Takjub oleh Anugerah

Matius 1:1-17 (VII – selesai)

Ditulis dalam Alkitab oleh septian pada 2 Desember 2007

Penutup seri Matius 1:1-17.

7. Yesus yang disebut Kristus.

Adalah penting untuk mengetahui tema besar, metanaratif, kerangka umum suatu karya tulis. Kita bisa memulai untuk mencoba mengartikan suatu teks jika kita menghadapinya dengan cara pandang yang tepat. Dengan intensi penulis mula-mula. Yang mungkin berkaitan erat dengan audiens yang ingin ia jangkau. Yang diharapkan akan membaca tulisannya.

Sekilas saja mengenai buku yang ditulis oleh Matius ini. Waktu penulisan buku ini tidak diketahui dengan pasti. Ada yang berpendapat bahwa buku ini ditulis sebelum kejatuhan Yerusalem di tahun 70. Ada yang berpendapat sebaliknya. Proses penyusunan buku ini pun tidak diketahui dengan pasti. Ada yang berpendapat kalau Matius pasti menggunakan buku yang ditulis oleh Markus dalam proses penulisannya. Ada yang berpendapat kalau Matius, dan Lukas, menggunakan satu dokumen lain yang kita tidak miliki sekarang yang secara sederhana disebut Q. Dan ada lagi yang berpendapat kalau Matius memiliki referensi spesial tersendiri yang tidak dimiliki Markus, Lukas, dan Yohanes, yang secara sederhana disebut M atau Special Matthew. Bahkan penulisnya pun tidak diketahui dengan pasti. Walau tradisi terawal gereja dengan jelas menyebutkan bahwa Rasul Matius adalah penulis kitab ini. (saya lupa pastinya di dokumen mana, namun saudara bisa memulai dari Apostolic Fathers dan Historia Ecclesiastica) Saya sendiri pernah menulis sebelumnya bahwa setidaknya penulis Injil menurut Matius memiliki pengetahuan yang lebih tentang Rasul Matius ketimbang penulis Injil menurut Markus dan Lukas. (bdk. Mat 9:9, Mrk 2:14, Luk 5:27; Mat 10:2-4, Mrk 3:16-19, Luk 6:13-16)

Pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul adalah: Untuk siapa Matius menulis buku ini? Untuk tujuan apa Matius menulis buku ini? Apa yang Matius ingin sampaikan melalui buku ini? Saya pikir, cukup naif jikalau kita berkata bahwa Matius hanya ingin menyajikan biografi Yesus saja. Lukas dengan jelas menuliskan intensinya dalam menulis bukunya (Luk 1:1-4) dan tidak ada alasan untuk tidak berpikir bahwa Matius pun memiliki intensinya tersendiri dalam menulis bukunya.

Kemudian, saya pikir cukup aman untuk mengatakan bahwa kita bisa mengetahui tema besar, kerangka umum suatu karya tulis dari awal tulisan ini. Yang sangat lumrah terjadi saat ini dalam bentuk prakata dalam sebuah buku atau abstrak dalam sebuah karya ilmiah. Yang, semoga, juga merupakan hal yang lumrah terjadi di ilmu literatur di abad pertama. Lagi-lagi, Markus, Lukas, dan Yohanes memberi contoh yang cukup eksplisit. “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” (Mrk 1:1 ff) “Teofilus yang mulia, …” (Luk 1:1 ff) “Pada mulanya adalah Firman; …” (Yoh 1:1 ff) Bagaimana dengan Matius?

Matius membuka dengan: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” (Mat 1:1) Biblos geneseos Iesou Christou, uhiou David, uhiou Abraam. Buku silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Dari sini saja sebenarnya kita sudah bisa mendapatkan beberapa ide mengenai buku yang ditulis oleh Matius ini. Buku tentang seorang yang bernama Yesus. Ia anak Daud. Ia anak Abraham. Ia, setidaknya menurut Matius, adalah Kristus. Walau ternyata kalimat ini pada akhirnya tidak mungkin berdiri sendiri. Oleh karena ada sebuah kata yang bernama geneseos. Silsilah. Jelas Matius menginginkan kita untuk dengan serius membaca silsilah orang yang bernama Yesus ini. (bandingkan dengan Markus yang serupa tapi tak sama: Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.) Yang pasti untuk tujuan tertentu. Jadi, silsilah Yesus yang sekarang kita miliki dari ayat 1-17 ini harus dibaca secara keseluruhan. Demi mendapatkan kerangka umum kitab yang ditulis oleh Matius ini.

