Takjub oleh Anugerah

on the first day of christmas (holiday)

Ditulis dalam Doa oleh septian pada 20 Desember 2007

Homecoming selalu membawa emosi yang campur aduk. Bahagia, dapat bertemu keluarga, kerabat, kawan. Lega, dapat beristirahat. Getir, melihat penderitaan bangsa ini. Geram, dengan ketidakadilan di negeri ini. Hopeless, menyadari seorang diri tak dapat berbuat apa-apa. I’m coming home, indeed.

Datanglah kerajaanmu, ya Tuhan. Di bumi seperti di sorga. Di bumi, Tuhan.

Sekilas pandang. Secara kasat mata. Bangsa ini semakin menderita. Jalan yang ditempuh bangsa ini salah. Pemimpin yang tak tahu arah, rakyat yang tak berdaya. Pemimpin yang korup, rakyat yang apatis. Oh Tuhan.

Jadilah kehendakmu, di bumi seperti di surga. Di bumi, Tuhan.

Tuhan, aku tak berdaya. Tolong kami, Tuhan.

Mengapa?! Dimana engkau, ya Allah!

Tidak pedulikah engkau, jika kami binasa!

Dan mengapa perasaan ini, Tuhan. Mengapa beban ini. Begitu berat. Jikalau cawan ini boleh lalu dariku…

Abba. Bapa. Ajar kami anak-anakmu.
Ajar kami untuk menangis bersama negeri ini.
Ajar kami untuk berdoa bersama negeri ini.
Ya Tuhan, ajarlah kami berdoa.

Apakah
saya harus kembali
ke negeri ini
lebih awal,
Abba?

Ya Tuhan Yesus, kasihanilah kami, orang berdosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan.

Kasihanilah kami.

Dalam namamu yang kudus kami naikkan doa ini.
Amin.

On the first day of Christmas,
My Abba gave to me,
A glorious vocation to think.

Ditandai sebagai:,

on the first day of christmas (holiday)

Ditulis dalam Kehidupan sehari-hari oleh septian pada 20 Desember 2007

Homecoming selalu membawa emosi yang campur aduk. Bahagia, dapat bertemu keluarga, kerabat, kawan. Lega, dapat beristirahat. Getir, melihat penderitaan bangsa ini. Geram, dengan ketidakadilan di negeri ini. Hopeless, menyadari seorang diri tak dapat berbuat apa-apa. I’m coming home, indeed.

Datanglah kerajaanmu, ya Tuhan.

Sekilas pandang. Secara kasat mata. Bangsa ini semakin menderita. Jalan yang ditempuh bangsa ini salah. Pemimpin yang tak tahu arah, rakyat yang tak berdaya. Pemimpin yang korup, rakyat yang apatis. Oh Tuhan.

Jadilah kehendakmu, di bumi seperti di surga. Di bumi, Tuhan.

Tuhan, aku tak berdaya. Tolong kami, Tuhan.

Mengapa?! Dimana engkau, ya Allah!

Tidak pedulikah engkau, jika kami binasa!

Dan mengapa perasaan ini, Tuhan. Mengapa beban ini. Begitu berat. Jikalau cawan ini boleh lalu dariku…

Abba. Bapa. Ajar kami anak-anakmu.
Ajar kami untuk menangis bersama negeri ini.
Ajar kami untuk berdoa bersama negeri ini.
Ya Tuhan, ajarlah kami berdoa.

Apakah
saya harus kembali
ke negeri ini
lebih awal,
Abba?

Ya Tuhan Yesus, kasihanilah kami, orang berdosa.
Kasihanilah kami, ya Tuhan.

Kasihanilah kami.

Dalam namamu yang kudus kami naikkan doa ini.

Amin.

Ditandai sebagai:, ,