Catatan harian 57
Jumat, Sabtu, Jumat, Sabtu lagi – Singapore-Newark-Toronto

Kisah perjalanan dari sgp.
Baru tahu bahwa ada power point di dalam pesawat. Tahu gitu power adaptornya dimasukkin ke tas, bukan ke koper. Dan rencana membaca bukunya gagal total karena pesawatnya di set gelap sepanjang perjalanan, dan saya malas kalau harus menggunakan lampu baca tambahan. Jadinya, menonton, menonton, menonton. Akhirnya, dari 19 jam di udara, 15 jam digunakan untuk menonton. -_-
Pertama, Golden Compass. Walau setelah lima belas menit saya merasa bosan dan akhirnya berhenti menonton film ini.

Yang kuganti dengan Juno. Sebuah film yang mengisahkan seorang remaja usia 16 tahun yang mengandung di luar nikah, mencoba untuk menggugurkan kandungannya namun tidak jadi, dan akhirnya memutuskan untuk memberikan anaknya untuk adopsi. Film ini mengisahkan lika-liku yang terjadi selama masa kandungannya, mulai dari mencari calon pasangan yang akan mengadopsi anak ini, bagaimana interaksi ia dengan pasangan ini, bagaimana dinamika pasangan ini sendiri, dan bagaimana relasi ia dengan orangtuanya, teman-temannya, dan pasangannya. Menarik mungkin untuk mengetahui pergulatan internal seorang remaja yang mengandung di luar nikah, sebuah realita yang mungkin akan terjadi di lingkungan sekitar kita.

Dilanjutkan dengan The Kite Runner. Film yang diadopsi dari sebuah buku yang berjudul sama ini mengisahkan tentang bagaimana Amir, seorang asal Afganistan, yang harus kembali ke negaranya pada jaman pemerintahan Taliban untuk membawa anak teman masa kecilnya, Hassan, keluar dari negeri itu. Film ini dimulai dengan kisah masa kecil dua sahabat ini, yang terletak sebelum jaman Komunis Uni Soviet. Afghanistan adalah sebuah negara yang berkembang dan banyak pengaruh Barat di sana. Hassan sendiri adalah anak pelayan keluarga Amir. Hassan adalah seorang Hazara, dan Amir adalah seorang Pashtun, suku mayoritas dan ‘pure’ di Afghanistan. Mereka suka bermain layang-layang bersama (sebuah permainan favorit anak-anak di Afghanistan saat itu) walau teman-teman mereka suka mengejek bahwa Hassan hanyalah pelayan Amir dan tidak pernah menjadi sahabat sejatinya Amir. Amir dan ayahnya pada akhirnya harus meninggalkan Afghanistan saat Uni Soviet menyerbu negeri ini. Dua puluh tahun kemudian, saat Uni Soviet sudah digulingkan oleh Taliban, Amir menerima sebuah panggilan telepon dari sahabat ayahnya yang sekarang berdomisili di Pakistan, bahwa ia harus kembali ke Afghanistan untuk menjemput anaknya Hassan, yang sudah meninggal karena dibunuh oleh Taliban. Film ini sangatlah membantu untuk memahami konteks Afghanistan saat ini, sebuah negara yang bergejolak terus, mulai dari berkuasanya Komunis Uni Soviet (yang, menurut satu tokoh di film ini, ‘membunuh para Mullah kita’), naiknya Taliban sebagai penguasa (yang bertolak belakang 180 derajat dari Uni Soviet dengan pemerintahan teokratis), dan bagaimana sekarang Amerika Serikat beserta koloninya menyerang Afghanistan untuk membebaskan rakyat Afghanistan dari kuasa Taliban. (yang memang beneran tidak berperikemanusiaan)
Setelah itu saya menonton dua film dokumenter: My Brilliant Brain, episode Marc Yu, dan Louis Theroux, episode Behind The Bars.
Yang dilanjutkan dengan empat film Asia, karena tampaknya lebih menarik dibandingkan film hollywood.