Sekarang, mengenai silsilah. Perlu ditekankan bahwa salah satu tujuan ditulisnya silsilah adalah untuk menunjukkan klaim historis garis keturunan seseorang dan klaim historis keberadaan orang itu sendiri. Jadi dari silsilah ini secara sederhana kita bisa yakin bahwa 1) Yesus ada dan 2) Yesus sungguh-sungguh keturunan Daud dan Abraham. Klaim lain yang menginterpretasi signifikansi hal ini perlu dilihat dari bagaimana Matius menulis silsilah ini. Dengan kata lain begini. OK Yesus ini keturunan Daud dan Abraham, namun, so what? Kira-kira begitu. Untuk ’so what’ nya ini kita perlu mengartikan bagaimana Matius menulis silsilah ini. Walau tentunya orang bisa mengartikan banyak hal lah, dari fakta bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan Abraham saja. Orang bisa langsung mengartikan bahwa: wah, Yesus adalah Mesias kalau begitu! Kesimpulan ini sangat wajar sekali, karena tentunya orang ingin menemukan jawaban dari klaim Matius bahwa Yesus, anak Daud, anak Abraham adalah Mesias atau Kristus. Dan dengan melihat bahwa Yesus adalah memang anak Daud dan anak Abraham, kita pun langsung meloncat kepada kesimpulan ini! Yang saya pikir, tidak adil kepada data yang melimpah-limpah yang kita punyai dalam silsilah ini. Data yang saya maksud adalah detil bagaimana silsilah ini ditulis. Silsilah ini ternyata tidak ditulis dengan nada yang stagnan. Bayangkan Matius menulis silsilah Yesus ini dengan A memperanakkan B, B memperanakkan C, C …., dst sampai Y memperanakkan Z. Tidak demikian. Apakah Matius bisa menulis dengan cara demikian? Sangat bisa, menurut saya. Jika tujuannya hanya untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah anak Daud dan anak Abraham. Dan jika dengan menunjukkan hal ini maka sudah cukup untuk menjawab klaim Yesus adalah Mesias. Namun, ternyata tidak demikian. Silsilah Yesus tidak sesederhana itu. Banyak intrik-intrik yang mengisi silsilah ini yang seharusnya kita perhatikan baik-baik. Dan kalau ditanya mengapa Matius menulis dengan cara demikian, saya pikir jawabannya memang untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias dengan detil-detil yang ada.

Kesimpulan mengenai silsilah. Saya akan menggunakan bahasa matematika untuk melukiskan hal ini. Silsilahnya sendiri, yang menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan Abraham, adalah syarat perlu untuk klaim Yesus adalah Mesias. Namun, syarat perlu ini tidak cukup untuk menunjukkan hal ini. Syarat cukup-nya sendiri dipenuhi oleh bagaimana silsilah ini ditulis.

Sayangnya, sayangnya, bagian ini adalah bagian yang paling jarang ditekuni dalam membaca kitab Matius. Tidak ada yang peduli bagaimana silsilah ini ditulis. Yang penting adalah, Yesus ini keturunan Daud dan keturunan Abraham. Cukup lah! Saya pun demikian. Mungkin sudah empat-lima kali saya membaca silsilah ini. Dan selalu dengan sikap yang tak sabar ingin menyelesaikan bagian ini. Tentunya kisah kelahiran (genesis) Yesus lebih menarik dari silsilah seperti ini! Dan dengan sikap yang demikian, saya, atau kita, kehilangan harga yang sangat berharga yang sebenarnya dapat ditemukan dengan mudah jika kita mau meluangkan sedikit waktu saja untuk menekuni silsilah ini. Dengan demikian, marilah kita mulai menganalisa silsilah ini. Jikalau kita berhasil, mungkin kita bisa memahami buku Matius ini secara keseluruhan dengan lebih baik.

Dan analisa silsilah ini dapat ditemukan, sayangnya masih secara terpecah-pecah dan saya masih berencana untuk mengintegrasikan ide yang ditemukan, pada tulisan-tulisan sebelumnya di seri ini. (dari bagian I sampai VI)

Ditandai sebagai: