Cindo

Kemarin, 03/10/07, saya mengambil IC di ICA. Kurang lebih sama dengan KTP kalau di Indonesia. Dengan lebih sedikit informasi, dan lebih banyak tanda pengenal. Salah satu informasi yang tercantum di kartu identitas ini adalah ras. Di kartu saya, tertulis, Indonesian.

Saya pertama kali mengisi kolom ras di permohonan pendaftaran mahasiswa NTU. Saat itu, saya mengisi Chinese. Ketika saya berada di semester kedua, saya ingin mengambil pelajaran bahasa Cina. Yang ternyata, mengalami masalah. Pada awalnya saya tidak dapat mengambil pelajaran itu secara otomatis. Saya harus meminta ijin terlebih dahulu untuk mengambil pelajaran tersebut. (yang pada akhirnya tidak jadi saya ambil) Alasannya, karena dalam data NTU saya tercatat sebagai seorang Chinese. Dan tentunya, seorang Chinese diharapkan untuk bisa berbahasa Cina dan karena itu tidaklah adil jikalau ia mengambil subyek tersebut. Pastilah mudah. Seperti orang Melayu yang mengambil pelajaran bahasa Melayu atau orang Jepang yang mengambil pelajaran bahasa Jepang. Alasan NTU sangatlah wajar dan dapat dimengerti. Pada saat itu, saya mulai memikirkan ulang identitas saya.

Ya, saya termasuk dari sebagian besar orang Cina di IndonesiaJakarta yang tidak lagi bisa berbahasa Cina. Sudah tak terhitung berapa kali saya harus berkata: Sorry, I can’t speak Chinese, kepada orang-orang yang mengajak saya bicara dengan bahasa Cina. Lagi-lagi, mereka tidak salah. Wajah saya jelas-jelas Cina. Namun, apa daya, cakap Cina tak bisa lah aku. Lain cerita kalau awak ajak saya cakap Melayu. Bisa lah saya kalau itu. Setuju?

Ketika saya harus mengisi kolom ras lagi, kali ini untuk permohonan kependudukan tetap di Singapura, pertanyaan ini muncul lagi. Apakah yang harus saya isi? Chinese? Atau yang lain? Akhirnya saya mengisi Indonesian, dengan sepenuhnya menyadari bahwa ras Indonesia sebenarnya tidak eksis. Namun, apa lagi?

Saya pernah mencoba hal ini (menjawab ras Indonesian) ketika tes kesehatan sekitar seminggu sebelumnya. Ketika ditanya apa ras saya, saya menjawab: Indonesian. Yang langsung dibalas dengan tatapan tak percaya dan tanggapan: Not Chinese? No. Indonesian.

Apakah saya?

Saya pun menyadari sepenuhnya bahwa saya adalah seorang Cina. Tak ada gunanya menyangkal hal itu. Wajah saya menunjukkan hal itu. Mata saya. Warna kulit saya. Budaya saya. Sepenuhnya Cina.

Namun, di saat yang bersamaan, saya pun sepenuhnya orang Indonesia. Hal yang dengan mudah saya dapat rasakan ketika saya sudah berada di Singapura. Ketika melihat orang-orang Cina di Singapura. Baik yang sudah di-Singapura-kan maupun yang asli berasal dari Cina daratan. Saya, orang Cina Singapura, dan orang Cina daratan di Singapura, semuanya berbeda. Bahkan dari segi wajah pun sebenarnya sudah dapat dibedakan, kalau kita mau memperhatikan sedikit lebih mendalam. Cara berbicara pun berbeda. Budaya apalagi. Yang jelas terjadi karena pengaruh budaya tempat kami bertumbuh. Orang Cina Singapura tumbuh dipengaruhi budaya Cina, Barat, dan Melayu pada saat bersamaan. Orang Cina daratan, memang masih asli Cina dengan segala kecinaannya. Sedangkan saya, saya tumbuh dipengaruhi ke-bhinneka tunggal ika-an negara kita. Karena itu, banyak sekali pola pikir dan cara hidup saya yang jauh berbeda dengan orang Cina Singapura maupun orang Cina daratan. Saya pun, sepenuhnya orang Indonesia.

Atau, saya sepenuhnya Cina dan sepenuhnya Indonesia.

Jadi bagaimana?

Saya mempunyai sebuah usulan untuk menanggapi hal ini. Yaitu, melihat contoh dari imigran-imigran di Amerika Serikat. Di sana, orang Afrika tidak lagi disebut berdasarkan ras asli mereka di Afrika, namun disebut sebagai African American. Ada sebuah “ras” baru yang terbentuk di sana. Mungkin beginilah saya harus menyebut diri saya. Seorang Chinese Indonesian. Dapatkah ini dijadikan ras tersendiri? Semoga, di masa depan nanti, bisa. Namun, untuk sementara, saya tidak bisa memilih hal tersebut. Dan di antara dua pilihan untuk mengisi Chinese atau Indonesian, saya memilih Indonesian.

Atau, dalam bahasa Indonesia, Cindo. Cina Indonesia. Cindo.

Jadi, yang tertulis di IC saya sekarang:

Name: Septian Hartono

Race: Indonesian

16 thoughts on “Cindo

  1. septian Post author

    hemm singkatnya, ketika g bilang g Chinese, g diexpect untuk bisa bahasa Cina (which is true, of course). then, i suppose i’m not a (mere) Chinese, then.

    anyway, sbenernya emg harusnya ky yg lu bilang sih dun. walau g masih ingin mengusulkan apakah kita bisa memperkenalkan sebuah ras baru di Indonesia ini :D atau lebih tepat, etnis kali ya. (atau people group? =p) ah pusing :S

    (sebagai contoh, pembahasan mengenai Ras di wikipedia pun juga rumit :S)

    Reply
  2. suhu

    Refer ke

    https://septian.wordpress.com/2007/06/25/panggil-aku-cina/

    postinganmu yang ini cukup menjawab pertanyaanmu sendiri. Kita adalah ras Cina perantauan [Yin ni hua qiao]. Sebuah ras yang terkenal karena antara cina perantauan satu sama lain sangat distinctive. Cina perantauan singapore dan cina perantauan jelas-jelas punya keunikan tersendiri.

