Justice for the poor
they tread the winepresses, but suffer thirst. (Job 24:11b)
Ayat di atas berada dalam konteks hal-hal yang terjadi pada kaum miskin. Salah satunya: they tread the winepresses, but suffer thirst. Yang dalam terjemahan bahasa Indonesia (ITB) menjadi: mereka menginjak-injak tempat pengirikan sambil kehausan. Yang saya pikir sedikit kehilangan makna aslinya. Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) saya pikir sangatlah baik:
Dari zaitun ia membuat minyak dan dari buah anggur, minuman, tetapi ia sendiri sangat kehausan. (Ayub 24:11)
Dari buah anggur, ia membuat minuman, tetapi ia sendiri sangat kehausan.
Bagaimana dengan sekarang?
Mereka yang menanam padi, namun mereka sendiri kelaparan.
Mereka yang membangun rumah, namun mereka sendiri kepanasan.
Mereka yang membangun sekolah, namun mereka sendiri tidak sekolah.
Mereka yang menjahit pakaian, namun mereka sendiri telanjang.
Mereka yang membersihkan lingkungan kita, namun mereka sendiri hidup dalam lingkungan yang kumuh.
Adilkah dunia? Adilkah kita?
Perumpaan talenta
Hari Sabtu kemarin kami di persekutuan pemuda gereja presbyterian di Bukit Batok melakukan pendalaman Alkitab dari Matius 25:14-30. Tentang perumpamaan talenta. Seperti biasa, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, lalu kami akan berusaha menjawab beberapa pertanyaan pembantu yang sudah disiapkan tim pemuda sebelumnya. Pengen sedikit komentar saja mengenai masalah-masalah yang biasanya terjadi dalam sebuah pendalaman Alkitab lewat contoh pengalaman Sabtu kemarin. =)
Memang harus diakui, tendensi kita dalam mendalami Alkitab adalah mencari interpretasi dan aplikasi teks terhadap kondisi kontemporer. Apa yah artinya buat saya? Kalaupun pertanyaannya tidak se-eksplisit itu, pada prakteknya secara sederhana kita menjalankan pertanyaan itu, walau kita tetap bersikeras bahwa kita mencari interpretasi yang asli. Saya pikir tendensi ini sangat wajar. Segala latar belakang kita sendiri akan berpengaruh terhadap cara kita menghadapi suatu teks. Dan ini sangat sulit dihindari. Tapi, minimal, kita bisa memulai dengan bertanya: Apa ya arti perikop ini bagi pendengar asli-nya? Misal, untuk teks ini. Apa ya arti perikop ini bagi para pembacanya di abad pertama? Apa ya arti perikop ini bagi orang Israel di abad pertama? Mari mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Tentunya, ini bukan bearti kita meniadakan aplikasi kontemporer. Aplikasi kontemporer itu saya pikir akan datang dengan sendirinya begitu kita menggali teks ini seturut fungsi dan makna aslinya. Justru dengan melakukan hal ini, saya pikir kita akan mendapatkan aplikasi kontemporer yang lebih kaya ketimbang biasanya. =)
Lebih spesifik lag, kita bisa memulai dengan bertanyai: apa ya arti kata-kata di perikop ini bagi pembaca aslinya? Apa ya arti frase ini bagi orang Israel di abad pertama?
