uangnya darimana?
“Masalah yang kita hadapi adalah: uangnya darimana?” — Prabowo
Apapun pertanyaannya, ini jawabannya.
Some interesting points:
1. Prabowo menyebutkan delapan hal dasar yang dibutuhkan demi kelangsungan kehidupan; which I think deliberatively echoing their 8 action programs.
2. Dalam visi-misi Boediono, kita menemukan bahwa beberapa program OrBa sebenarnya baik namun mungkin karena terlalu reaktif dalam era Reformasi menjadi ditinggalkan. Dan sekarang beberapa program tersebut akan direvitalisasi kembali, seperti pelayanan Puskesmas, Posyandu, imunisasi, dan program KB. Yang menarik adalah ternyata beberapa hal ini menjadi pertanyaan pendalaman yang ditanyakan oleh moderator (mengenai (1) pelayanan kesehatan preventif dan (2) revitalisasi KB).
3. I just knew yesterday that actually we have a national healthcare system. (at least, it has been mandated) Prabowo promised for a universal healthcare system by 2012. Wiranto turned into rhetoric, “faster, better”, without actually describing how he and JK would achieve it. Boediono didn’t want to promise a deadline for it.
4. Dan bahwa anggaran kesehatan dimandatkan sebesar 15% dari APBN, walau sekarang realisasinya baru 2.3%. (if you think about it, it means healthcare 15% + education 20% = 35%) Boediono dan Wiranto menjanjikan bisa menggandakan realisasi tersebut dalam lima tahun. Prabowo tidak terlalu peduli soal persentase, yang penting ‘uangnya darimana.’ Jika, menurutnya, kekayaan nasional tidak bocor seperti saat ini, uangnya pasti akan cukup untuk memenuhi anggaran tersebut. (though he did mention that 15 trillion rupiahs would be enough to insure all citizens under coverage)
5. To continue on that point, Prabowo (with Mega) claimed that with their economy system they can reclaim 200 trillion rupiahs/year (to put in perspective, our annual budget is at around 1000 trillion rupiahs) that they think we have lost each year for the past 12 years. Boediono replied that it was a dream and unrealistic. Prabowo replied back in his closing motion that it was realistic and has been accounted by his economic team.
6. Mengenai rokok, no significant difference between all candidates. (which shows how delicate the situation is on this matter in Indonesia)
7. On birth control legislation (like China), Prabowo & Boediono didn’t want to do it. Wiranto flip-flopped.
PS (not really related): When I was on the bus on the way home, I just knew from Channel News Asia that Prabowo was denied an American visa for life. So, does it mean that if he were to become vice president, our VP can’t visit the US? -_-
complete notes after the jump.
*
Perkenalan
Wiranto on Prabowo:
1. Sama-sama menggeluti profesi militer
2. Sama-sama lulusan AkMil
3. Sama-sama pernah bertugas, mis. di TimTim
Boediono on Prabowo:
1. Kenal namanya yang beken
Prabowo on Boediono:
1. Tidak terlalu kenal secara pribadi
2. Kenal sebagai akademisi, intelektual, mengabdi kepada negara
Prabowo on Wiranto:
1. Saya junior beliau
2. Prajurit yang profesional, unggul, berprestasi
Wiranto on Boediono:
1. Profesor pasti pandai
2. Pekerja keras, berjuang demi bangsa & negara
Boediono on Wiranto:
1. Prajurit profesional
2. Kenal pas jadi menteri
3. Sudah mencapai puncak, sekarang ingin lebih lagi
–
Visi-Misi
1. Prabowo
Negara yang berhasil dan efektif menjamin WN dapat memiliki beberapa pokok-pokok dasar untuk melangsungkan kehidupan:
- air bersih: hari ini masih kesulitan, masih beli air
- pangan yang cukup
- sandang
- papan, perlindungan dari alam
- pekerjaan yang layak
- menyekolahkan anaknya, pendidikan
- pelayanan kesehatan, kuat produktif, bebas dari penyakit
- lingkungan hidup yang rumah
Jika 8 ini tidak ada, maka negara tersebut tidak dapat dikatakan berhasil dan efektif. Dan sekarang masih demikian.
