahun 120-100 SM yang menceritakan perjuangan Makabe bersaudara dalam melawan Antiokhus Epifanes, seorang raja dinasti Seleukhidian. Kali ini, kita akan melihat kedua kitab ini secara lebih detil, sebagai sebuah test case tentang bagaimana membaca kitab-kitab di Deuterokanonika dapat bermanfaat dalam menghubungkan apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Terutama kitab 1 dan 2 Makabe, yang banyak memberikan detil historis tentang apa yang terjadi di antara akhir era Perjanjian Lama dengan awal era Perjanjian Baru. Kita akan memulai dengan 1 Makabe.

Raja Aleksander Agung dan pecahnya kerajaan Yunani (1.1-9)

Kitab ini dibuka dengan menjelaskan latar belakang kisah di kitab ini, yaitu direbutnya kekuasaan di Timur Tengah dari Darius III (380-330 SM), raja Persia dan Media, oleh Aleksander Agung, seorang Makedonia, pada tahun 333 SM. Darius yang ini berbeda dengan Darius yang berada di kitab Daniel (Darius I; Dan 5.33). Aleksander sendiri sempat berkuasa ‘selama dua belas tahun’ (1.7) sebelum meninggal dunia di usianya yang ke-33 tahun (serupa dengan Yesus dari Nazaret) pada tahun 323 SM (detil perhitungannya nyaris-nyaris eksak, mirip dengan detil perhitungan di Samuel dan Raja-raja). Kekuasaannya saat itu mencakup Yunani, Makedonia, Mesir, Turki, Israel/Palestina, Syria, Iran (Persia), Irak (Mesopotamia), Pakistan, dan Afganistan modern.

Setelah Aleksander Agung meninggal dunia, kerajaannya terpecah menjadi tiga:

  • Dinasti Antigonidian di Yunani
  • Dinasti Seleukhidian di Mesopotamia dan Persia
  • Dinasti Ptolomeik di Mesir dan Palestina

Antiokhus Epifanes dan masuknya kebudayaan Yunani (Helenistik) di Israel (1.10-15)

Dan, dari dinasti Seleukhidian yang memerintah Syria, Mesopotamia, dan Persia, muncullah seorang raja yang bernama Antiokhus IV Epifanes (215 – 164 SM). Nama depannya, Antiokhus, menandai raja dinasti Seleukhidian yang cukup banyak bernama Antiokhus (nama lain yang populer: Seleukhus). Nama ini sendiri akhirnya dipakai menjadi nama kota di pesisir pantai Syria dan di provinsi Frigia (Turki tengah; selatan dari Galatia), yaitu Antiokhia, yang akan menjadi jemaat yang cukup penting di gereja mula-mula. Sedangkan Epifanes menandakan nama yang lebih bersifat menunjukkan gelarnya, dimana Epifanes berarti manifestasi (ilahi), yang daripadanya kita mendapatkan kata ephiphany. Dengan kata lain, ia mengklaim sebagai manifestasi ilahi (theos ephiphanes); walau, karena karakternya yang sangat kontroversial, orang-orang menjulukinya Epimanes yang artinya orang gila.

Penulis kitab 1 Makabe sendiri mengkarakterisasikan naiknya Epifanes sebagai raja sebagai ‘terbitnya sebuah tunas yang berdosa.’ (1.10) Ia menjadi raja pada ‘tahun 137 di zaman pemerintahan Yunani’ (1.10), yang menandai sebuah penanggalan yang dipakai saat itu.

Dan, di masa itu banyak orang Israel yang meninggalkan perjanjian mereka dengan YHWH dan mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di sekeliling mereka; i.e., mengadopsi gaya hidup Helenistik. Ini sebuah pergumulan yang masih terjadi hingga saat ini: bagaimanakah relasi umat beriman dengan budaya setempat? Kemudian, orang-orang ini menghadap raja dan diberi hak untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain. (1.11-13)

Dan, berikut beberapa adat bangsa-bangsa lain yang mereka lakukan/tiru/bangun:

  • Membangun sebuah gelanggang olah raga (gimnasium) di Yerusalem
  • Memulihkan kalup mereka (memutarbalikkan sunat; entah apa arti persisnya)

Gimnasium dalam budaya Helenisme saat itu berfungsi sebagai tempat latihan bagi atlet-atlet untuk berkompetisi dalam berbagai bidang olahraga. Kata gimnasium berasal dari kata gymnus yang berarti telanjang. Dan, waktu itu, hal ini berarti literal, dimana atlet-atlet berkompetisi dengan telanjang, untuk menggugah aspirasi estetika terhadap tubuh manusia untuk menyerupai tubuh dewa-dewa seperti Herkules dan Hermes.

Memulihkan kalup, yang berarti memutarbalikkan sunat, terlepas dari apa arti praktisnya, merupakan bentuk simbolis dari menyangkali perjanjian dengan YHWH, yang ditandai secara simbolik dengan sunat.

Dengan kata lain, dengan kedua praktek ini, hal ini menunjukkan ‘murtadnya mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat.’ (1.15)

Dan, lewat contoh pertama inilah, mulai muncul suatu pertanyaan: jika demikian, apa yang mengkarakterisasikan umat Allah yang benar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s