Mari kita lihat contohnya. Dari perikop ini. Yang dimulai dengan:
“Sebab hal Kerajaan Sorga seperti…”
Jreng jreng jreng. Kerajaan Sorga. Apa arti frase ini? Saya yakin, konsep kontemporer sangatlah jauh berbeda dengan konsep di abad pertama! Apa yang saudara bayangkan jika saudara mendengar frase ‘Kerajaan Sorga’? Kemungkinan besar, kehidupan setelah mati dan segala ekspresi yang berkaitan dengan hal ini. Yang pada abad pertama secara sederhana cuma berarti ‘Allah berkuasa.’ Itu berarti, bukan Nebukadnezar yang berkuasa, bukan Cyrus yang berkuasa, bukan Alexander, bukan Caesar. Apalagi Herodes. Namun YHWH. YHWH berkuasa. Lagi. Setelah umat Israel mengalami berbagai macam pembuangan dan penjajahan. Yang mereka nantikan cuma satu. YHWH berkuasa. Namun, apa yang terjadi? Sekarang bukan YHWH yang berkuasa. Karena itu, mereka menantikan ‘kerajaan Allah.’ (Markus, Lukas) Yang oleh Matius disesuaikan menjadi ‘kerajaan sorga.’ Tentunya, aspek ‘Allah berkuasa’ ini sangatlah luas, karena itu banyak sekali perumpamaan mengenai kerajaan Allah. Kerajaan Allah seperti ini. Kerajaan Allah seperti itu. Atau, tentang bagaimana kerajaan Allah ini akan datang. Yang menjadi perdebatan tersendiri di antara orang Israel. Ada yang dengan pemberontakan, lah. Ada yang dengan pengucilan diri, lah. Ada yang dengan Torah, lah. Dan dimana di tengah perdebatan tersebut, Yesus menawarkan caranya tersendiri. Apakah perumpamaan ini ingin mengajarkan tentang bagaimana kerajaan Allah ini akan datang? Mungkin iya, mungkin tidak. Kalau tidak, bearti perumpamaan ini mengajarkan tentang aspek ‘datangnya kerajaan Allah’ yang lain. Entah apa, yang untuk mendapatkan jawabannya, kita harus menekuni teks ini. Tapi, minimal, aspek sentral ini, Allah berkuasa, harus ada. Dan aspek ini akan menjadi pedoman kita pula dalam mengartikan setiap perumpamaan yang ada. Harus selalu terjadi check and balance antara teks dengan konsep ini.
Ini baru mengenai frase ‘kerajaan Sorga.’ Belum frase-frase lain yang sudah berubah maknanya seiring dengan perkembangan jaman dan perbedaan tempat. Talenta. Kegelapan yang paling gelap, dimana terdapat ratap dan kertak gigi. Dan seterusnya.
Satu masalah lain yang biasanya muncul adalah jika ‘arti’ teks yang kita temukan berbeda dengan latar belakang teologis kita. Sebagai contoh, seorang Calvinis yang membaca perumpamaan ini, dan mengartikannya bahwa keselamatan seseorang tergantung kesetiaannya dan bisa hilang, bisa bingung setengah mati ketika menyadari hal ini. Untuk masalah ini, setidaknya ada tiga kemungkinan yang dapat kita lihat. Pertama, perumpamaannya sendiri belum tentu berbicara mengenai keselamatan. Kedua, memang perumpamaannya berbicara mengenai keselamatan, hanya saja kesimpulan orang ini salah. Ketiga, memang perumpamaannya berbicara mengenai keselamatan dan kesimpulan orang ini benar. Sayangnya, kemungkinan pertama jarang sekali dilihat.
Masalah lain yang bisa muncul adalah jika arti yang bertentangan ini ditemukan di dalam teks itu sendiri. Misalnya, seluruh pemahaman kita mengenai talenta dari ayat 14-29 itu sudah koheren, namun sayangnya tidak cocok dengan ayat 30. Kalau begini, kemungkinannya juga banyak. Bisa arti talenta kita yang salah. Bisa arti ‘kegelapan yang paling gelap’ kita yang salah. Dan bisa dua-duanya yang salah. Dan, kali ini, biasanya kemungkinan terakhir jarang sekali diperhitungkan.
Pada akhirnya, kita juga harus mempelajari dan mengerti tipe literatur yang berkembang saat itu dan artinya pada masa itu. Sebagai contoh, kita sekarang berhadapan dengan sebuah teks bertipe naratif, perumpamaan, eskatologis. Nah, konsep perumpamaan dan eskatologis itu sendiri mungkin beda arti dan fungsinya dengan apa yang kita pahami sekarang sebagai ‘perumpamaan’ dan ‘eskatologis’!
Prince Caspian trailer
Trailer-nya Prince Caspian bisa ditonton di sini.

* Watch Prince Caspian trailer *
Tambahan: HighDefinition (HD) itu jenis data baru ya? Komputerku tidak kuat muter yang HD1080 sama HD720. Kuatnya cuma yang HD480. -____-”





1 komentar