Hampir 100 juta dibawah garis kemiskinan (World Bank)
Puluhan juta tidak memiliki pekerjaan
Iklan pendidikan gratis x hal itu tidak benar di daerah-daerah
Jadi, MegaPro akan melakukan hal-hal ini:
- 12 tahun Wajib Belajar gratis
- Menolak UU BHP, komersialiasi Pendidikan Tinggi, di luar sistem Pancasila & sistem kekeluargaan, tidak adil bagi orang miskin
- Pelayanan kesehatan yang terjangkau
- Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam waktu singkat
- Penciptaan lapangan kerja
- Rehabilitasi 59 ha lahan yang rusak
- 1 ha bisa menyerap 6 orang bekerja [yang ini gw ga nangkep, berhubung 59x6 cuma 300an... mungkin ada kata 'ribu' yang saya miss]
- Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
- Kekayaan nasional bocor tiap hari
- Mengembalikan kekuatan ekonomi kepada rakyat
- SDA dikembalikan kepada tangan rakyat sendiri
2. Boediono
Masalah dan solusi
Masalah:
Pak Udin, di kampung nelayan, memiliki 6 anak, Belawan, 30rb/hari, pemukiman memerlukan perbaikan di bidang kesehatan dan sanitasi. – potret realitas hidup rakyat Indonesia.
- Income harus ditingkatkan
- Jumlah anak: 2 anak cukup
- Pengeluaran harus terjangkau
- Pemukiman diperbaiki
Solusi:
1. Peningkatan anggaran di bidang kesehatan
- dengan prioritas revitalisasi program KB
2. meningkatkan program-program preventif seperti pelayanan dasar
- revitalisasi Puskesmas, PKK, Posyandu
- penempatan dan insentif dokter
- peningkatan standar & status perawat (internasional)
3. JamKesMas (Jaminan Kesehatan Masyarakat)
- Bantuan sosial langsung
- Sistem Jaminan Sosial Kesehatan Nasional
- Dilakukan dengan bertahap
4. Pendidikan
- Menggunakan 20% anggaran dengan lebih baik
- Pendidikan gratis 9 tahun, akan ditingkatkan menjadi 12 tahun
- Perhatian kepada Pesantren
- BOS disempurnakan
- Beasiswa diberikan sesuai kebutuhan
- Meningkatkan kualitas guru
5. Lingkungan hidup
- Penghijauan (daerah alihan sungai)
- Sanitasi
3. Wiranto
Kita beruntung memiliki negeri yang indah, kaya raya, flora fauna, kekayaan alam. Logikanya: bangsa ini memiliki penghidupan yang baik. Kenyataan: masih banyak masyarakat Indonesia yang menderita dan sengsara. Jadi: kualitas hidup rendah.
BPS: 35 juta berada di bawah garis kemiskinan
World Bank: 100 juta (dipaparkan ke Boediono, namun dituduh menyesatkan)
Pernah menjadi dan merasakan kemiskinan tersebut, jadi dapat memahami perasaan mereka.Sepatutnya ini menambah semangat kita untuk membantu mereka.
Indo: 109 dari 170, Malaysia: 62, Singapura: 28 (indeks kualitas hidup manusia).
Menurut standar MDG, Indonesia masih ditempatkan di kategori negara tertinggal di ASEAN.
Solusi: kebijakan ekonomi baru
@Boediono: sekarang diukur dengan standar ekonomi makro
Kami akan mengukur dari kebutuhan dasar, kecukupan sandang, pangan, papan.
1. Menyediakan lebih dari 12/20 juta lapangan pekerjaan
- Pengangguran dibawah 5%
2. Pertumbuhan ekonomi di atas 8% (red: ini juga standar ekonomi makro swt -_-”)
- Penurunan kemiskinan
3. Jaminan kesehatan lingkungan
- ekonomi hijau, responsif terhadap pemanasan global
–
Pertanyaan 1
Klip: dukun cilik (dokter dihindari, Ponari dicari)
Mindset: pelayanan kesehatan, padahal mencegah lebih baik daripada mengobati, dan dibutuhkan pengetahuan.
Pertanyaan: kuratif/preventif/rehabilitatif dalam fokus anggaran
dan mengenai anggaran kesehatan itu sendiri (amanat MPR 15%, sekarang 1% dari GDP)
1. Boediono
Anggaran: mendapat prioritas tinggi, akan mencoba untuk meningkatkan secara signifikan (sekarang 2.3%) sesuai dengan kemampuan ekonomi.
Fokus anggaran: sudah dibilang seperti, meningkatkan prevensi, dengan bentuk revitalisasi Puskesmas sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat, bukan sebagai Balai Pengobatan. Supaya mereka bisa reach out ke masyarakat. Upaya KB, imunisasi.
Moderator@Boediono: Kapan bisa mencapai 15%?
Jawab: Hanya bisa menjanjikan bisa lebih dari dua kali lipat
2. Wiranto
Sebenarnya prevensi di awal lebih mahal (investasi), baru lebi murah di jangka panjang. Jadi perlu imbang preventif-kuratif.
