Berketetapan untuk memberi
Dalam financial planning modern, yang menjadi fokus utama adalah individu itu. Atau, kadang lebih baik, keluarga individu itu. Yang saya pikir agak tidak lengkap. Karena tidak mengikutsertakan aspek orang lain disana. Ketika saya merencanakan, semua berputar dan semua difokuskan kepada saya saja. Karena itu, kita bisa terjerumus untuk mengembangkan ‘kekayaan’ bagi kita saja. Yang saya pikir lagi-lagi tidak lengkap. Memang, andai saja ada lembaga finansial yang mengharuskan adanya unsur memberi di dalam rencana finansial seseorang, mungkin lembaga finansial ini tidak akan laku. Siapa yang mau uangnya harus disisihkan untuk mencukupi kebutuhan orang lain? (atau malah menjadi unik? Ada yang mau coba bikin? =P) Yah, begitulah rasanya hidup di dunia yang kapitalis ini. Sebenarnya saya masih berdoa agar sistem ini runtuh suatu saat, walau saya sendiri belum tahu bagaimana solusinya. (karena Marxisme juga sudah terbukti gagal, satu-satunya sistem alternatif yang mapan adalah sistem ekonomi Syariah)
Namun, kita bisa berbuat sesuatu setidaknya dalam sistem yang tidak sempurna ini! Yaitu, dengan berketetapan untuk memberi. Dalam berencana, marilah selalu berkomitmen untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan kita untuk diberikan kepada orang yang miskin dan JAUH lebih membutuhkan daripada kita. Mulailah misalnya dari $100, dan insya Allah jumlah ini akan terus bertambah.
Teman-teman, kemampuan untuk melakukan perencanaan secara individual itu sendiri sudah merupakan privilege luar biasa. Itu sebenarnya ingin menunjukkan kalau kita adalah manusia yang independen. Walau sebenarnya hal ini sangatlah salah. Kita tidak pernah independen dan selamanya kita akan bergantung kepada orang lain. Yang sayangnya jarang kita sadari. Namun, jika kita melihat dari satu segi, bahwa kita dapat merencanakan keuangan kita sendiri, itu jarang sekali dimiliki oleh orang lain. Kebanyakan orang hidup tidak menentu, apakah bisa makan apa tidak untuk esok hari. Dalam sebuah masyarakat miskin, perencanaan finansial secara individual menjadi tidak mungkin. Yang mungkin adalah community financial planning. Mereka harus belajar untuk bertahan bersama sebagai sebuah komunitas. Yang mungkin, sayangnya, tidak pernah kita rasakan. Karena itu, lagi-lagi, marilah kita berketetapan untuk memberi. Marilah kita melihat financial planning dari scope yang lebih luas.
Financial planning tidak pernah hanya buat saya saja, namun kiranya financial planning-ku dapat dipakai untuk dunia. Ketika kita berencana, kita tidak berencana untuk diri kita saja, namun untuk dunia. Untuk kita dan orang lain. Bisa? Bisa! =)
Akan datang suatu hari dimana mereka yang membersihkan sampah dapat hidup di lingkungan yang bersih, dimana mereka yang membangun sekolah dapat bersekolah, dimana mereka yang menanam padi dapat makan dengan layak dan sehat. Dan kita dipanggil untuk ambil bagian dalam mengusahakan datangnya hari itu!
the sacred way 03

3. silence and solitude
anecdote
Bagian ini dimulai dengan sebuah cerita dari kawan sang penulis, yang hanya akan saya kutip dan tekankan sebagian:
Our technology-driven world seeks to worship the god of multitasking. We bemoan the added nuisances that technology brings, yet we seemingly can’t live without its benefits. We have, in fact, become slaves to our computers, PDAs, and all things WiFi.
Betapa akuratnya ucapan ini bagi kita yang hidup di kota ini. =) Ironisnya, ketika ia mencoba untuk sejenak keluar dari segala hingar-bingar teknologi ini, yang ia temukan adalah:
All of sudden, I became nervous. What now? What am I supposed to do?
Mungkin begitulah kita sekarang. Orang yang kebingungan jika HP kita mati. Jika komputer kita tidak mau nyala. Beranikah kita mematikan HP dan komputer barang sehari saja? (misal, setiap hari Minggu) Secara tidak langsung, identitas kita sudah ditentukan oleh barang yang kita miliki.
history
Praktik saat hening atau saat sunyi berasal dari apa yang Yesus lakukan sendiri. Ia sering pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Desert Fathers dikenal dengan hidup mereka yang seklusif di padang gurun di Mesir. Pendiri komunitas monastik pertama, Benedict dari Nursia, banyak mendasarkan Rule-nya berdasarkan praktik hening. Berbicara diperbolehkan dengan secukupnya; kata-kata yang tak berguna dan tak bertujuan dilarang. Di sebagian tempat di biara berbicara diperbolehkan, di sebagian tempat lain keheningan total harus diusahakan. Setelah Doa Malam, seluruh biara harus hening sampai doa pagi berikutnya.
theology
Para rahib sendiri mendasari praktik hening dan sunyi ini dari Yesus yang dibawa oleh Roh ke padang gurun selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Dan dari kisah Yesus yang pergi ke ‘tempat yang sunyi’ atau ‘padang gurun’ atau ‘gunung yang tinggi’ atau taman Getsemani. Dan dari sini mereka belajar untuk mengikuti Yesus yang melakukan hal ini. Bagaimana praktek ini menjadi relevan pada jaman ini?
