Lalu pergilah Abram
Nats: Kej 12.1-8
1. Berkat dan kutuk
“Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kej 12.1-3)
Ucapan berkat dan kutuk banyak mewarnai perjalanan bangsa Israel. Contohnya, rangkaian ucapan berkat dan kutuk di kitab Ulangan, sebelum Musa mati dan mereka masuk tanah Kanaan. (Ul 27-28.) Berkat akan datang jika bangsa Israel mendengarkan suara Tuhan dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya. Kutuk akan datang jika mereka tidak mendengar suaraNya dan tidak melakukan dengan setia segala perintah-Nya.
Yesus sendiri meredefinisikan rangkaian berkat dan kutuk ini. Ucapan berkat (atau, ucapan bahagia) di Mat 5, ucapan kutuk (atau, ucapan celaka) di Mat 23. Atau, dalam bentuk lain seperti yang terdapat di Luk 6.
Dan, tentunya, ucapan berkat imam, yang ditetapkan sebagai suatu cara bagaimana imam akan memberkati bangsa Israel, berbunyi demikian,
“TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya
dan memberi engkau kasih karunia;TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu
dan memberi engkau damai sejahtera.”
(Bil 6.24-26)
Ucapan berkat ini menjadi bagian yang sangat umum dipakai oleh gereja mula-mula. Hampir setiap penutup surat yang ditulis oleh Paulus berbunyi demikian, “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu.” Dan inilah esensi makna berkat (barakah, barokah, seperti dalam Barack Obama) yang saya pahami.
Berkat adalah ketika Tuhan menghadapkan wajahNya kepada kita, manusia.
Berkat kontras dengan kutuk. Kutuk adalah ketiadaan Allah. Berkat adalah kehadiran Allah.
Betul, segala sesuatu yang baik yang kita terima dari Tuhan itu adalah suatu berkat, namun mereka tidak berhenti sampai di situ saja. ‘Berkat-berkat’ ini sepatutnya menunjuk kepada realita yang ada di balik semua ini, yaitu bahwa Allah beserta kita. Berkat yang diterima untuk berkat itu sendiri, paling baik hanyalah sebuah bentuk tidak tahu terima kasih, dan bisa berujung ke penyembahan berhala.
Dan tugas seperti inilah yang diemban oleh Abram ketika ia dipanggil oleh Tuhan. Ia dipanggil untuk menjadi berkat, dimana seluruh kaum di bumi bisa kembali mengalami hadirat Allah. Dimana saat ini, seluruh kaum di bumi tidak mengenal Allah yang benar. Mereka diserakkan ke seluruh bumi setelah mencoba ‘mencari nama’ untuk mereka sendiri. Umat manusia berada di dalam pembuangan. Terpisah dari Allah.
Dalam konteks itulah, Abram dipanggil. Untuk menjalankan apa yang kita sebut ‘pelayanan pendamaian.’ Untuk menjadi imam, antara Allah dengan manusia. Untuk menjadi perantara, antara Sang Khalik dengan ciptaanNya. Untuk menjadi agen pendamai, antara Tuhan dan umat manusia yang sekarang terpisah karena dosa.
Dalam satu kata, untuk menjadi berkat.
2. Dipanggil, dipilih.
Bagian ‘berkat dan kutuk’ secara natural membawa kita kepada satu aspek konsep pemilihan (election) yang lebih jarang di-highlight dalam diskursus teologia. Jurang antara Calvinisme dan Arminianisme, misalnya, mengenai siapa yang dipilih, apakah itu perorangan atau gereja secara korporal, mengenai kapan mereka dipilih, dst. Atau, yang terjadi di abad pertama antara bangsa Israel sendiri, dimana yang diperdebatkan itu, siapa umat pilihan yang sejati? Kaum Farisi? Imam-imam? Herodes? Komunitas Qumran? Kaum revolusioner? Selalu ada saja aspek yang bisa diperdebatkan mengenai konsep pemilihan ini. =)
Yang justru jarang membahas, untuk apa mereka dipilih. Yang malah menjadi sesuatu yang dengan jelas ditulis di awal panggilan Abraham. Umat pilihan yang lahir dari Abraham ini, dipanggil untuk menjadi berkat. Sekiranya masih ada perbedaan mengenai detil doktrin pemilihan ini, marilah setidaknya kita mengingat hal yang jauh lebih jelas ini. Kita dipanggil untuk menjadi berkat.
The elect people are inseparable with their calling.
3. Pergilah: Dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan
“Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dari rumah bapamu, ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” (Kej 12.1)
Sebuah perintah yang menjadi inspirasi bagi bangsa Israel dalam mencapai tanah Kanaan, tanah perjanjian.
Sebuah perintah yang mungkin sangat menyeramkan bagi Abram. Ia harus pergi dari negeri asalnya. Ia harus pergi dari sanak saudaranya. Ia harus pergi dari rumah bapanya.
Sebuah perintah yang mungkin masih diperdebatkan antara Israel dan Palestina saat ini. Siapakah ‘pemilik’ tanah ini?
Sebuah perintah yang mendorong dan mengobarkan semangat bangsa Israel, dari dulu sampai sekarang, bahwa tanah ini adalah tanah yang super penting bagi bangsa mereka.
Sebuah perintah, yang didefinisikan ulang oleh Yesus.
“Pergilah… jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” (Mat 28.19)
Sekarang murid-murid yang harus pergi dari negeri mereka. Dari sanak saudara mereka. Dari rumah bapa mereka.
Ke seluruh bumi, sebuah perjalanan yang akan Yesus sertai sampai pada akhir zaman.
Tanah perjanjian itu merekah lebar. Dari sepotong tanah kecil di Timur Tengah, menjadi seluruh bumi.
Ya, mereka harus siap melepaskan segala kecintaan mereka terhadap Tanah ini. Mereka hidup di jaman dimana seluruh bangsa Israel ingin mempertahankan Tanah ini sebagai bukti identitas umat pilihan Allah. Tak sedikit yang mati demi membela Tanah ini. Dan sekarang, mereka, pengikut Yesus, malah disuruh untuk pergi meninggalkan tanah ini dan menjadikan segala bangsa murid Yesus.
Awalnya, perintah ini adalah sebuah perintah yang sungguh radikal dan subversif. Sungguh menantang worldview murid-murid saat itu.
Pergilah. Bukan dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan. Namun, dari tanah Kanaan ke seluruh bumi.
*
Hari Minggu ini kita akan mendengar Firman dari kisah Esau dan Yakub (Kej 25.21-34). Karena itu, marilah kita membaca Kej 12.9-25.20 untuk mendapat gambaran latar belakang kisah ini. =)





yang ingin punya Alkitab untuk handphone dapat download di http://www.manadoku.com Semoga bermanfaat…