Peningkatan anggaran secara bertahap sampai mencapai 15%, tapi tidak berani menjanjikan hal tersebut dalam lima tahun. Menjanjikan lebih dari dua kali lipat. (echo Boediono)
Sekarang: 4.49% (swt beda2 angkanya)
(red: nggak menjawab, cuma mengkonfirmasi pertanyaannya)
3. Prabowo
Tidak mau menjanjikan angka. 15% dari jumlah apa?
Masalahnya kekayaan nasional kita bocor, karena itu anggarannya kurang. Selalu ditutup pinjeman dari luar negeri.
Yang kita usulkan adalah perubahan paradigma.
Tahun ini kita bayar bunga utang $10 miliar.
PBB sudah setuju untuk mengkonversi utang ke investasi pendidikan & kesehatan.
Jadi kami akan menjadwalkan ulang hutang-hutang kita.
Dengan begitu, walau cuma 4-5% pun [nanti akan cukup].
Preventif/kuratif: rakyat kita kurang gizi, ibu2 kita kurang susu untuk anaknya.
(red: again, pertanyaannya apa, jawabannya sistem ekonomi. ok, WE GET IT already that you want to change the system. now we want to know the details of your system.)
–
Pertanyaan 2
Klip: rokok – 154 juta/70% penduduk. perokok aktif: 57 juta jiwa, separuh mati dari rokok. biaya penyembuhan penyakit dari rokok: 11 triliun. untuk seluruh penyakit lain: 10 triliun/tahun. rokok dihubungkan dengan kemiskinan. namun rokok sering dianggap pahlawan devisa. padahal hanya menyerap 1% tenaga kerja saja.
Pertanyaan:
1. membatasi iklan rokok, meningkatkan cukai rokok sesuai standar global vs berpihak kepada industri rokok.
2. UU rokok, pada tahun keberapa?
1. Wiranto:
Dilematis (industri rokok vs bahaya rokok).
Menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok secara lebih intens. -> masyarakat menjauhi rokok -> produksi rokok akan mati dengan sendirinya.
Iklan rokok: harus ada keseimbangan, ada iklan namun bahayanya harus dicantumkan lebih jelas lagi.
Anak vs Industri rokok? Anak.
Membutuhkan pendalaman supaya suatu saat dapat kita undangkan.
2. Prabowo:
Anak vs Industri rokok? Anak.
Tetapi harus diketahui kalau negeri kita ini negara agraris dan banyak petani kita yang menanam tembakau, dan tembakau ini hidup di tanah yang gersang dan kadang tidak bisa ditumbuhi tanaman lain. Jadi bagaimana dengan nasib petani-petani ini.
Meyakinkan petani tembakau untuk mengalihkan mata pencahariannya.
UU Rokok: trend dunia, sudah mewarning petani tembakau, namun kewajiban pemimpin harus membela rakyat Indonesia.
3. Boediono:
Saya tidak merokok, SBY tidak merokok, jadi kami sendiri juga yakin bahwa merokok ini membebani kesehatan rakyat kita.
Masalahnya adalah kita memiliki situasi yang kompleks.
PP 19/2003 – aturan mengenai mengiklankan, konsumsi rokok. Perlu melaksanakan hal ini terlebih dahulu.
Jika perlu UU, maka akan diundangkan.
Namun lagi-lagi, bukan hanya menyangkut industri, namun juga menyangkut petani. Bagaimana petani bisa tetap mendapatkan income yang baik dengan beralih dari tembakau dst. Namun tidak bisa dijalankan secara langsung 1-2 tahun, jadi akan bertahap.
–
Pertanyaan 3
Materi: realita hidup sebuah keluarga yang hidup sangat pas-pasan.
Kita sudah punya UU mengenai Sistem Jaminan Sosial. Saat ini 120 juta sudah tertanggung. Masih ada 100 juta yang belum tertanggung.
Masalah: yang tidak miskin yang tidak terlalu kaya, yang belum terjamin ini.
Pertanyaan: tahun kberapa seluruh rakyat dapat tertanggung dalam sistem Jaminan Sosial.
1. Prabowo: tahun ke-3 sudah bisa. Asuransi kesehatan menyeluruh Rp 15 triliun, dengan asumsi kami tadi melakukan penjadwalan utang tadi, seperti yang disetujui oleh PBB, negara maju, MDGs.
Paling lambat 2012.