Jaman yang kita hidupi sekarang jauh lebih mengagung-agungkan noise ketimbang silence. Cerita di awal sudah menjadi ilustrasi, pun dengan cerita di bawah ini:
We are awakened by a clock radio; eat breakfast to morning television; drive to school or work with music; talk most of the day to friends, schoolmates, and coworkers; listen to music on the way home; have the TV on while they prepare dinner; eat dinner with the TV on; watch a movie or their favorite show; and fall asleep with music playing.
Namun, jaman yang kita hidupi sekarang juga ditandai dengan semakin banyaknya orang yang depresi dalam hidup mereka. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, namun satu yang dapat kita pelajari:
All the noise and all the talking does not quell a major symptom of this depression—loneliness.
Mungkin disini terletak inti masalahnya. Masalahnya adalah ‘our self-identities are bound up in our busy-ness.’ Kita dilihat sebagai dan diajar untuk menjadi do-er, bukan be-er. Karena itulah, ketika kita tidak do sesuatu, kita kehilangan identitas kita. Karena itu, kita sulit sekali untuk bisa duduk tenang, dengan segalanya hening dan sunyi senyap. Saat itulah kita merasa kehilangan identitas kita. Dan saya jadi ingat pengalaman sakit saya kemarin ini dimana saya sangat tidak nyaman ketika harus beristirahat dan tidak melakukan apa-apa. Namun, justru karena roh jaman seperti inilah, kita harus berjuang untuk membiasakan memiliki saat hening dan sunyi seperti ini. Di saat inilah, kita belajar untuk dapat bilang, saya masihlah saya walau saya tidak melakukan apapun. Walau saya sudah lepas dari apapun yang biasanya saya lakukan. Ketika sudah tidak ada lagi hal yang dapat saya pegang sebagai, ‘Ya, ini yang menentukan saya.’ Karena… di saat seperti inilah kita ‘telanjang’ di hadapan Sang Khalik. Seorang manusia (adam) yang berasal dari tanah (adamah). Saat sunyi dan hening, mungkin dapat kita pandang demikian. Mereka mengingatkan bahwa kita adalah manusia dan Tuhan adalah Tuhan.
practice
Saya sendiri mencoba membedakan antara saat teduh dan saat hening, demi kejelasan istilah dan signifikansinya.
Pertama, saat teduh, yang harian. Pagi setelah bangun dan malam sebelum tidur. Sebelum menjalankan segala aktivitas dan setelah menjalankannya. Memulai dan menutup hari di dalam Tuhan.
Saat hening sendiri saya gunakan untuk waktu-waktu yang disediakan secara spesial dan frekuensinya lebih terbatas. Saat hening adalah saat teduh yang spesial. Namun jelas waktu untuk melakukan hal ini menjadi lebih lama dan hal yang dikerjakan lebih khusus. Praktek yang umum bagi kita adalah retret. Yang biasanya dilaksanakan sekitar setahun sekali.
Saya sendiri ketika berada di tahun terakhir di NTU membiasakan diri untuk memiliki saat hening setiap dua minggu sekali. Tempatnya di tempat olahraganya hall 10, yang harusnya buat orang exercise itu lho. Biasanya saya hanya duduk diam saja disana. Melihat bintang-bintang di langit. Dan, ya, duduk diam. Duduk, liatin pohon-pohon, dan bintang-bintang. Sekitar 30 menit begitu, lalu ditutup dengan doa. Atau, dengan melantukan pujian bagi Sang Khalik.
Mengenai praktiknya, saya pikir kemungkinan ekspresinya luar biasa luas. Teman-teman pasti bisa menemukan dan mencoba cara-cara yang pas buat teman-teman. Bagaimana dengan mematikan HP dan komputer sehari setiap minggu? Kita yang tinggal di Singapura juga diberkati dengan adanya taman-taman yang sangat kondusif untuk melakukan saat hening. Seperti di Chinese Garden dan Botanical Garden. Cukup membawa Alkitab kesana dan kita bisa retret kecil-kecilan selama setengah hari atau satu hari penuh.
Bagaimana? Begitu banyak bukan kemungkinan ekspresi bersaat hening? Bagaimana kalau kita mulai mendisiplinkan diri untuk meluangkan waktu-waktu khusus untuk bersaat hening? =)





leave a comment