    Cina perantauan singapore punya keunikan selalu mengaku “I’m Singaporean.” padahal jelas-jelas muka cina. Sedangkan Cina perantauan indonesia punya keunikan yang lebih handal, yakni “Sorry, I can’t speak Chinese”.

    Adi Prawira, Koesoemo Widagdo
    Nationality: Indonesian
    Race: Chinese
    Mother tongue: Javanese

    Aku pribadi bangga sama kamu, Sept. Sungguh jarang dari kita yang memandang diri kita adalah Indonesian. Jujur saja, berapa persen dari Cina perantauan Indonesia yang merasa dirinya adalah bagian dari Indonesian. [Mungkin cuma kamu .. muahahaha].

    Anyway, pemikiran kamu bahwa “I’m Indonesian”, apakah sudah ditanggapi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai “Yes, you’re Indonesian”, perlu kamu tilik lagi.

    *terdengar teriakan anak-anak kecil ngamen di setopan lampu merah “lalala …. cina pelit … cina pelit …*

    Suhu, Hitachi.
    Ironis, Hitam tapi china.

    Reply
  3. septian Post author

    Setuju, hu. =)

    Btw, (setidaknya) aku tidak sendiri. =P

    Ada seorang senior yang mengisi kolom ras nya sebagai Indonesian, cuma pas IC-nya keluar, tertulisnya Chinese. :?

    Akhirnya perjuangan kami berhasil.

    Reply
  4. duncan

    gw melihat orang cina yang pegang tradisi (bahasa, budaya, adat) melihat kita mungkin kayak orang yahudi jaman Yesus liat orang samaria,

    “ini orang yahudi kok gak jaga tradisi kita yang agung mulia?”

    selain diaspora dan keahlian dagang, cina dan yahudi juga ada mirip di tradisi yg tua dan agung.

    pas gw melihatnya seperti ini, jadi bisa simpati terhadap mereka yang melihat cindo kok cupu ga bisa cina.

    —————————–

    tapi emang sebenernya cuman di asia ini kalo ngisi2 data harus pake race, secara tidak langsung mengajak orang untuk stereotyping n diskriminasi. di negara yang lebih barat, jangankan ras, jenis kelamin saja kalo ditanyakan kan terkadang bisa dituntut!

    belom lagi disana banyak yang campur 3 ras (keanu reeves ada cinanya, kristin kreuk ada cindonya ^^) mau tulis apa di race?

    Reply
  5. Pingback: Perjalanan » Blog Archive » Tentang Jawa (2)

  6. Pingback: Why are Indonesian Chinese cannot speak Chinese? « Collection of my ideas

  7. Sean

    gw lebih parah.. tinggal di bali.. kalo kemana2 di ajak omong bahasa mandarin / inggris.. kalo ngga pedagang2 yang nawarin barang pake mandarin / inggris.. adalah orang cina yang ngajak omong mandarin.. di kira turis2 asing yang dateng kali ya.. tapi enak juga kalo ngerjain pedagang2 nya.. mumpung gw bisa omong mandarin sama inggris..

    Reply
  8. Pingback: Why are Indonesian Chinese unable to speak Chinese? | Wilson Chandra's Blog

  9. bahra

    Haha. Geli juga rasanya membaca hal ini. Saya bukan tionghoa. Namun paham rasanya. Bahkan sekarang yang mengaku keturunan jawa, yang suku mayoritas itu, juga banyak yang tak paham cakap jawa. Rupanya banyak hal yang mesti kita korbankab untuk menyatukan Indobesia. Saya juga kurang begitu paham dengan bahasa leluhur saya, wkwkwk.

    Reply
  10. BSP

    Walaupun bukan seorang tionghoa saya juga merasakan hal yang sama. Keturunan jawa tapi lahir dan besar di Kalimantan otomatis gak bisa bahasa jawa. Begitu SMA pindah ke jogja, kalau di ajak ngomong bahasa jawa mesti agak bengong dulu terus tanya “gimana?” Baru deh ngulang pake bahasa indonesia. Bahkan saya sering dikira org batak atau dayak krn logat gak medok..Ditambah nama belakang yg kesannya kaya marga, dikira “kamu org batak ya?” Padahal sama sekali bukan marga. ngelihat tmn lain kalau ngomong pake bahasa jawa bisa akrab kok kayanya pas ngomong sama saya gak pke b. Jawa agak kaku2 gimana… ngomong sama Mbah2 sering dikira gak sopan kalau gak pake bahasa Jawa Krama.. alhasil saya jadi lebih milih diam kalau ngomong sama simbah2, paling cuma bilang iya tidak mbah.. memang benar apa yg dikatakan bahra.. memang butuh pengorbanan untuk menyatukan Indonesia.

    Reply
  11. Ahann

    Yah Intinya kita hrus bangga ber Indonesia…Gw arap tp untungnya pas ke Saudi emang mreka ngerti Bahasa kita cma sering disenggol/diejek orang sana macam “Kamu arab 1 kaum dengan kami, tp kenapa kamu gak bisa bahasa arab satupun dan hanya bisa berbahasa Indonesia?” Yah kadang gw timpalin emang d didik gni dan bhs Indonesia gw ngedok Madura..Klop deh kita pasti ngakunya Madura wkkwkw

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s