Karena saya masih punya waktu, saya kembali ke masalah pokok kita. Kekayaan nasional kita bocor tiap tahun. Rata-rata kita kehilangan 200 triliun/tahun selama 12 tahun terakhir.
2. Boediono: pokok masalahnya adalah tekad untuk melakukan hal ini. perlu perhitungan yang jelas. tidak berani janji, namun mulai 2010 akan dihitung.
3. Wiranto: dasar pemikirannya adalah rakyat yang memiliki negeri ini, namun pengaturannya mesti sehat. lebih cepat lebih baik, namun juga kondisinya mesti jelas.
(ketika didesak) ya kalau lebih cepat lebih baik maka 2010, 2011.
4. Prabowo: harus ada langkah terobosan. darimana uangnya. saya baru dari jombang, jember, tidak memiliki kontribusi apa2 kecuali upah murah. uang2 tersedot ke ibukota, tidak kembali ke daerah.
–
Pertanyaan 4
Materi: Pejabat eselon 1, anak kuliah di universitas ternama, masuk di bandung 50 juta, depok 25 juta. spp bandung 6 juta/tahun, 15 juta/tahun. untuk fakultas eksakta. kebutuhan: total 7 juta/bulan.
Pertanyaan: policy pendidikan ketrampilan, pendidikan akademik, apalagi di tengah era globalisasi dengan banyak tenaga kerja asing yang dapat masuk di tingkat manajerial.
1. Boediono: penggunaan anggaran 20% ini, sesuai dengan kebutuhan dan ekonomi global. tidak mematok antara kejuruan/non-kejuruan, karena dapat berubah dengan cepat. memberikan pedoman, arahan yang lebih umum. kejuruan:umum = 60:40 rasio. kuncinya adalah kualitas, yang membutuhkan pendidikan2 dasar. keluwesan dalam sistem pendidikan.
2. Wiranto: orientasi pendidikan berdaya saing (globalisasi). sekarang kita kekurangan keahlian manajemen modern. harus ada keseimbangan ketrampilan kejuruan/umum.
3. Prabowo: jawaban Boediono terlalu normatif, terlalu akademis. masalah yang kita hadapi adalah: darimana uangnya?
4. Boediono: Prabowo menawarkan suatu impian bahwa ratusan triliun dapat datang per tahun, saya menawarkan agar bapak mengkaji ulang impian tersebut. tolong agar lebih realistis dengan kenyataan yang kita alami saat ini.
–
Pertanyaan 5
Materi:
Pertanyaan: isu kependudukan. ancaman ledakan penduduk yang cukup tinggi. di era reformasi KB kurang mendapatkan perhatian. apakah bapak akan membuat kebijakan pembatasan kelahiran seperti RRC?
1. Wiranto:
ledakan penduduk tidak dapat kita hambat secara internasional, esp dikontraskan dengan kebutuhan pangan.
karena itu perlu upaya membatasi pertumbuhan penduduk.
revitalisasi KB untuk Indonesia.
kenapa takut membuat UU membatasi kelahiran? tapi perlu dipertimbangkan terlebih dahulu.
2 anak cukup.
2. Prabowo:
melihat kondisi nyata, menggunakan jalur pendidikan, harus dididik/diajar secara persuasif, untuk membantu KB.
budaya Indo kalau di UU kan tidak cocok. ada ibu2 25 tahun anaknya sudah 4 tahun. ada yang 6. kenapa 6? daerah kami dingin.
3. Boediono:
saya tidak setuju dengan UU.
saya dengan program yang kongkret di lapangan, revitalisasi program KB, anggaran yang cukup, bersama Pemda dan masyarakat.
UU mgkn tidak efektif, bahkan merugikan, melanggar HAM.
4. Wiranto:
sebenarnya kita sama tadi, cuma karena ditanya tadi kalau terpaksa ada UU bagaimana.
(red: sebelum pertanyaan itu ada pertanyaan lain… Wiranto flip-flopped)
–
Kata penutup
Wiranto: negara kita kaya raya, mari membangun bersama bangsa ini. butuh lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan kita. lebih cepat lebih baik!
Boediono: cita-cita kita bersama – meningkatkan program preventif, anggaran kesehatan, pelayanan dasar, akses & biaya pendidikan, perbaikan kesetaraan jender.
Prabowo: pak Boediono bilang bahwa apa yang kami tawarkan adalah impian. kami tidak menawarkan impian, kami menawarkan strategi yang realistis. pertanyaannya adalah apakah kita akan meneruskan strategi yang keliru ataukah kita ingin berubah dan mengembalikan kedaulatan ekonomi rakyat Indonesia?





nicely summarized..thanks bro!