Hero (Jepang)
Kasus pembunuhan yang terkesan sangat sederhana ini berkembang dan berkembang terus setelah kasus ini digunakan sebagai alibi untuk kasus lain yang lebih berpengaruh di Jepang.
Open City (Korea)
Grup copet yang dicari-cari oleh seorang polisi, yang menjadi polisi pun karena ibunya seorang copet. Pemimpin grup ini adalah bekas seorang anggota grup ibu polisi ini, yang membuat dinamika polisi dengan pemimpin grup copet ini menjadi kompleks dan menarik untuk diikuti.

Last Present (Korea)
Seorang napi yang dihukum seumur hidup karena terlibat dalam pembunuhan dibebaskan sementara karena ia diminta bantuan seorang temannya, yang seorang polisi, untuk menyumbangkan organ hati untuk anaknya yang menderita penyakit Wilson. Bagaimana organ sang napi ini bisa cocok dengan anak temannya, sedangkan seluruh keluarga temannya tidak cocok dengan anak ini?
Filmnya sangat mengharukan. T_T

The Glory of Team Batista (Jepang)
Film Jepang yang mengisahkan tentang sebuah tim operasi yang menggunakan teknik Batista untuk operasi penyakit jantung. Tim ini sudah sukses sebanyak 26 kali berturut-turut, sebelum 3 kegagalan terjadi berturut-turut yang membuat admin rumah sakit merasa curiga bahwa ada sesuatu yang salah mengenai tim ini. Diutuslah seorang dokter umum yang biasanya menerima pasien-pasien dengan complain tidak jelas (tahi lalat saya harus dioperasi apa nggak, menantu saya selalu mengintimidasi saya) untuk meneliti kasus ini. Apakah ada pembunuh di tim ini, ataukah tiga kegagalan ini hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Banyak belajar soal hidup manusia dari film-film ini. =)
Habis semua ini, saya tidur dua jam, dan akhirnya sampai juga di Newark…
*
Sampai sekitar jam 6 sore (6 pagi waktu sgp), menuju imigrasi.
‘Does Indonesian passport need to [ga tahu ngomong apa]?’ tanya petugas imigrasi ke temannya.
‘Oh, gak usah, itu hanya yang untuk [ga tahu ngomong apa],’ jawab temannya.
Baru dikasih lewat setelah ia bertanya ke dua orang tentang hal yang sama. Entah apa hal itu.
Habis itu kami bergegas menuju gate penerbangan selanjutnya. Dan airportnya bikin pusing. Persis kaya di Frankfurt, dimana saya nyasar pas mau ganti pesawat dan akhirnya ketinggalan pesawat beneran. -_- Dan akhirnya sampai juga ke gatenya. Pesawatnya diundur jadi jam 945. Dan sekarang masih jam 7.
Kami pun pergi ke lounge, makan snack, online, reply email, chating, terus nonton NBA. Cleveland lagi ngebantai Washington, dan Atlanta lagi ngejar Boston. Jam 9, pergi menuju gatenya lagi. Wew, dimajukan jadi 925.
Lima belas menit kemudian. Diundur lagi, jadi jam 1030. -_-
Jam 1030, masuk pesawat. Duduk dengan tenang. Pesawat mati lampu. -_- Stress… ga kebayang kalo matinya pas lagi di udara. Isi power dulu, dan akhirnya baru berangkat jam 1145 malam.
Dan akhirnya baru sampai di Toronto jam 1 pagi, hari Sabtu.
Jadi berangkat hari Jumat, di sekitar Rusia jadi hari Sabtu, melewati Intl Date Line jadi hari Jumat lagi, dan akhirnya sampai hari Sabtu. Blur.
Dan akhirnya sampai di hotel jam 2 pagi. Baru tidur jam 245 (mandi, unpack). Dan harus bangun jam 645. Right…






6 komentar